JAKARTA, Media IstanaNetizen Com – Jumat, 2 Oktober 2026

Pemandangan tak biasa terjadi di Istana Negara Jakarta, Jumat (2/10/2026) siang. Pengamat politik yang dikenal sebagai kritikus tajam pemerintah, Rocky Gerung, tampak resmi dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia.
Momen pelantikan tersebut terekam dalam video siaran Metro TV yang viral di media sosial. Dalam video terlihat Rocky Gerung mengenakan jas hitam lengkap, peci hitam dan dasi biru, berjalan menuju meja pelantikan di hadapan Presiden Prabowo Subianto.
Rocky terlihat menandatangani dokumen pakta integritas sebagai tanda resmi menjadi bagian dari Wantimpres. Ia kemudian bersalaman langsung dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana.
Pelantikan Wantimpres kali ini memang menjadi sorotan. Presiden Prabowo Subianto resmi melantik jajaran Wantimpres periode 2026-2029 berdasarkan Keppres Nomor 107/P/2026.
Mantan Menko PMK Pratikno didapuk sebagai Ketua Wantimpres, Hatta Rajasa sebagai Wakil Ketua, dan Muhammad Qodari sebagai Sekretaris.
Total ada 23-25 tokoh nasional lintas latar belakang yang dilantik. Mulai dari ulama, purnawirawan TNI/Polri, pengusaha hingga akademisi.
Beberapa nama besar yang ikut dilantik bersama Rocky Gerung antara lain:
Quraish Shihab, Agum Gumelar, Budi Gunawan, Chairul Tanjung, Jusuf Hamka, Jusuf Wanandi, Dato Sri Tahir, Said Aqil Siradj, Yahya Cholil Staquf, Anwar Usman, Bambang Soesatyo hingga Soekarwo.
Kehadiran Rocky Gerung menjadi yang paling menyita perhatian. Pasalnya selama ini ia dikenal sebagai akademisi, filsuf dan intelektual publik yang kerap melontarkan kritik pedas terhadap kekuasaan.
Saat tiba di kompleks Istana sekitar pukul 14.30 WIB, Rocky sempat berlari kecil menghindari kerumunan wartawan. Ia irit bicara dan hanya menyebut ada agenda di dalam Istana.
Kini, dari seorang pengkritik di luar Istana, Rocky Gerung resmi masuk ke dalam lingkar Istana sebagai pemberi nasihat dan pertimbangan langsung kepada Presiden Prabowo.
Langkah Prabowo merangkul Rocky Gerung dinilai sebagai sinyal politik inklusif dan merangkul semua kalangan, bahkan dari pihak yang berseberangan.***
TIM ISTANANETIZEN










