ISTANA NETIZEN.COM, JAKARTA–RUTENG – Redaksi IstanaNetizen menerima tulisan refleksi menarik pada Jumat siang, 25 September 2026.

Penulisnya mengklaim dirinya adalah salah satu pelaku perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Flores. Ia adalah Dr. Goris Lewoleba, M.Si.
Dalam tulisannya berjudul _TESTIMONI PERJALANAN PERJUANGAN PROVINSI KEPULAUAN FLORES_ bertanda _BREAKING NEWS_, ia mengaku pernah menjadi bagian dari perjuangan melalui wadah KKP-3F (Komite Kerja Persiapan Pembentukan Provinsi Flores) baik di daerah maupun di pusat Jakarta.
Berikut rangkuman testimoni dari sang pengklaim pelaku sejarah tersebut:
1. SEKRETARIAT DI WISMA NTT TEBET – 2002
Ia mengklaim pada 2002 dibentuk KP3-FL tingkat pusat dipimpin Brigjen (Pol Purn.) Anton Tifaona dengan penasihat Frans Seda, Blasius Bapa, Anton Mashur, Ludgerus da Cunha, Richard Bagun, Melky Mekeng.
Klaimnya: Gubernur NTT Piet Tallo memberi 2 ruangan di Wisma NTT Tebet Jakarta sebagai sekretariat. Ia ditugaskan menyusun Dokumen Kelengkapan Persyaratan.
Untuk itu ia mengaku melakukan benchmarking ke Bangka Belitung (mekar 21 Nov 2000) dan berdiskusi dengan Prof. Yusril Ihza Mahendra, serta membangun jejaring Lemhannas KSA X 2002: Dirjen Otda Sudarsono Harjosukarto, Mendiknas Malik Fadjar, Kapolri/Kepala BIN Jend. Sutanto, KSAD Jend. Agustadi Sasongko, Jacob Nuwa Wea, Jend. Agum Gumelar, Prof. Purnomo Yusgiantoro. Semua diklaim mendukung.
2. LOBI PARA USKUP DI WTC JAKARTA
Ia mengklaim bersama Frans Seda bertemu para Uskup se-Flores dan Uskup kelahiran Flores di Gedung WTC Jakarta Pusat dan mendapat dukungan penuh.
3. PRO KONTRA: DARI JOHNY PLATE HINGGA IGNAS KLEDEN
Ia menyebut Johny Plate menekankan basis Trust dan kemurnian motivasi.
Di sisi lain, Dr. Ignas Kleden yang pemikirannya jadi referensi publik, disebut berpandangan pembentukan Provinsi Flores adalah “Gagasan yang Tidak Cerdas”.
Fakta paling mengejutkan yang diklaimnya: Saat mengundang para Bupati se-Flores-Lembata untuk bertemu Gubernur Piet Tallo dan Mantan Gubernur Ben Mboi di Hotel Sahid Jakarta, ada 3 Bupati yang tidak mau hadir karena tidak setuju.
4. MUBES RUTENG 2003 YANG MERIAH
Ia mengklaim hadir sebagai delegasi pusat bersama Blasius Bapa, Anton Mashur, Ludgerus da Cunha dalam Mubes Orang Flores di Ruteng 31 Okt – 1 Nov 2003 yang dibuka Gubernur NTT dan dihadiri Mantan Gubernur dr. Hendrik Fernandez.
Hasil yang diklaimnya:
a) Nama Provinsi baru adalah Provinsi Flores
b) Mengesahkan calon Ibukota: Mbay, Ende dan Maumere
c) Menyerahkan kepada Gubernur NTT.
Setelah itu, menurutnya, vakum hingga 2014 muncul kembali inisiatif P4KF yang bergema sampai sekarang.
5. BONGKAR SYARAT PP 129/2000, PP 78/2007, UU 23/2014
Sebagai pengaku penyusun dokumen, ia membeberkan syarat Administratif (Keputusan DPRD, Bupati, Gubernur, Rekomendasi Menteri, plus 5 persetujuan), Teknis (ekonomi, potensi, sosbud, sospol, kependudukan, luas, hankam, keuangan, kesejahteraan, rentang kendali), dan Fisik Kewilayahan (cakupan 9 kabupaten sudah lampaui minimal 5 kabupaten, peta pulau, lokasi ibukota, bukti kepemilikan sah untuk kantor).
6. KERIKIL DI DALAM SEPATU: ENDE VS MBAY VS MAUMERE
Ia menyebut isu ibukota sebagai “Seperti Kerikil di Dalam Sepatu” yang bikin mandek sejak 2003.
Ende: nilai sejarah Bung Karno, tapi persaingan politik dan tata ruang.
Mbay: posisi di tengah di Nagekeo, pemerataan, tapi harus bangun dari nol.
Maumere: infrastruktur, pelabuhan, bandara siap, tapi dianggap tidak simetris bagi barat (Manggarai Barat/Labuan Bajo). Ditambah moratorium DOB.
CATATAN REDAKSI http://ISTANANETIZEN.COM:
Testimoni ini adalah klaim sepihak dari penulis yang mengaku sebagai pelaku. Kebenaran historisnya perlu diverifikasi dengan pelaku lain dan dokumen resmi.
Namun, benang merahnya jelas dan sinkron dengan data yang disampaikan Ketum P4KF Adrianus Jehamat di Ruteng, Kamis malam 24 September 2026 kepada IstanaNetizen: bahwa perjuangan PKF memang panjang, sejak 2013-2023, dan kini sudah masuk registrasi Kemendagri sebagai 1 dari 337 DOB per Desember 2024, dengan lahan 31 Ha, cap Garuda 9 kabupaten 2015, dan dokumen sudah di meja Presiden hingga Kapolri.
Klaim pelaku ini justru memperkuat fakta: PKF bukan barang baru. PKF sudah lama diperjuangkan sejak pertemuan Hadakewa Lembata 7 Maret 1954 hingga digelarnya Mubes alias Musyawarah Besar Orang Flores di Ruteng – Manggarai 2003, lalu mandeg 10 tahun kemudian hingga OPR tergerak hati dan terpanggil untuk memberanikan diri mengambil inisiatif membentuk wadah perjuangan bersama segenap komponen perwakilan rakyat 10 kabupaten dalam wadah P4F 2013 hingga berubah jadi P4KF 2015.
OPR melalui P4KF membagi tahapan perjuangan Flores provinsi dalam dua tahap atau dua babak:
Babak pertama 1954-2003 dan babak kedua atau babak baru di bawah panji P4KF sejak 2013-sekarang.
P4KF hadir dengan misi Revitalisasi atau menghidupkan kembali serta melanjutkan perjuangan Flores provinsi babak pertama 1954-2003 pada babak kedua atau babak baru sejak terbentuknya P4KF 2013 dengan Visi Tegas PKF Definitif!
Apakah kerikil ibukota akan dicabut pada RAPIMNAS FORKONAS PPDOB 29 September 2026 di Gedung Joang 45 yang membahas RPP Penataan Daerah & Desartada berdasarkan Keppres 37/2025 ?
Redaksi http://IstanaNetizen.com










