MEDIA ISTANANETIZEN.COM

Ada satu gambar yang viral di WAG para pejuang Flores hari ini. Bukan gambar proyek. Bukan gambar bagi sembako.
Gambar seorang pria bersetelan jas, berlutut, mencium tangan penguasa yang duduk di singgasana emas, di depannya gepokan uang Rp 100.000 menggunung.
Di atasnya tertulis kalimat yang menampar semua muka pejabat di NTT:
“Jangan pernah menjual integritas hanya demi jabatan dan gaji.”
Kalimat itu ditulis oleh Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA.
Dan inilah ulasan mendalamnya untuk kita semua, khususnya untuk Saya dan semua Orang Flores dan NTT lintas profesi yang hari ini mungkin berniat menjual diri!
—
1. INTEGRITAS ADALAH SATU-SATUNYA HARTA YANG TIDAK BISA DIBELI KEMBALI
Penulis mengatakan:
“Ketika seseorang memilih menjilat kekuasaan demi kepentingan pribadi, yang hilang bukan hanya kredibilitas, tetapi juga kehormatan dirinya.”
Di Flores kita kenal istilah: “Malu Itu Mati”. Orang Manggarai bilang _”Meka Leda”_ – malu itu lebih berat dari mati.
Tapi hari ini kita lihat fenomena baru: Pejabat yang tidak punya malu!
Demi jabatan Kepala Dinas, ia rela menjilat Bupati sampai lidahnya putus. Demi proyek Rp 2 Miliar, ia rela menjual tanah adatnya sendiri. Demi gaji Rp 5 juta, ia rela menandatangani laporan fiktif jalan tipis di suatu daerah.
Apa yang ia dapat? Uang? Ya, uang bisa membeli kenyamanan. Bisa beli Fortuner. Bisa beli rumah di Labuan Bajo.
Tapi seperti kata Dr. Karolus:
“Uang bisa membeli kenyamanan, tetapi tidak pernah mampu membeli kembali nama baik yang telah kehilangan kepercayaan.”
Sekali Anda dicap sebagai penjilat, selamanya Anda penjilat! Sekali Anda dicap sebagai koruptor jalan, selamanya nama Anda busuk di kampung! Anak cucu Anda akan malu menyebut nama Anda!
Lihatlah foto itu! Pria yang berlutut mencium tangan penguasa itu mungkin dapat jabatan esok hari. Tapi ia kehilangan satu hal yang paling mahal: DIRINYA SENDIRI.
2. PENYAKIT MENJILAT DI NTT: MENGAPA PKF TIDAK PERNAH TERWUJUD?
Mengapa Provinsi Kepulauan Flores yang diperjuangkan sejak 1954 hingga 2026 tidak pernah terwujud? 71 tahun!
Jawabannya ada di gambar itu!
Karena terlalu banyak orang Flores yang lebih memilih MENJILAT KEKUASAAN DI KUPANG demi jabatan, daripada BERDIRI TEGAK MENUNTUT KEADILAN demi rakyat Flores!
Bayangkan jika 6 Anggota DPR RI Dapil Flores itu punya integritas! Mereka akan dobrak meja di Senayan dan berkata: “Kami tolak semua anggaran jika PKF tidak dibahas!”
Tapi mereka tidak berani! Karena mereka takut jabatan dan gaji mereka hilang! Mereka takut tidak dapat proyek dari pusat!
Mereka lebih memilih berlutut di depan kekuasaan seperti di foto itu, daripada berlutut di depan rakyat Flores yang lapar jalan, lapar air, lapar keadilan!
Dr. Karolus Karni Lando sedang menyindir keras: Integritas kalian sudah kalian jual di lobi-lobi hotel di Jakarta dan Kupang!
3. GAJI AKAN HABIS, JABATAN AKAN HILANG, TAPI NAMA BAIK ABADI
Uang Rp 100.000 yang menggunung di foto itu pada akhirnya akan habis. Jabatan di singgasana emas itu pada akhirnya akan lengser. 5 tahun, 10 tahun, selesai!
Lalu apa yang tersisa?
Hanya satu: CERITA TENTANG SIAPA ANDA SEBENARNYA.
Apakah Anda dikenang sebagai pejuang yang menolak menjual Flores? Atau dikenang sebagai penjilat yang menjual Flores demi Fortuner?
Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Muga Sada yang baru wafat 3 Oktober 2026 kemarin dikenang rakyat karena ia mati di tengah jalan berlumpur saat bantu rakyat perbaiki jalan! Ia tidak mati di hotel bintang 5! Ia mati dengan integritas!
Itulah nama baik yang tidak bisa dibeli uang!
PENUTUP MAGNA: UNTUK SIAPA PESAN INI?
Pesan Dr. Karolus Karni Lando ini bukan untuk orang kecil. Orang kecil tidak punya jabatan untuk dijual.
Pesan ini untuk:
– Untuk Anggota DPR RI Dapil Flores yang bisu soal PKF
– Untuk Bupati yang lebih takut kepada Gubernur daripada takut kepada rakyatnya
– Untuk Kadis yang rela memalsukan laporan demi aman jabatannya
– Untuk kontraktor Flores yang rela bikin jalan tipis demi untung
– Untuk kita semua yang kadang tergoda menjual idealisme demi kenyamanan
Jangan pernah menjual integritas hanya demi jabatan dan gaji.
Karena ketika Flores sudah menjadi Provinsi Kepulauan Flores Definitif nanti, sejarah akan mencatat dengan tinta emas: SIAPA YANG BERLUTUT UNTUK RAKYAT, DAN SIAPA YANG BERLUTUT MENJILAT KEKUASAAN!
Salam Integritas dari Bukit Waturena!
[Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA – dikutip dan diulas oleh Tim Magna Media Istana Netizen Com – Ruteng, 5 Oktober 2026]










