KUPANG, Media Istana Netizen Com – Sebuah pesan moral yang menyentuh hati diterima redaksi Istana Netizen Com, Kamis malam 15 Oktober 2026. Bukan berisi hujatan, bukan berisi makian. Isinya adalah suara hati warga Kupang yang ditulis dengan air mata untuk Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena.

Pesan itu beredar luas di grup-grup WhatsApp dan menjadi viral dalam 3 jam terakhir.
Isinya sederhana namun menusuk: Pemekaran NTT bukan soal politik, tapi soal doa.
“Kami menyampaikan pesan ini bukan dengan amarah, melainkan dengan hati yang penuh kasih,” tulis warga tersebut dalam suratnya.
Warga itu mengingatkan, pemekaran Provinsi Kepulauan Flores, Sumba dan Timor bukan hitungan anggaran semata. Ini adalah jeritan seorang ibu di Amanatun yang harus melahirkan setelah menempuh 12 jam perjalanan ke Kupang, seorang anak di Adonara yang sekolahnya roboh diguncang gempa M7,7 Agustus lalu.
TANDA TANGAN ADALAH DOA
Dalam surat terbuka itu, warga menyebut tanda tangan Gubernur pada usulan pemekaran sesuai Pasal 38 ayat (1) UU 23/2014 bukanlah sekadar tinta di atas kertas.
“Tanda tangan Bapak bukan tinta, itu adalah doa. Itu adalah simbol keberanian melepaskan ego demi kesejahteraan bersama,” tulisnya.
Warga itu juga memberi 3 pengingat moral yang kini menjadi kutipan viral di media sosial:
1. Kekuasaan sementara, jejak moral abadi. Jabatan hanya 5 tahun, tapi sejarah akan mencatat apakah Gubernur dikenang sebagai penjaga tembok atau pembuka pintu gerbang.
2. Menunda pemekaran sama dengan menunda harapan anak-anak Flores, Sumba dan Timor.
3. Alam sudah memberi peringatan. Gempa yang merusak 102 ribu rumah di Flores adalah tanda bahwa NTT terlalu luas untuk diurus satu tangan. “Tanggap darurat harusnya tanggap tetangga, bukan tanggap seberang pulau.”
PANGGILAN SEJARAH
Di akhir suratnya, warga Kupang itu menulis kalimat yang kini menjadi trending:
_“Sejarah hanya memberi kesempatan kepada sedikit orang untuk menjadi pembuka jalan. Jangan biarkan kesempatan Desartada 2025-2026 ini hilang karena ketakutan politik.”_
Hingga berita ini diterbitkan, surat cinta dari Kupang ini telah dibagikan lebih dari 2.300 kali dan mendapat dukungan dari berbagai tokoh agama dan adat.
Audiensi P4KF dengan Gubernur dijadwalkan tahun depan. Surat ini diyakini menjadi pengantar moral paling kuat sebelum pertemuan penentuan itu.
_“Biarlah NTT mekar seperti bunga di musim hujan. Bukan karena ingin berpisah, tapi karena ingin semua bertumbuh lebih dekat,“_ tutup surat itu.
TIM REDAKSI ISTANA NETIZEN COM
_Laporan: Kupang, 15 Oktober 2026, 21.17 WITA_
—










