
RUTENG-KUPANG, Media Istana Netizen Com – Dokumen ini adalah bukti bahwa perjuangan Provinsi Kepulauan Flores bukan perjuangan kemarin sore. Ini adalah perjuangan mengetuk pintu Gubernur NTT sebanyak 3 kali
Setelah redaksi membongkar galeri kenangan 8 orang pendiri P4F di Waso Welu Ruteng 8 Mei 2013, titik balik di Bajawa 25 Februari 2014, dan ganti nama di Mbay 20 Maret 2015, kini terkuak Surat Keramat Terakhir P4KF.
Surat bernomor 166/SEKBER-P4KF/RTG/MGR/V/2022 tertanggal Ruteng-Kepulauan Flores, 8 Mei 2022Â – tepat 9 tahun setelah P4F lahir – ditandatangani Ketua Umum P4KF Adrianus Jehamat, A.Md.
Surat dengan perihal Usulan Aspirasi Pembentukan Daerah Persiapan Provinsi Kepulauan Flores (DP-PKF) Tahun 2022 ini ditujukan kepada Yth. Gubernur Nusa Tenggara Timur di Kupang.
DARI FRANS LEBU RAYA KE VIKTOR LAISKODAT
Inilah fakta yang jarang diketahui publik: Ini adalah usulan ketiga kalinya.
Usulan pertama dan kedua disampaikan kepada Almarhum Gubernur NTT Frans Lebu Raya pada 2013 dan 2015. Kini, usulan ketiga disampaikan kepada Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat.
Tiga kali ketuk pintu. Dua Gubernur. Satu harapan yang sama: 2,2 juta warga suku Kepulauan Flores di 9 kabupaten – Lembata, Flores Timur, Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat- ingin memekarkan diri dari NTT.
Dalam surat yang dikirim dari Sekretariat Pusat di Rumah No.15, RT 10 RW 03 Waso Welu, Langke Rembong, Manggarai itu, P4KF memohon dengan itikad baik agar Gubernur berkenan mengakomodir dan menyetujui pembentukan DP-PKFÂ sesuai amanat UU RI Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Dengan kalimat yang sangat menyentuh, P4KF menulis:
 _”Besar harapan warga masyarakat suku Kepulauan Flores kiranya PKF dapat terwujud pada periode kepemimpinan Bapak di NTT. Dengan demikian PKF boleh menjadi kenangan terbaik dari Bapak bagi segenap warga masyarakat suku Kepulauan Flores.”_
Kenangan terbaik. Sebuah frasa yang menohok, mengingat perjuangan ini telah berlangsung 68 tahun sejak 1954, jauh sebelum Provinsi NTT terbentuk dari Provinsi Sunda Kecil menjadi NTB, BALI, dan NTT pada 1958.
KENAPA HARUS 5 JUTA SEKALI JALAN KE KUPANG?
P4KF dalam suratnya membeberkan 4 alasan urgent yang selama 63 tahun usia NTT dipikul rakyat Flores:
1. Pelayanan Publik Mahal:
Ibukota NTT di Kupang-Timor Barat berbatasan langsung dengan Timor Leste, sangat jauh lintas lautan. Untuk urusan SMA/SMK/SDLB dan urusan provinsi lainnya, warga harus merogoh kocek PP pesawat rata-rata Rp 3.000.000 (Rp 1,5 Juta x 2). Belum termasuk ojek Bandara El-Tari, penginapan, makan minum. Total akumulasi Rp 5.000.000 per orang per sekali jalan. Jika lewat laut, lebih murah tapi berhari-hari dan ancaman bahaya di laut saat musim penghujan sangat besar.
2. NTT Provinsi Termiskin Ketiga:
Secara nasional, NTT di usia 63 tahun terkategori sebagai provinsi termiskin ketiga setelah Papua dan Papua Barat. Kehadiran PKF adalah upaya sadar dan konstitusional untuk “mendekatkan Jakarta” di Kepulauan Flores demi percepatan pembangunan dan pengentasan kemiskinan.
3. Kesejahteraan:
PKF adalah pilihan legal untuk berbenah dari kelemahan edukasi SDM dan lambatnya pengelolaan SDA.
4. Benteng Pancasila:
Ini yang paling ideologis. Masyarakat Flores meyakini nilai Pancasila bersumber dari praktik hidup sosial budaya lokal Flores yang ditemukan dan dialami sendiri oleh Ir. Soekarno selama menjalani tahanan Belanda di Ende 1934-1938.Â
Di tengah ancaman intoleran anti Pancasila, PKF akan menjadi Garda Terdepan penyelamat Pancasila sebagai “Rumah Adat Budaya” sekaligus Ideologi NKRI.
Surat ini melampirkan 11 dokumen sakti, mulai dari Berita Acara Kesepakatan 9 Bupati dan Pimpinan DPRD se-Flores dengan P4KF 2015, Rekomendasi Komisi I DPRD NTT 2014, Persetujuan Bersama DPRD Nagekeo dan Manggarai Barat 2021, hingga surat dari Deputi Kemensetneg 2013Â yang meminta tanggapan Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri soal rencana pembentukan Provinsi Flores.
Tembusannya bahkan sampai ke Presiden RI, Ketua DPR-RI, Ketua DPD-RI, Mendagri, Ketua MA, Kajagung, dan Kapolri di Jakarta.
Tiga kali ketuk pintu. Dari Waso Welu hingga Kupang. Dari Frans Lebu Raya hingga Viktor Laiskodat. Kini bola ada di tangan Gubernur. Akankah PKF benar-benar menjadi kenangan terbaik?***
Redaksi – Media Istana Netizen Com










