Beranda » Agama di Era Post-Antroposen: Alarm Moral dari Kota Ruteng
ISTANA NETIZEN.COM– Pengukuhan Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, sebagai Guru Besar di Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng, Rabu, 7 Mei 2026, berubah menjadi refleksi publik tentang masa depan agama di tengah gempuran teknologi, kapital, dan logika pasar.
Dalam pidato pengukuhannya bertema _“Meneropong Agama di Era Post-Antroposen: Kajian Sosiologi Agama dan Multikulturalisme”_, Uskup Maks Regus menyoroti posisi agama yang semakin terpinggirkan meski simbol dan ritualnya masih terlihat di ruang publik.

“Di manakah posisi agama ketika kehidupan manusia semakin ditentukan oleh teknologi, kapital, dan logika pasar? Apakah agama hanya tersisa sebagai simbol tanpa daya transformasi?” tulis Benny K. Harman dalam akun Facebooknya tertanggal (7/5/2026) sebagai opini yang dirilis untuk https://istananetizen.com.
Agama Hadir Formal, Tapi Kehilangan Daya Kritis
Benny menilai, dunia saat ini hidup dalam paradoks. Rumah ibadah berdiri, ritual berjalan, simbol keagamaan bahkan semakin terlihat. Namun pengaruh substantif agama terhadap cara manusia berpikir dan bertindak justru melemah.
“Agama tidak dihapus, tetapi dipinggirkan, dimarginalkan,” ujarnya.
Konsep _post-antroposen_ yang diangkat Uskup Maks Regus menandai perubahan besar cara manusia memandang dirinya. Jika di era antroposen manusia dianggap pusat penentu kehidupan di bumi, maka di era post-antroposen dominasi itu mulai dipertanyakan.
Teknologi, algoritma, dan kecerdasan buatan kini tidak hanya membaca tetapi membentuk preferensi dan keputusan manusia. Sementara krisis ekologis menunjukkan dampak eksploitasi tanpa batas.
Kapitalisme Reduksi Manusia Jadi Konsumen
Tantangan terbesar lain, menurut Benny, adalah dominasi kapitalisme yang sudah melampaui fungsi ekonomi. Nilai pasar kini mengatur cara manusia memahami kebahagiaan, kesuksesan, bahkan identitas diri.
“Manusia cenderung direduksi menjadi konsumen. Nilai diukur dari daya beli. Relasi sosial pun semakin bersifat transaksional,” tulisnya.
Dalam kondisi ini, agama menghadapi marginalisasi struktural. Ia tidak diserang langsung, tetapi dibuat tidak relevan dalam praktik sehari-hari. Lebih parah, agama sendiri kerap kehilangan daya kritis dan terjebak dalam rutinitas simbolik.
“Ketika ketimpangan sosial semakin tajam, suara agama tidak selalu terdengar kuat. Ketika korupsi merajalela, aura agama terdengar sayup-sayup,” tegas Benny.
Labuan Bajo Jadi Ujian Multikulturalisme
Pengukuhan Uskup Maks Regus dinilai strategis karena ia memimpin Labuan Bajo, calon kota global yang multikultural. Di wilayah ini, agama tidak hanya berfungsi sebagai sistem keyakinan, tetapi juga identitas sosial dan politik.
“Agama memiliki potensi ganda: sebagai perekat sekaligus pemecah. Ia dapat memperkuat solidaritas, tetapi juga berisiko menjadi alat eksklusi jika tidak dikelola dengan bijak,” jelas Benny.
Ia menekankan pentingnya peran akademisi yang juga pemimpin agama untuk menjembatani dunia nilai dan realitas sosial. Suara dari Kota Ruteng, yang kerap disebut menghadapi persoalan sosial berat termasuk kasus bunuh diri, disebutnya sebagai _wake up call_ bagi dunia.
Agama Harus Kembali ke Fungsi Profetik
Pertanyaan mendasar yang muncul, menurut Benny, adalah: masih adakah peran agama di era post-antroposen?
“Jawabannya bergantung pada kemampuan agama untuk melakukan refleksi dan transformasi. Agama perlu kembali pada fungsi profetiknya sebagai suara moral yang mengingatkan batas-batas etis dari kekuasaan, teknologi, dan pasar,” tulisnya.
Ia menutup opini dengan ucapan selamat untuk Uskup Profesor Maks Regus.

“Pidato pengukuhan ini mengingatkan kita bahwa dunia sedang mengalami perubahan besar yang tidak hanya teknologis dan ekonomis, tetapi juga moral dan kultural. Jika agama tidak mampu memberi makna, kita berisiko membangun masyarakat yang maju secara materi, tetapi kehilangan arah secara nilai,” pungkasnya.
Penulis/ Editor : Tim Redaksi Media Istana Netizen Com.
Copyright © 2025 ISTANANETIZEN.COM. All Rights Reserved - Created by PT Rumah Media Cyber.