OPINI – HUKUM & KEMANUSIAA
Oleh: FA – Borong, Rabu 14 Oktober 2026 | Media Istana Netizen Com

Kemelut rumah tangga Marianus Sae mencuat di ruang publik. Dan hal itu menyedot perhatianku. Bukan karena keributan itu sendiri, melainkan karena aku pernah melihat dia berdiri di tempat yang terang.
Aku pernah mengenalnya. Menulis potret kepemimpinannya di Kabupaten Ngada. Menempatkan namanya di halaman depan surat kabar, di antara harapan dan doa rakyat yang mempercayainya.
Bagiku, ia bukan sekadar nama yang terukir di atas batu pualam masa jabatan. Ia adalah sosok yang pernah berdiri di panggung terbuka dan benderang, tempat setiap langkah dipantau ribuan mata.
Kini, namanya kembali terlempar ke hadapan banyak mata. Bukan lagi karena kebijakan. Melainkan karena prahara yang bersembunyi di balik pintu rumahnya sendiri.
Naluri penulisku membisikkan: Ini bukan sekadar berita yang berlalu seperti awan di musim hujan. Ini adalah cermin yang menampakkan bahwa di balik setiap jubah kehormatan, selalu ada hati yang berdarah.
DUA CERMIN YANG BERBEDA
Apa yang terjadi ketika panggung itu meredup dan tirai kehidupan pribadinya ikut tersibak?
Istrinya, Yasinta Paulina Ngani dengan akun MissYanthie, melaporkannya kepada penegak hukum atas dugaan kekerasan yang tak tampak di badan, namun merobek kedamaian jiwa.
Di ruang terbuka, kedua pihak menyampaikan penuturan yang berbeda. Seperti dua cermin yang berdiri berhadapan, namun memantulkan bayangan yang tak pernah sama persis.
Marianus membuka hatinya pada Jumat, 10 Oktober 2026. Ia bercerita tentang hari-hari yang berlalu di antara badai pertengkaran. Tiga tahun delapan bulan kedamaian adalah tamu yang jarang singgah di atap rumahnya. Tentang jamuan makan yang berakhir dengan air mata. Tentang perjalanan pulang yang tak terasa seperti pulang, tetapi pergi dari satu luka ke luka yang lain.
Di sisi lain, ada suara yang berkata bahwa luka itu lebih dalam daripada yang terlihat. Dan ada kebenaran yang hanya akan terungkap di hadapan mereka yang berkewajiban mencarinya.
PELAJARAN DARI GIDDENS
Ketika pintu rumah terbuka lebar ke hadapan mata dunia, biarlah kita berhenti sejenak sebelum menjatuhkan batu penghakiman.
Konflik di dalam rumah bukanlah pertunjukan di mana ada pahlawan yang bersinar terang dan penjahat yang berdiri dalam bayang-bayang. Di dalamnya terdapat dua manusia yang berjalan di lorong yang sama, namun kadang melupakan bahwa mereka berjalan ke arah yang seharusnya sama.
Sosiolog Anthony GiddensĀ mengingatkan bahwa hubungan antar manusia menuntut ruang tempat setiap suara didengar dengan hormat, tempat kebenaran tidak perlu berteriak untuk dipercaya. Ketika ruang itu runtuh, rumah yang seharusnya menjadi tempat beristirahat berubah menjadi medan tak ada pemenang.
Dunia maya sering kali menjelma menjadi pengadilan yang terlalu cepat menjatuhkan vonis. Kita membaca satu kalimat, satu kutipan, dan tiba-tiba merasa memegang seluruh kebenaran di telapak tangan.
MANUSIA DI BALIK GELAR
Kekuasaan dan ketenaran adalah pakaian yang indah. Namun ia tidak melindungi seseorang dari kelemahan yang melekat pada setiap jiwa manusia.
Marianus Sae pernah duduk di kursi yang tinggi, namanya disebut dengan hormat, keputusannya memengaruhi banyak kehidupan. Pernah memimpin Kabupaten Ngada dua periode, dan digadang menjadi Gubernur NTT sebelum kasus hukum menghentikan langkahnya. Namun di hadapan persoalan yang tumbuh di dalam rumahnya sendiri, ia sama kecil, sama bingung, sama rapuhnya dengan siapa pun dari kita.
Panggung dunia suatu saat akan ditutup. Lampu-lampu sorot akan dipadamkan. Gelar-gelar akan ditinggalkan di meja kerja. Yang tersisa hanyalah diri kita sendiri.
PESAN UNTUK KEDUANYA
Kepadamu saudaraku, Marianus Sae. Kalau jalan damai sudah benar-benar tidak mungkin lagi, jalani proses ini dengan kepala dingin dan hati terbuka. Biarkan kebenaran ditemukan oleh mereka yang bertugas mencarinya, bukan oleh siapa yang berseru paling lantang di jalanan.
Dan kepadamu saudariku, Yasinta Paulina Ngani, yang pasti merasa memikul beban berat. Kalau jalan damai sudah benar-benar kandas, jalur hukum yang engkau tempuh adalah jalan terakhir yang terang. Sampaikanlah semua yang perlu disampaikan dengan tenang dan teratur.
Bagi kita yang menyaksikan, belajarlah menahan langkah sebelum menjatuhkan pandangan. Janganlah terburu-buru membagi dunia menjadi hitam dan putih. Ingatlah bahwa di balik setiap nama yang menjadi berita, ada manusia yang bernapas, yang hatinya terluka.
Pada akhirnya, waktu akan menyapu debu keributan, dan kebenaran akan berdiri tegak dengan sendirinya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita semua melewati prahara ini. Apakah dengan semakin mengasah kebencian, atau dengan belajar bahwa setiap manusia, setenar apa pun, memanggul salibnya masing-masing?
Di hadapan kebenaran yang hakiki, kita semua hanyalah jiwa yang sama-sama sedang berjuang.
—
Catatan Redaksi: Opini ini adalah refleksi kemanusiaan penulis. Perkara hukum yang dilaporkan masih dalam proses penyelidikan aparat penegak hukum dan menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah.
Penulis: FA
Borong, Rabu 14-10-2026










