PATA, Media Istana Netizen Com – Sabtu, 3 Oktober 202

Ada yang tak pernah hilang di Kampung Pata.
Di saat zaman modern terus berlari kencang, warga Kampung Pata, Desa Compang 56 Congkar, Kecamatan Congkar, Manggarai Timur justru memilih untuk berhenti sejenak. Duduk bersama di bawah rindangnya pohon beringin tua, di atas tanah adat Natas Pata yang disucikan.
Di sanalah, Ritual Adat Lak Ntaun kembali digelar dengan penuh khidmat pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
Bukan pesta. Bukan seremoni. Ini adalah cara paling jujur warga Pata untuk berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kepada arwah nenek moyang penjaga kampung.
Kepala Suku Tua Teno Pata, Fridus Dusin, dengan suara wibawanya menegaskan:
 “Lak Ntaun ini bukan sekadar acara tahunan. Ini jantungnya kehidupan kami orang Pata. Kegiatan ini kita laksanakan setiap tahun di bulan Oktober. Karena Oktober adalah bulan berkah bagi masyarakat Kampung Pata. Awal September kita sudah melakukan penanaman kembali.”
Bagi Fridus, ini adalah janji setia untuk tidak melupakan akar.
 “Ini adalah wujud kepedulian kami untuk merawat nilai-nilai budaya serta untuk kembali mengingat perjuangan nenek moyang. Ini wujud ucapan syukur kepada leluhur atas segala rezeki yang mereka berikan kepada kita semua,” ujarnya.
Suasana makin sakral saat Ketua Panitia, Romi Kandra berbicara. Menurutnya, Lak Ntaun bukan hanya tentang padi yang menguning atau jagung yang berisi.
Ini tentang kehidupan itu sendiri.
 “Lak Ntaun ini adalah proses mensyukuri segala bentuk hasil dan jerih payah yang pernah kita peroleh, serta segala tantangan kehidupan seperti kesehatan dan rezeki yang patut kita syukuri kepada leluhur dan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tutur Romi.
Dari tanah Pata, doa-doa terbaik pun dipanjatkan untuk tahun yang akan datang.
 “Kita mau menerima tahun yang akan datang dan kita meminta kepada leluhur rezeki, baik rezeki kesehatan jiwa dan raga, serta segala hasil dan berkat yang Tuhan berikan kepada semua warga Kampung Pata,” lanjutnya.
Dan inilah puncak yang paling sakral.
Satu ekor babi dipersembahkan dengan penuh keikhlasan sebagai simbol kesatuan manusia dengan alam. Darah babi yang telah disembelih itu tidak dibuang. Darah itu dicampur dengan segala macam benih tanaman.
 “Kita persembahkan kepada leluhur dengan satu ekor babi. Darah babi yang telah disembelih tersebut kita campurkan dengan segala macam benih tanaman,” jelas Romi.
Filosofinya sangat dalam: Dari darah, lahir kehidupan baru.
Namun makna terdalam dari Lak Ntaun bukan di situ.
Lebih dari benih dan panen, Lak Ntaun adalah tentang pembersihan hati. Segala sengketa, salah kata, dan luka antarwarga di Beo Pata Wae Luja harus dilebur. Tidak boleh ada dendam yang dibawa ke musim tanam berikutnya.
Semua diserahkan kepada leluhur dan kepada Tuhan dengan hati yang berdamai.
 “Kita harus saling memaafkan, eme manga salah oke one waes laud agu leso sale. Itu makna inti dari acara Lak Ntaun. Itu adalah goet yang ada di Kampung Pata,” pungkas Romi.
Di Pata, panen akhirnya punya arti yang berbeda.
Panen bukan hanya soal hasil bumi yang melimpah. Panen adalah tentang hati yang kembali damai, budaya yang terus hidup, dan doa yang tak pernah putus dari generasi ke generasi.***
Reporter Tim IstanaNetizen










