JAKARTA – MBAY, Media IstanaNetizen Com – Bukan sekadar minta semen dan seng pasca gempa, Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Gratianus Muga Sada, bawa peluru besar ke Istana!

Pemerintah Kabupaten Nagekeo pada Rabu, 30 September 2026, mendobrak Kantor Staf Presiden (KSP) di Jakarta. Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Gratianus Muga Sada tampil mewakili suara Flores yang porak-poranda.
Agenda yang dibawa bukan kaleng-kaleng: Pemulihan total pasca gempa 7,7 Magnitudo 15 Agustus 2026, pembangunan BANDARA BARU di tengah Flores, dan desakan relaksasi efisiensi anggaran untuk daerah bencana.
Dalam pertemuan bersama Deputi IV KSP dan sejumlah kepala daerah terdampak bencana di Flores, Gonzalo membeberkan fakta mengerikan: Nagekeo adalah kabupaten dengan 10 ancaman bencana sekaligus – dari gempa bumi, banjir, letusan Gunung Ebulobo, hingga hidrometeorologi dan geologi.
 “Kabupaten ini menghadapi sedikitnya 10 ancaman bencana,” tegas Gonzalo dilansir Politisinysantara com, Rabu (30/9/2026)
Dampak gempa 7,7 M sangat brutal:
– Kantor pemerintahan dan rumah ibadah rusak
– Layanan kesehatan lumpuh: RSUD, RSUDP, 9 puskesmas, 93 pustu dan polindes terdampak, pelayanan harus di tenda darurat
– 22 ruas jalan dan 13 jembatan putus
– 193,41 hektare lahan pertanian gagal dan 518 KK merugi
Tiga ruas jalan vital: Sawu – Mulakoli, Raja – Maunori, dan Kajulaki – Malabai yang berfungsi ganda sebagai jalur evakuasi, kini diajukan Gonzalo agar dibiayai APBN 2026 via skema Instruksi Presiden Jalan Daerah (IJD) untuk 5 ruas, dan 4 ruas lainnya di 2027.
PUNCAK LOBI: MINTA BANDARA DI JANTUNG FLORES
Di tengah kerusakan, Gonzalo justru mendorong agenda strategis jangka panjang: Bandar Udara di Nagekeo.
Alasannya sangat logis dan tak terbantahkan: Nagekeo berada di titik tengah Pulau Flores. Jika gempa dan tsunami datang lagi, Flores butuh hub logistik udara yang cepat.
 “Keberadaan bandara di Nagekeo sangat krusial dan strategis sebagai pusat logistik dan distribusi bantuan kemanusiaan cepat tanggap darurat untuk seluruh wilayah Pulau Flores,” kata Gonzalo di depan Deputi IV KSP.
TOLAK EFISIENSI UNTUK DAERAH BENCANA
Gonzalo juga menolak kebijakan efisiensi anggaran pusat. Ia minta relaksasi dan pengembalian dana yang kena efisiensi untuk daerah Flores yang terdampak bencana. Dana itu harus dipakai untuk penanganan darurat, bukan dipotong.
 “Besar harapan kami agar pemerintah pusat, kementerian, dan lembaga terkait dapat memberikan perhatian khusus, afirmasi, serta intervensi nyata bagi keselamatan dan masa depan masyarakat Kabupaten Nagekeo,” ujarnya.
Nagekeo butuh segalanya: infrastruktur pemerintahan, layanan kesehatan, jalan, jembatan, air bersih, pertanian hingga rumah ibadah.
Kini bola ada di tangan KSP dan Presiden Prabowo. Apakah Istana akan mendengar jeritan dari jantung Flores ini?***
Penulis / Reporter : Tim Istana Netizen.
Editor : AJ









