JAKARTA – Istana Netizen Com | Petani tak perlu khawatir. PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan stok pupuk nasional 1,81 juta ton siap mengawal musim tanam Oktober-Maret (Okmar).

Angka itu terdiri dari 1,39 juta ton pupuk bersubsidi yang berada di atas _safety stock_ dan 420 ribu ton pupuk nonsubsidi yang tersedia di kios resmi seluruh Indonesia.
VP Perencanaan Penjualan Ritel Pupuk Indonesia, Saeful Huda Rijaludin, menyebut penebusan harian rata-rata 30.000 ton. Dengan stok saat ini, kebutuhan petani terdaftar aman hingga 46 hari ke depan.
“Secara paralel, kami terus _building stock_ agar pasokan terjaga sepanjang musim tanam Oktober hingga Maret,” kata Saeful dalam webinar “Optimalisasi Pupuk Bersubsidi Okmar dan Sosialisasi e-RDKK 2027”, Rabu (14/10).
Rincian Stok per 12 Oktober 2026:
Stok subsidi: Urea 838.825 ton, NPK 460.299 ton, NPK Khusus Kakao 18.733 ton, Organik 57.845 ton, SP-36 11.105 ton, dan ZA 3.783 ton.
Stok nonsubsidi: Urea 358.973 ton, NPK 22.912 ton, dan ZA 37.669 ton. Ini bisa jadi opsi bagi petani yang belum terdaftar di e-RDKK.
Hingga 9 Oktober 2026, realisasi penyaluran subsidi nasional sudah 7,1 juta ton atau 72,11 persen dari alokasi pemerintah.
Pupuk Indonesia tak hanya jaga stok. Penyaluran dikawal prinsip 7T: tepat jenis, jumlah, harga, tempat, waktu, mutu, dan sasaran.
Pengawasannya pun digital total. Ada Command Center yang memantau perjalanan pupuk dari pabrik hingga ke petani secara _real-time_, CCTV di semua gudang, hingga monitoring transaksi per NIK petani.
“Kami bisa pantau distribusi dari hulu ke hilir. Jika ada trouble operasional maupun administrasi, bisa verifikasi stok dengan baik,” tegas Saeful.
Di sisi lain, Ketua Tim Kerja Alokasi Pupuk Bersubsidi Kementan, Yustiana Retno Widjawati, mengungkap sisa alokasi subsidi yang bisa ditebus masih 2.769.963 ton.
Pemerintah kini melakukan realokasi antar provinsi. Alokasi dari provinsi dengan serapan rendah dialihkan ke provinsi yang serapannya tinggi.
“Supaya alokasi yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kebutuhan petani,” kata Yustiana.
Sementara pendataan e-RDKK 2027 terus dikebut. Input data dibuka hingga 25 Oktober 2026 dan menjadi kunci agar subsidi tepat sasaran.
Laporan: Redaksi Istana Netizen Com
—









