JAKARTA, ISTANANETIZEN.COM – Situasi berubah drastis. Gugatan ijazah Gibran Rakabuming Raka oleh Prof Denny Indrayana dkk ke MK sudah diputus.

Fakta hukum terbaru per 6 Oktober 2026:
1. MK menolak gugatan perkara No 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 karena pemohon tidak punya Legal Standing. Artinya bukan peserta Pilpres 2024.
2. Namun dalam pertimbangan, MK menyebut tidak menemukan bukti meyakinkan berupa ijazah, sertifikat, atau diploma setara SLTA dari luar negeri milik Gibran.
3. KPU sendiri menilai gugatan ini sejak awal adalah upaya pemakzulan terselubung.
4. Denny Indrayana langsung menyatakan akan audiensi ke DPR RI untuk dorong pemakzulan / impeachment.
Dari sini, peta kepentingan untuk memakzulkan Gibran menjadi jelas.
SIAPA PALING BERKEPENTINGAN MEMAKZULKAN GIBRAN DI DPR?
1. Kelompok Oposisi Ideologis – Prof Denny Indrayana, Refly Harun, Bambang Widjojanto dkk
Mereka bukan cari uang. Denny sendiri bilang kuasa hukumnya gratis. Kepentingannya adalah delegitimasi. Mereka ingin membuktikan Pilpres 2024 cacat sejak syarat pencalonan. Jika Gibran jatuh, maka seluruh narasi “Jokowi cawe-cawe” terbukti. Ini modal besar untuk 2029.
2. Partai Kalah Pilpres 2024 & Poros Anti-Jokowi
Kubu tertentu, Partai Ummat yang jadi pemohon, dan barisan sakit hati 2024 berkepentingan. Jika Gibran dimakzulkan, maka kursi Wapres kosong. Menurut UUD Pasal 8, Presiden harus usulkan 2 nama ke MPR. Ini celah emas bagi mereka untuk masuk kembali ke lingkaran kekuasaan tanpa pemilu.
3. Rival Internal di Dalam Koalisi Gemuk – Ini Paling Berbahaya!
Ini yang tak banyak dibahas media. Kursi Wapres itu sangat seksi. Jika Gibran turun dari tahta, maka ada perebutan kursi nomor 2. Aktor-aktor di dalam KIM sendiri – dari Golkar, PAN, Demokrat, Gerindra sendiri – punya kepentingan untuk mendorong pemakzulan agar jagoannya bisa naik jadi Wapres.
Inilah yang dulu diwanti-wanti Jokowi kepada Prabowo: “Jangan sampai kalau ada yang kurang atau membebani pemerintahan, Mas Wapres yang disalahkan.”
Wanti-wanti itu kini terbukti profetik.
LALU APA PILIHAN SIKAP POLITIK PRABOWO SUBIANTO?
Prabowo kini di persimpangan paling dilematis, 3 pilihan ada di mejanya:
PILIHAN A: PASANG BADAN PENUH – Lindungi Gibran (Sikap Loyalitas)
Ini sikap paling logis secara politik. Prabowo sendiri yang 5 kali meminta izin Jokowi untuk meminang Gibran. Jika Prabowo biarkan Gibran dimakzulkan, maka Prabowo menghianati janji politiknya sendiri kepada Jokowi dan kepada 96 juta pemilihnya. Citra Prabowo sebagai pemimpin setia akan hancur.
Dampak: Koalisi solid, tapi Prabowo akan berhadapan dengan DPR dan oposisi yang bawa isu ijazah terus.
PILIHAN B: NETRAL & SERAHKAN KE HUKUM (Sikap Negarawan)
Prabowo bilang: “Saya serahkan ke mekanisme konstitusi, DPR dan MK.” Ini sikap aman. Tidak melindungi membabi buta, tidak juga mendorong. Biarkan DPR bekerja. Ini yang paling mungkin diambil Prabowo awal-awal.
PILIHAN C: LEPAS TANGAN / KORBAN KEPENTINGAN (Sikap Machiavelli)
Ini skenario paling dingin. Jika tekanan DPR sangat kuat dan isu ijazah mengganggu stabilitas pemerintahan, Prabowo bisa membiarkan proses pemakzulan berjalan. Dengan Gibran jatuh, Prabowo bisa memilih Wapres baru yang lebih senior, lebih bisa mengendalikan parlemen, dan melepaskan diri dari bayang-bayang Jokowi.
Tapi risiko pilihan C sangat besar: Perang terbuka dengan Jokowi dan relawannya.
PREDIKSI ISTANA NETIZEN:
Prabowo akan ambil PILIHAN A yang dibungkus PILIHAN B.
Di depan publik netral, di belakang layar pasang badan penuh. Karena bagi Prabowo, Gibran bukan sekadar Wapres. Gibran adalah jaminan bahwa suara Jokowi tetap di belakangnya sampai 2029.
Memakzulkan Gibran sama dengan memakzulkan setengah legitimasi kemenangan Prabowo sendiri.
Penulis: Analisis Politik Istana Netizen Com
—










