RUTENG, Media Istana Netizen Com – Pertanyaan paling jujur dalam perjuangan Provinsi Kepulauan Flores (PKF) selama 13 tahun akhirnya harus dijawab terbuka: Bagaimana jika Gubernur NTT tidak mau tanda tangan?
Jawabannya pahit, tapi itulah bunyi Undang-Undang.
UU No.23 Tahun 2014 Pasal 38 Ayat (1) adalah kuburan bagi PKF jika Gubernur NTT menolak.
Pasal itu tidak mengenal istilah dukungan masyarakat, desakan bupati, atau demonstrasi ribuan mahasiswa. Pasal itu hanya mengenal satu tanda tangan: Gubernur Nusa Tenggara Timur.
Bunyinya jelas:
_”Pembentukan Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) diusulkan oleh gubernur kepada Pemerintah Pusat…”_
Artinya:
Jika Gubernur NTT tidak mengusulkan ke Presiden, DPR RI dan DPD RI, maka berkas PKF tidak akan pernah terdaftar di Kemendagri. Mimpi 9 kabupaten se-daratan Flores dan Lembata untuk berpisah dari Kupang akan mati di meja Gubernur di Kupang, bukan mati di meja Presiden di Jakarta.
Gubernur Punya Hak Veto Yang Sah
Lebih kejam lagi, Penjelasan Pasal 38 Ayat (1) memberi hak kepada Gubernur untuk melakukan verifikasi ulang dan memutuskan jadi atau tidaknya usulan itu diteruskan ke Pusat.
Secara hukum, Gubernur NTT berhak menolak. Jika itu terjadi, maka perjuangan yang sudah dibangun P4KF sejak Kongres I di Bajawa-Ngada 25 Februari 2014 dan Kongres II di Mbay-Nagekeo 20 Maret 2015, semua gugur.
Kenapa P4KF Kejar Tanda Tangan Sejak 2013-2022 ?
Sekretariat Bersama P4KF di Ruteng menegaskan, inilah alasan mengapa pada sejak tahun 2022 mereka mati-matian mengunci Pasal 37.
– 25 Mei 2022: Surat No.167/SEKBERP4KF/RTG/MGR/V/2022 resmi diterima SETDA NTT.
– 17 Oktober 2022: Surat resmi diterima Ketua DPRD NTT, Ir. Emi Nomleni.
– Juni-Oktober 2022: 12 DPW Partai Politik di NTT (PSI, PPP, PKS, PDIP dan 8 lainnya) serahkan dukungan tertulis ke Gubernur dan DPRD NTT.
“Semua itu kami lakukan agar Gubernur NTT tidak punya alasan hukum untuk menolak. Syarat Pasal 37 soal persetujuan 9 Bupati dan 9 DPRD sudah kami penuhi. Sekarang tinggal keberanian politik Gubernur untuk melaksanakan amanat Pasal 38 Ayat 1,” tegas Korwil P4KF Kupang.
P4KF mengingatkan, nasib PKF kini bukan di Jakarta. Moratorium DOB memang masih ada, tapi moratorium itu akan dibuka untuk provinsi yang berkasnya sudah lengkap di Kemendagri.
Sementara berkas PKF belum bisa lengkap tanpa Surat Usulan Gubernur NTT.
Jika surat itu tidak ada, maka Provinsi Kepulauan Flores akan selamanya hanya menjadi bahan orasi politik setiap 5 tahun, dan mati pelan-pelan di Kupang.***
Tim Istana NetizenÂ









