Manggarai, ISTANA NETIZEN.COM – Sudah berhari-hari sejak Gempa M7,7 mengguncang Flores. Namun bagi warga, bencana belum selesai. Di balik tenda-tenda pengungsian, mereka masih bertarung dengan dingin, angin, dan rasa takut yang belum usai.
Tulisan dari Paulus Hadir, warga Desa Satar Ngkeling, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, mewakili isi hati ribuan korban gempa di Pulau Flores. Opini ini dikirimkan ke redaksi _Istana Netizen Com_ pada Senin, 31 Agustus 2026.
“Tangan Sibuk Menutup Celah Terpal, Tubuh Menggigil Kedinginan”
Paulus menggambarkan malam di pengungsian bukan sebagai tempat istirahat, tapi sebagai perjuangan.

“Malam ini, dari balik celah-celah terpal tenda yang rapuh, kami melihat kenyataan yang membuat hati perih. Bapak-bapak dan Ibu-ibu bangun dari tidur yang tak pernah nyenyak, tangan mereka sibuk menutup celah-celah terpal yang terbuka — berusaha sekuat tenaga menahan dinginnya angin malam yang menusuk hingga ke tulang,” tulisnya.
Terpal yang digunakan pun bukan tenda layak. Sudah rusak dimakan panas matahari dan dihantam angin malam.
“Tiada lagi tempat yang benar-benar kering dan terlindungi,” lanjutnya.
Sembako Habis, Hunian Layak Mendesak
Warga bersyukur atas bantuan sembako. Namun menurut Paulus, itu hanya cukup untuk 1-2 kali makan. Kebutuhan paling mendesak justru tempat berteduh yang layak.
“Sementara kami tidur di sini malam demi malam, dan kebutuhan akan tempat berlindung yang layak — yang bisa menahan panas, menahan dingin, menahan angin dan hujan — itu adalah kebutuhan yang jauh lebih mendesak dan mendasar,” tegasnya.
Kekhawatiran semakin besar karena sudah ada warga yang jatuh sakit.
“Apalagi anak-anak, lansia, dan mereka yang sedang sakit — mereka yang paling rentan, kini paling menderita.” Pertanyaan besar muncul: “Apabila musim hujan tiba nanti, ke mana lagi kami harus berlindung?”
Trauma Bikin Takut Pulang ke Rumah
Meski ada rumah yang tidak rusak, trauma membuat warga tak berani kembali.
“Banyak dari kami yang masih diliputi rasa trauma yang mendalam — tak berani kembali tidur di dalamnya, lebih memilih tinggal di tenda yang tak layak, sekadar merasa lebih aman di luar.”
Paulus memahami pembangunan rumah butuh proses. Namun ia memohon agar pemerintah tidak membiarkan warga menunggu dalam ketidaklayakan.
“Kami memohon agar pihak pemerintah tidak hanya melihat bencana ini dari satu sisi saja… Yang paling mendesak saat ini adalah tempat hunian sementara yang benar-benar layak.”
“Kami Ingin Pulang. Kami Ingin Tidur Dengan Tenang”
Tulisan ini ditutup dengan permohonan yang pilu.
“Kami ingin pulang. Kami ingin tidur dengan tenang. Kami ingin kembali memiliki tempat yang benar-benar melindungi kami — bukan hanya untuk makan, tapi untuk hidup dengan layak, sebagai manusia yang berhak atas keselamatan dan perlindungan. Sampai kapan kami menanti?”
_Istana Netizen Com_ mencatat, berdasarkan data BPBD Kab. Manggarai per 31 Agustus 2026, jumlah pengungsi mencapai 52.987 jiwa dengan 21.348 jiwa di antaranya kelompok rentan.
Tanggapan Redaksi:
Kami meneruskan suara ini kepada @BPBDNTT dan @GubernurNTT. Bantuan pangan penting, tapi hunian sementara yang layak adalah soal martabat dan keselamatan. Jangan biarkan warga Flores menunggu terlalu lama.***
Penulis Opini: Paulus Hadir.
Editor : Tim Redaksi Istana Netizen










