RUTENG, ISTANANETIZEN.COM – Senin, 12 Oktober 2026.

Jika dua warga sebelumnya bicara soal NTT Mekar dengan nada simpatik, kini datang suara kritis yang lebih keras dari akar rumput Flores.
Adalah Petrus Aleksander, warga Kepulauan Flores asal Desa Teda Kisa, Kec. Aesesa, Kab. Nagekeo, yang mengirimkan pendapat panjangnya ke redaksi Istana Netizen Com, Senin siang (12/10/2026).
Ia sepakat bahwa rakyat jelata harus bisa menyalurkan suara untuk negerinya. Tapi ia merasa ada yang tidak beres dengan penyelenggara negeri ini.
DUGAAN PENGALIHAN ISU
Menurut Petrus, ada kejanggalan besar dalam narasi nasional saat ini:
“Kami sebagai rakyat jelata merasa Penyelenggara Negeri ini sangat tidak beres. Kasus ijazah Gibran dihebohkan sedangkan kasus 40 Perusahaan Raksasa Pabrik Baja tidak membayar pajak yang sempat terkuak oleh Menkeu Purbaya ketika itu seolah _dipetieskan_. Jangan-jangan kasus ijazah Gibran hanyalah pengalihan perhatian publik Indonesia?” tulis Petrus.
Ia menyoroti kasus 40 pabrik baja raksasa yang diduga tidak bayar pajak senilai triliunan rupiah, yang pernah dibongkar Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, namun tiba-tiba hilang dari pemberitaan.
PERTANYAKAN SAYEMBARA MILIARAN DENNY INDRAYANA
Petrus juga mempertanyakan langkah mantan Menkumham Denny Indrayana yang membuka sayembara miliaran rupiah untuk pembuktian ijazah Gibran.
“Bahkan Denny Indrayana membuka sayembara untuk pembuktian ijazah Gibran ada atau tidak. Publik mesti bertanya juga, dari mana uang sekian miliar itu? Katanya Denny Indrayana adalah ex koruptor, percayakah apa yang diperjuangkannya? Menegakan supremasi hukum atau ibarat air yang dibendung sedang mencari celah untuk mengalir ke tempat yang lebih rendah?” tegasnya.
MENGAPA BARU SEKARANG?
Bagi Petrus, seluruh proses Pilpres dan penetapan Wapres sudah berlalu. KPU sudah menetapkan, MK sudah menolak gugatan.
“Seluruh proses telah berlalu. Mengapa baru sekarang? Gibran kah yang diproses hukum atau Negara Indonesia yang digugat Denny Indrayana, cs? Rakyatnya Indonesia benar-benar dibikin bodoh oleh para penyelenggara negaranya sendiri.”
PESAN UNTUK RAKYAT JELATA
Pendapat Petrus Aleksander ini mewakili suara rakyat jelata di pelosok Flores yang melek isu nasional. Di satu sisi mereka mendukung keterbukaan soal ijazah pejabat, tapi di sisi lain mereka muak jika isu hukum hanya dijadikan alat pengalihan untuk menutupi kasus korupsi pajak raksasa yang merugikan negara jauh lebih besar.
Redaksi Istana Netizen Com mencatat, hingga hari ini kasus 40 pabrik baja tersebut memang belum ada kejelasan hukum lanjutan di publik.
Apakah benar isu ijazah Gibran hanya pengalihan? Publik yang menilai.
Penulis: Redaksi Istana Netizen Com
TAG: #IjazahGibran #PabrikBaja #Purbaya #DennyIndrayana #RakyatJelata #Nagekeo #IstanaNetizenCom
—










