BEKASI, MEDIA ISTANANETIZEN COM – Selasa, 27 Oktober 202

Wacana Provinsi Kepulauan Flores (PKF) pemekaran wilayah administratif pemerintahan Provinsi NTT yang kian kuat diperjuangkan oleh P4KF (Panitia Persiapan Pembentukan Provinsi Kepulauan Flores) sejak 2013-saat ini sebagai kelanjutan perjuangan babak pertama sejak 1954, atau sejak 10 tahun pasca Indonesia Merdeka hingga 2003, dan dilanjutkan dalam perjuangan babak kedua atau babak baru dibawah Panji P4KF sejak 2013-72 tahun saat ini, selalu dihantam pertanyaan Jakarta: “APBD dari mana? Mau jadi provinsi peminta-minta?”
Pemikir Flores Diaspora Bekasi, Yus Djuang S.Fil dari Warung Kopi Radar Halim, menjawab telak lewat Makalah FLORES GEOTHERMAL ISLAND MANDIRI (FGIM).
Judulnya menohok: TIDAK MENJUAL GUNUNG, TAPI MENYEWAKAN ENERGINYA.
Faktanya Mencengangkan:
– Flores ditetapkan sebagai Pulau Panas Bumi lewat Kepmen ESDM No.2268K/30/MEM/2017.
– Potensi: 902 MW di 16 titik WKP. Yang nyala baru 18,5 MW (2,05%) – Ulumbu, Sokoria, Mataloko.
– Sisa 883,5 MW tidur! Kalau nyala semua, nilai listriknya Rp 13,5 Triliun per tahun!
– Kopi Bajawa dijual petani Rp 30.000/kg green bean, tapi setelah di-roasting di Jakarta dijual Rp 700.000/kg. Rugi 23 kali lipat! Flores jual mentah, orang lain nikmati matang.
Selama ini PAD 9 kabupaten di Flores di bawah Rp 200 Miliar dan 80% APBD tergantung DAU pusat. Kenapa? Karena Flores salah jual.
Konsep FGIM – 3 PILAR MANDIRI:
PILAR 1: BUMD Energi Flores – Bukan Investor Kuasa
Saham 51% Provinsi, 10% Desa Adat, 39% investor. Investor dilarang miliki tanah, hanya sewa WKP 30 tahun. Listrik tidak dijual murah ke PLN, tapi untuk industri olahan Flores sendiri.
PILAR 2: Klasterisasi Berbasis Energi
– Klaster Barat (Manggarai Raya) 350 MW: Lumbung Kopi & Kakao Dunia – 50 pabrik sangrai – Target PAD Rp 500 Miliar
– Klaster Tengah (Ende-Ngada) 300 MW: Lumbung Pangan & Tenun + Politeknik Geothermal Ende – Target PAD Rp 400 Miliar
– Klaster Timur (Sikka-Flotim-Lembata) 252 MW: Lumbung Ikan & Garam – Pabrik es, abon ikan – Target PAD Rp 300 Miliar
Total PAD Energi + Olahan: Rp 1,2 Triliun/tahun
PILAR 3: SDM Vokasi Geothermal – Bukan Sarjana Umum
Dirikan 3 Politeknik Vokasi: Geothermal di Ende, Kopi & Kakao di Bajawa, Kelautan di Maumere. Lulusan langsung kerja di PLTP, tidak jadi TKI.
Roadmap 10 Tahun: Dari Minta Jadi Memberi
– Tahun 1-2: Perda No.1 Kepemilikan Energi + BUMD berdiri
– Tahun 3-4: Nyalakan 100 MW pertama (Nage, Wae Sano, Mataloko)
– Tahun 5-6: Larangan Ekspor Mentah Flores – Wajib olah di Flores
– Tahun 7-8: Go Internasional – Jual Carbon Credit, Kopi Geothermal (First in The World), Wisata Edukasi Energi
– Tahun 9-10: *PAD Mandiri Rp 2,2 Triliun – Kemandirian 80% – Flores transfer ke negara, bukan minta ke negara!
Filosofi Penutup yang Dalam:

Seperti Tiwu Telu Kelimutu – tiga warna, satu gunung. Tritunggal – tiga pribadi, satu Allah. Pembangunan Flores: banyak kabupaten, satu energi.
Jangan jual gunungnya. Sewakan uapnya. Gunung tetap milik nenek moyang, uapnya untuk cucu cicit.
Ini bukan sekadar pemekaran. Ini adalah model pertama di Indonesia – provinsi mandiri karena menyewakan energi, bukan menjual tanah.
—











