BUDAYA & LITERASI – RESENSI BUKU

BENGKULU, http://ISTANANETIZEN.COM – Bukan sekadar buku sejarah! Sebuah karya monumental terbaru dari sejarawan Bengkulu Dr. Agus Setiyanto, M.Hum yang berjudul “Jejak Bung Karno Dari Ende Hingga Bengkulu” resmi menjadi perbincangan hangat akademisi nasional.
Buku ini dibedah oleh puluhan guru besar dan pakar dari berbagai universitas di Indonesia pada Selasa, 14 Oktober 2026. Mereka sepakat, buku ini memotret utuh fase paling krusial Bung Karno yang selama ini dianggap masa pasif.
FAKTA BARU: 8 TAHUN LABORATORIUM IDEOLOGI!
Buku ini mengungkap periode pengasingan Soekarno oleh kolonial Belanda selama 8 tahun penuh: 4 tahun di Ende (1934-1938) dan 4 tahun di Bengkulu (1938-1942) – yang justru menjadi Kawah Candradimuka lahirnya Indonesia.
DI ENDE – LAHIR PANCASILA DI BAWAH POHON SUKUN!
Prof. Nawiyanto, M.A., Ph.D – Guru Besar Sejarah Universitas Jember yang memberikan testimoni pada Senin (13/10/2026) menjelaskan, isolasi di Ende tidak mematikan daya kritis Bung Karno.
_“Dari kontemplasi mendalam di bawah pohon sukun hingga interaksi erat dengan misionaris Katolik, ruang fisik pembuangan bertransformasi menjadi kawah candradimuka tempat gagasan Pancasila digodok matang,”_ tulisnya.
Di Ende, Bung Karno hidup membaur dengan rakyat kecil: penjahit, pemetik kelapa, nelayan, sopir, sambil giat membaca, menulis, mendalami Islam, dan menjadi sutradara sandiwara tonil.
DI BENGKULU – BERTEMU FATMAWATI & MUHAMMADIYAH!
Pindah ke Bengkulu, sejarah berubah. Fakta baru yang diluruskan dalam buku ini berdasarkan telegram rahasia Residen Bengkulu tanggal 9 Mei 1938 – tanggal kedatangan Bung Karno di Bengkulu yang selama ini simpang siur.
Di Bumi Rafflesia inilah Bung Karno:
– Aktif di Muhammadiyah dan menjadi guru
– Menghidupkan kelompok sandiwara Monte Carlo
– Bertemu Fatmawati, gadis Bengkulu yang kemudian menjadi Ibu Negara dan penjahit Bendera Pusaka
OBAT AMNESIA SEJARAH!
Assoc. Prof. Dr. Lukmono Hadi, M.A (Dosen Pascasarjana UPN Veteran Yogyakarta) pada Selasa (14/10/2026) menyebut buku ini adalah obat amnesia sejarah.
_“Amnesia sejarah adalah penyakit yang membuat kita kehilangan kesadaran sejarah terhadap tokoh bangsanya sendiri,”_ tegasnya.
Prof. Slamet Widodo, Ph.D (Dosen Pasca Sarjana FEB Universitas Bengkulu) juga menegaskan pada Selasa (14/10/2026):
_“Buku monumental yang memotret utuh perjuangan dengan berbagai pengorbanan Soekarno untuk memerdekakan Indonesia. Bisa menginspirasi generasi muda untuk berjuang tanpa lelah.”_
Drs. Muhardi, M.Hum – Museolog TACB Kota Bengkulu menambahkan, buku ini dengan riset mendalam sebagai sejarawan dan seniman mampu merekam kehidupan legendaris Bung Karno dengan bahasa yang mudah dipahami.
KESIMPULAN ISTANA NETIZEN:
Buku “Jejak Bung Karno Dari Ende Hingga Bengkulu” bukan sekadar kisah jejak tokoh besar, tapi ikhtiar akademik untuk menghadirkan sejarah secara kritis, faktual, dan bermakna. Pengasingan yang bertujuan memutus komunikasi politik Soekarno justru beralih fungsi menjadi sarana pembentukan visi nasionalisme yang lebih inklusif.
Wajib dibaca akademisi, mahasiswa, dan pencinta sejarah!
Judul Buku: Jejak Bung Karno Dari Ende Hingga Bengkulu
Penulis: Dr. Agus Setiyanto, M.Hum
Tebal: ± 300 halaman + xxxi testimoni Guru Besar se-Indonesia
Sumber Resensi: File Buku – Dibedah Selasa, 14 Oktober 2026










