RENUNGAN, ISTANA NETIZEN.COM — BORONG, MANGGARAI TIMUR
Sabtu, 5 September 2026 — Saat status Gunung Anak Ka dinaikkan ke Waspada Level II, seorang guru di Borong menulis surat terbuka. Bukan surat panik. Tapi surat iman.

Frans Anggal menamai tulisannya: “Kesaksian dari Kaki Anak Ka”.
“Bukan Letusan, Tapi Napas Tertahan”
Frans tidak menggambarkan Anak Ka sebagai monster.
“Wahai engkau, Anak Ka—Anak Ranaka. Status Waspada II saat ini adalah desah napasmu dari kedalaman perut bumi. Bukan letusan menggelegar memecah langit. Melainkan napas tertahan.” tulisnya.
Ia mengingatkan kembali 1987. Saat gunung ini pertama kali meradang. Malam turun membawa kabar duka. Ratusan jiwa meninggalkan perapian hangat, menuju tenda darurat di bawah langit yang tak ramah.
Kini, pasca Gempa Flores 7,7 SR` di Agustus lalu, Anak Ka menggeram lagi. Ribuan gempa tercatat. Asap tipis mengepul. Longsoran kecil turun di dadanya.
Ketika Pertanyaan “Mengapa” Bertemu Salib
Di tengah ketakutan, Frans jujur. Ia bertanya seperti para nabi:
“Mengapa tanah yang kami cintai harus terbelah? Mengapa gunung yang kami pandang sebagai lambang kekuatan kini menjadi sumber ketakutan?”
Tapi jawaban yang ia temukan bukan rumus. Melainkan Salib.
“Allah tidak menghapuskan penderitaan dengan sihir, tetapi Ia sendiri masuk ke dalamnya… Ia turun ke bawah. Ia masuk ke dalam reruntuhan bersama kami.”
Bagi Frans, gunung yang mengamuk adalah cermin misteri salib. Batu yang jatuh bukan hukuman akhir. “Ia bagian dari perjalanan suci: kematian sebelum kebangkitan.”
“Darah Ketabahan Lebih Tua dari Gunung”
Kalimat ini yang paling viral di Facebook:
“Kami tidak akan hancur oleh batu yang meluncur dari bukitmu. Darah ketabahan mengalir di nadi kami, lebih tua dan lebih kuat daripada gunung mana pun. Rumah boleh retak. Harta boleh lenyap sekejap. Namun akar iman kami tertanam jauh lebih dalam, menembus lapisan tanah, hingga ke relung magma terdalam perut bumi.”
Itu bukan kesombongan. Itu pengakuan. Bahwa orang Manggarai sudah ditempa bencana sejak lama.
“Pemerintah, BPBD, pengamat di Waerii, dan seluruh masyarakat, berdiri teguh di tanah leluhur, saling menopang.”
Penutup: Fajar Pasti Datang
Frans menutup dengan doa dari Kitab Ratapan`:
“Kasih setia Tuhan belum habis, rahmat-Nya belum berakhir; ia baru setiap pagi.”
“Kami tidak meminta badai berlalu seketika. Kami hanya meminta kekuatan untuk tetap berdiri di dalamnya. Sebab di balik setiap abu yang terbang di angkasa, selalu ada fajar baru yang sabar menanti bukit-bukit Manggarai.”
Status Waspada bukan karena takut melumpuhkan. “Melainkan karena kasih akan nyawa sesama yang mulia.”
Terpujilah Engkau, ya Allah, di dalam guncangan dan di dalam kedamaian. Amin.`
Penulis Opini : Frans Anggal
Editor : Tim Redaksi Istana Netizen Com.
—










