BERITA EDITORIAL – ISTANA NETIZEN COM
Kategori: EDITORIAL | POLITIK NASIONAL
Sabtu, 10 Oktober 2026 |

JAKARTA, ISTANANETIZEN.COM – Dewan Redaksi Istana Netizen Com memandang polemik ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang digugat Prof Denny Indrayana dkk ke Mahkamah Konstitusi telah melampaui batas wajar akademik dan masuk ke wilayah syahwat kekuasaan.
Pertama, Mahkamah Konstitusi pada Selasa 6 Oktober 2026 telah memutus Perkara Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026. Amar putusan Ketua MK Suhartoyo jelas: Permohonan Tidak Dapat Diterima karena Legal Standing para pemohon. Secara hukum formil, perkara selesai.
Polemik muncul karena dalam pertimbangan, MK menyebut tidak menemukan bukti meyakinkan ijazah setara SLTA dari luar negeri. Kalimat ini kemudian digoreng seolah MK memvonis Gibran tidak berijazah. Padahal MK tidak pernah menyatakan demikian.
Kedua, setelah kalah di MK, kelompok penggugat kini mewacanakan pemakzulan di DPR RI. Inilah yang kami sebut sebagai makar konstitusi yang dibungkus jubah akademik.
Fakta yang kami himpun dari cuplikan kampanye Paslon yang dicuplik dalam podcast politik menegaskan:
Peminangan Gibran Rakabuming Raka sebagai Cawapres pendamping Prabowo Subianto pada Pemilu 2024 adalah 100% keputusan Prabowo, bukan keputusan Jokowi.
Prabowo sendiri yang menegaskan saat kampanye: _”Saya katakan di sini ya, saya yang pilih, saya yang minta, saya yang memilih, ndak ada itu dinasti-dinastian.”_
Prabowo tercatat 5 kali meminta izin kepada Presiden RI ke-7 Joko Widodo selaku ayah kandung Gibran. Dan Jokowi memberikan wanti-wanti keras sebagai ayah:
_”Betul sudah dihitung Pak. Jangan sampai nanti kalau kalah yang disalahkan Gibran loh. Saya ndak mau seperti itu.”_
_”Jangan sampai dalam pemerintahan ke depan, kalau ada yang kurang, Mas Wapres yang disalahkan. Saya ndak mau seperti itu.”_
Wanti-wanti itu kini menjadi kenyataan. Semua kekurangan pemerintahan, Gibran yang disalahkan.
Siapa yang paling berkepentingan memakzulkan Gibran?
Bukan rakyat Ruteng, Borong, atau Labuan Bajo, dan Kepulauan Flores yang berkepentingan adalah poros yang kalah di Pilpres 2024 dan rival internal di dalam Koalisi Indonesia Maju sendiri yang mengincar kursi Wapres yang kosong.
Jika Gibran dimakzulkan, maka kursi Wapres akan diperebutkan di MPR. Ini sangat seksi bagi partai-partai besar.
Apa pilihan sikap politik Prabowo?
Prabowo tidak boleh lepas tangan. Jika Prabowo yang meminang, maka Prabowo pula yang wajib menjaga. Loyalitas adalah harga mati dalam kepemimpinan.
Pilihan Prabowo harus jelas: Pasang badan dengan cara negarawan. Buka semua dokumen ijazah dan penyetaraan secara administratif kepada publik melalui Kemdikdasmen dan KPU agar terang benderang, namun jangan biarkan DPR dijadikan panggung untuk makar konstitusi.
Rakyat NTT dan Flores tidak butuh drama ijazah. Rakyat butuh kerja nyata. Harga kopi, jalan Trans Flores, dan lapangan kerja.
Jangan korbankan stabilitas pemerintahan hanya karena nafsu merebut kursi Wapres. Pemakzulan bukan mainan.
Penulis: Dewan Redaksi Istana Netizen Com
Editor: Redaksi Jakarta-Ruteng
TAG: #Editorial #Gibran #IjazahGibran #DennyIndrayana #Prabowo #MK #Pemakzulan #IstanaNetizenCom
—










