Beranda » DPRD Mabar Pertanyakan Rantai Pasok Pariwisata: Petani Belum Nikmati Cuan dari Piring Wisatawan Labuan Bajo
ISTANA NETIZEN.com – Labuan, Bajo, Manggarai Barat, Minggu 31 Mei, 2026.
Anggota DPRD Kabupaten Manggarai Barat dari Fraksi Gerindra, Kanisius Jehabut, kembali mempertanyakan keterhubungan petani lokal dengan industri pariwisata Labuan Bajo. Pertanyaan itu ia angkat dalam tulisan reflektif yang disampaikan kepada https://istananetizen.com, Sabtu 30 Mei 2026.
Hotel dan Restoran Tumbuh, Tapi dari Mana Bahan Makannya?
Dalam tulisan bertajuk _“Dari Paradoks Indonesia ke Paradoks Labuan Bajo”_, Kanisius mengajukan pertanyaan sederhana namun mendasar: apakah petani Manggarai Barat sudah tersambung dengan hotel dan restoran?

“Labuan Bajo hari ini sudah menjadi destinasi pariwisata dunia. Hotel bertumbuh. Restoran bertambah. Kapal wisata bergerak setiap hari. Wisatawan datang, makan, menginap, dan menikmati seluruh pesona alam Manggarai Barat,” tulis Kanisius.
Namun ia menegaskan, pertanyaan penting yang harus dijawab adalah asal bahan makanan yang dikonsumsi di hotel dan restoran. Apakah beras, sayur, buah, telur, daging, ikan, kopi, dan pangan lokal lain berasal dari petani dan nelayan Manggarai Barat, atau sebagian besar masih didatangkan dari luar daerah?
Sektor Pertanian Dominan, Tapi Belum Jadi Pemasok Utama Wisata
Kanisius mengutip data BPS yang menyebut struktur ekonomi Manggarai Barat tahun 2024 masih didominasi sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 37,79 persen dari PDRB. Artinya, tulang punggung ekonomi rakyat masih berada di sektor pertanian, perikanan, dan sumber daya lokal.
Di sisi lain, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum adalah wajah langsung pariwisata. Di sektor itulah wisatawan membelanjakan uangnya. Namun jika kebutuhan hotel dan restoran tidak tersambung dengan produksi petani lokal, pariwisata hanya menjadi panggung konsumsi, bukan mesin kesejahteraan rakyat.
Paradoks Labuan Bajo: Wisata Kelas Dunia, Petani Tak Punya Pasar Pasti
“Di sinilah letak paradoks Labuan Bajo,” tegas Kanisius. Daerah ini menyandang status pariwisata kelas dunia, tetapi petani lokal belum tentu menjadi bagian utama dari rantai pasok pariwisata.
Ia menilai, jika hotel dan restoran tumbuh tetapi petani tetap menjual hasil dengan harga rendah, tanpa kontrak, tanpa kepastian pasar, dan tanpa standar pembelian jelas, maka nilai tambah pariwisata akan bocor keluar dari Manggarai Barat.
Jawab dengan Kebijakan, Bukan Slogan
Menurut Kanisius, pertanyaan soal keterhubungan petani dengan hotel dan restoran harus dijawab dengan kebijakan, bukan sekadar slogan.
Pemerintah daerah perlu membangun data kebutuhan pangan hotel dan restoran: berapa ton beras, berapa kilogram sayur, buah, telur, daging, ikan, kopi, dan produk lokal yang dikonsumsi sektor pariwisata setiap bulan. Data itu harus dipertemukan dengan data produksi petani lokal per kecamatan.
Dari situ akan terlihat komoditas yang sudah bisa dipenuhi dari dalam daerah, yang belum cukup, dan yang perlu diperkuat lewat pembinaan petani, koperasi, BUMDes, BUMD, serta pelaku UMKM pangan lokal.
Dorong Jembatan Kelembagaan untuk Rantai Pasok Lokal
Kanisius berpandangan Manggarai Barat perlu membangun sistem rantai pasok pangan lokal untuk pariwisata. Petani tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri, dan hotel-restoran tidak bisa hanya disalahkan.
“Yang dibutuhkan adalah jembatan kelembagaan: koperasi, BUMDes, BUMD, offtaker, pasar induk pangan lokal, sistem logistik, standar kualitas, kepastian harga, dan kontrak pembelian,” ujarnya.
Ia menegaskan, pariwisata yang sehat bukan hanya soal jumlah wisatawan. Pariwisata yang sehat adalah pariwisata yang mampu menggerakkan sawah, kebun, kandang, laut, dapur UMKM, dan pasar rakyat.
Jangan Biarkan Labuan Bajo Jadi Panggung Kemewahan Tanpa Kesejahteraan
“Jika petani Manggarai Barat tersambung dengan hotel dan restoran, maka setiap piring makanan wisatawan akan menjadi jalan kesejahteraan bagi rakyat. Tetapi jika tidak, maka Labuan Bajo hanya akan menjadi tempat orang makan, sementara nilai ekonominya mengalir keluar,” kata Kanisius.
Ia menutup dengan menegaskan tugas besar bersama: menjadikan Labuan Bajo bukan hanya panggung kemewahan, tetapi lokomotif kesejahteraan rakyat Manggarai Barat.
Penulis/ Editor: Tim Redaksi Istana Netizen Com
Copyright © 2025 ISTANANETIZEN.COM. All Rights Reserved - Created by PT Rumah Media Cyber.