Beranda » Agus: Rekam Jejak Prabowo sebagai Komandan Kopassus di Tengah Badai Reformasi 1998
ISTANA NETIZEN.COM – Sejarah mencatat, 21 Mei 1998 menjadi titik balik sejarah Indonesia. Setelah 32 tahun berkuasa, Presiden Soeharto resmi mengundurkan diri dari Istana Merdeka. Orde Baru berakhir di tengah gejolak politik, krisis ekonomi, dan gelombang demonstrasi yang tak terbendung.
Di tengah momen itu, nama Prabowo Subianto yang kini menjabat Presiden RI turut tercatat. “Saat itu, Prabowo adalah perwira tinggi muda berprestasi, Komandan Grup Pasukan Khusus Kopassus berpangkat Kolonel,” tulis Agus dalam opininya, Rabu 20 Mei 2026.

Prabowo Subianto perwira tinggi muda berprestasi, Komandan Grup Pasukan Khusus Kopassus berpangkat Kolonel
Sebagai komandan pasukan elite, ia memegang peran vital dalam struktur pertahanan negara. Kedekatannya dengan lingkaran kekuasaan juga menjadi sorotan karena ia merupakan menantu Soeharto.
Situasi memanas sejak awal Mei 1998. Mahasiswa dari berbagai kampus turun ke jalan membawa enam tuntutan: mengadili Soeharto dan kroninya, amandemen UUD 1945, otonomi daerah, penghapusan dwifungsi ABRI, pemberantasan KKN, dan penegakan supremasi hukum.
Saat Soeharto bertolak ke Mesir untuk KTT G-15 pada 9–15 Mei, kondisi dalam negeri memburuk. “Tragedi Trisakti 12 Mei memicu kerusuhan besar 13–15 Mei di Jakarta dan sejumlah kota lain. Ribuan bangunan terbakar, ratusan kendaraan hancur, dan korban jiwa berjatuhan. Ekonomi ambruk, rupiah anjlok ke Rp17.000 per dolar AS, inflasi melonjak 70 persen,” tulis Agus.
Di tengah kekacauan, Kolonel Prabowo menjadi salah satu tokoh militer paling disorot. Ia berupaya menstabilkan situasi dan tampil mendukung Soeharto, meski arus perubahan sudah terlalu deras. Posisi strategis dan kedekatannya dengan presiden membuat namanya menjadi pusat perhatian publik saat banyak petinggi negara mulai mundur.
Soeharto mempersingkat kunjungan dan kembali ke Jakarta 15 Mei pagi. Ia memanggil petinggi militer, termasuk Prabowo, dan merancang komando keamanan baru serta perombakan kabinet. Namun langkah itu tak lagi mampu menahan arus reformasi.
Tekanan memuncak ketika Ketua DPR/MPR Harmoko berbalik menyerukan agar Soeharto mundur. Setelah 14 menteri menolak masuk kabinet baru pada 20 Mei malam, dukungan politik dan militer semakin melemah.
“Pagi 21 Mei 1998 pukul 09.00 WIB, Soeharto membacakan surat pengunduran diri. Kekuasaan beralih ke Wakil Presiden B.J. Habibie. Era Reformasi dimulai,” tulis Agus.
Menurutnya, peran Prabowo sebagai Komandan Kopassus pada masa genting itu kini menjadi bagian tak terpisahkan dari rekam jejak sejarah perjalanan bangsa.
Penulis/ Editor: Tim Redaksi Istana Netizen Com
Copyright © 2025 ISTANANETIZEN.COM. All Rights Reserved - Created by PT Rumah Media Cyber.
Copyright © 2025 ISTANANETIZEN.COM. All Rights Reserved - Created by PT Rumah Media Cyber.