JAKARTA, ISTANANETIZEN.COM – Narasi Denny Indrayana cs yang menyebut Gibran tidak lulus SMA dan wajib didiskualifikasi, dibantah telak oleh Grace Natalie.

Mantan Ketua Umum PSI yang kini menjadi pengamat politik itu dalam video yang viral Jumat (9/10/2026) menilai, argumentasi Denny punya masalah mendasar: memaksakan sistem pendidikan Indonesia untuk membaca sistem pendidikan negara lain.
“Sebuah narasi yang terus dibangun oleh Denny Indrayana dan kawan-kawan, bahwa Gibran tidak tamat SMA dan wajib didiskualifikasi sebagai Wapres. Saya melihat ini ada masalah, dia memaksakan sistem pendidikan Indonesia untuk membaca sistem pendidikan negara lain,” ujar Grace Natalie.
Sistem Pendidikan Beda Negara Beda Jalur
Grace menjelaskan, setiap negara punya jalur pendidikan yang berbeda-beda. Kalau di Indonesia lazimnya SMP, SMA kelas 10, 11, 12 lalu dapat ijazah SMA baru lanjut kuliah, di negara lain ada banyak jalur: A Level, O Level, foundation, diploma, advanced diploma.
“Mas Gibran menempuh pendidikan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Tentu saja sistemnya tidak bisa diterjemahkan dengan istilah yang ada di Indonesia, karena sistemnya berbeda,” tegasnya.
Denny bersikukuh mengatakan Gibran tidak tamat SMA karena yang ada hanya Certificate of Attendance dan transkrip, bukan ijazah SMA.
Grace mempertanyakan logika itu:
“Jika ini diterapkan konsisten, bagaimana nasib anak-anak Indonesia yang sekolah di luar negeri yang masuk melalui jalur foundation atau diploma yang memang tidak mengenal ijazah SMA seperti di Indonesia? Apakah semuanya mau dianggap tidak tamat SMA? Tentunya tidak seperti itu kan?”
Penyetaraan Bukan Satu Lembar Ijazah
Grace menegaskan, di Indonesia Kemendikbudristek punya mekanisme bernama penyetaraan.
“Dalam persidangan, Kemendikbud menjelaskan untuk anak-anak yang studi di luar negeri termasuk Mas Gibran, proses penyetaraan tidak dilihat hanya dari satu lembar kertas berjudul ijazah SMA, tapi dilihat perjalanan pendidikannya, transkrip, capaian pembelajaran, dan kesinambungan pendidikannya,” jelasnya.
Grace mengingatkan satu fakta penting yang sengaja dipotong:
“Jangan lupa, setelah UTS Insearch di Australia, Mas Gibran lanjut ke MDIS dan mendapatkan Sertifikat Advance Diploma, lalu lanjut S1 Bachelor. Perjalanan pendidikannya jangan dipotong hanya di UTS Insearch lalu dikatakan tidak ada ijazah SMA maka tidak tamat SMA. Itu namanya membodohi publik.”
KBRI Tidak Wajib Simpan Ijazah Pelajar
Terkait pernyataan KBRI Singapura dan Australia yang menyebut tidak menyimpan dokumen akademik Gibran, Grace menyebut itu logika ngawur.
“Tidak ada kewajiban dari pelajar Indonesia dimanapun untuk menyetorkan dokumen akademik mereka ke kedutaan. Juga bukan tugas kedutaan untuk mengumpulkan data akademik pelajar Indonesia di luar negeri,” ujarnya.
Ia mencontohkan dirinya sendiri yang master dua kali di National University of Singapore dan Singapore Management University, tidak pernah diminta KBRI untuk menyetorkan transkrip.
“Jadi jangan dibuat narasi seolah-olah kalau KBRI tidak memiliki dokumen Mas Gibran maka artinya tidak lulus atau tidak bersekolah di sana. Ini logika yang sangat-sangat ngawur.”
Pola Serangan yang Sama
Grace pun menyoroti pola serangan yang berulang:
“Kapan selesainya ya urusan ijazah ini? Tadinya Pak Jokowi yang dikatakan ijazahnya palsu. Sekarang Mas Gibran yang didalilkan. Orang yang mempermasalahkan ya dia-dia juga. Apakah isu ini memang sengaja dipelihara?”
Redaksi Istana Netizen Com
—









