Beranda » Adrianus Robinhut: Kesepakatan AS-China Soal Selat Hormuz dan Nuklir Iran Jadi Tekanan Bagi IRGC !
ISTANA NETIZEN.COM – Pertemuan tingkat tinggi antara China dan Amerika Serikat dinilai mengirim sinyal kuat terkait stabilitas Selat Hormuz dan program nuklir Iran. Hal itu disampaikan Adrianus Robonhit, Aparatur Sipil Negara di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (16/5/2026).
Menurut Adrianus, hasil diskusi Trump-Xi menunjukkan adanya konsensus pada dua isu utama.
“Selat Hormuz harus tetap terbuka dan Iran tidak boleh pernah memperoleh senjata nuklir,” tulisnya.
Adrianus Robinhut
Ia menilai posisi itu menjadi tekanan baru bagi IRGC yang selama ini menganggap Selat Hormuz sebagai alat tekanan strategis.
“Selama bertahun-tahun rezim Iran percaya bahwa Selat Hormuz adalah senjata dan tekanan pamungkasnya, titik pencekik yang dapat mereka lakukan setiap kali ketegangan meningkat,” ujarnya.
Adrianus menjelaskan, ketergantungan China pada jalur energi membuat Beijing enggan melihat gangguan di Selat Hormuz.
“Ekonomi Tiongkok sangat bergantung pada aliran energi yang stabil dan jalur perdagangan yang tidak terganggu. Hampir setengah dari impor minyak mentah Tiongkok melewati Selat Hormuz,” katanya.
Meski China tetap menjaga hubungan ekonomi dengan Teheran dan menentang beberapa sanksi Barat, ia menilai Beijing lebih memprioritaskan stabilitas perdagangan global.
“Beijing mungkin menentang sanksi Barat tertentu dan mempertahankan hubungan ekonomi dengan Teheran, tetapi Tiongkok juga memahami bahwa kekacauan di Hormuz mengancam ekonominya sendiri secara langsung,” tulisnya.
Adrianus menambahkan, kesepakatan antara dua kekuatan besar itu menunjukkan sifat transaksional hubungan internasional.
“Ketika negara-negara adidaya menegosiasikan stabilitas global, negara-negara kecil dapat dengan cepat menjadi alat tawar-menawar,” ujarnya.
Presyden AS dan China
Ia menyimpulkan, pesan yang dikirim ke Teheran dan IRGC kini semakin jelas.
“Tidak ada penutupan Selat Hormuz. Tidak ada senjata nuklir. Tidak ada eskalasi tanpa akhir,” katanya.

Menurut Adrianus, dinamika ini menunjukkan bahwa aliansi antarnegara lebih ditentukan oleh kepentingan ekonomi dan keamanan nasional ketimbang kedekatan ideologis.(*)
Penulis/ Editor : Tim Redaksi Istana Netizen Com
Copyright © 2025 ISTANANETIZEN.COM. All Rights Reserved - Created by PT Rumah Media Cyber.
Copyright © 2025 ISTANANETIZEN.COM. All Rights Reserved - Created by PT Rumah Media Cyber.