RUTENG, Media Istana Netizen Com – Kami membaca tuntas Opini http://Okebajo.com berjudul _”Provinsi Kepulauan Flores dan Hasrat Menjadi Tokoh Utama”_ yang terbit 28 September 2026. Tulisan itu bagus, satir, dan terlihat bijak. Namun mohon maaf, ada logika yang terbalik di sana.
Penulis opini mempertanyakan: Apakah yang diperjuangkan itu Provinsi Kepulauan Flores, atau pengakuan sebagai pejuang?
Kami jawab tegas: Yang diperjuangkan P4KF adalah lahirnya provinsi. Dokumentasi di media adalah BUKTI bahwa perjuangan itu nyata, bukan klaim kosong.
Justru ironi terbesar adalah ini: Provinsinya belum mekar karena prosesnya memang sengaja dibuat tidak terlihat oleh negara. Jika kami diam, siapa yang tahu?
Poin Sanggahan 1: P4KF Bukan Pemilik Perjuangan, Tapi Pencatat Sejarah Yang Dilupakan Negara*
Opini menyebut PKF adalah perjuangan kolektif sejak lama, melibatkan banyak tangan, bukan milik satu organisasi.
BENAR! Dan P4KF tidak pernah mengklaim pemilik.
Fakta yang tidak ditulis opini: Gagasan PKF sudah ada sejak 7 Maret 1954 di Hadakewa, Lembata.* Selama 70 tahun gagasan itu hidup mati, hilang di laci-laci birokrasi Kupang dan Jakarta.
Siapa yang merapikan kembali arsip berdebu itu? Siapa yang menyisir 9 kabupaten untuk minta tanda tangan bupati dan DPRD? Siapa yang mengunci 12 parpol di Kupang (bukti PSI 27 Juni 2022, PPP 1 Oktober, PKS 10 Oktober, PDIP 11 Oktober 2022) dan menyerahkan resmi ke Gubernur & Ketua DPRD NTT (Mei & Oktober 2022)? Siapa yang bawa ke Jakarta 2023?
Jika itu disebut “hasrat menjadi tokoh utama”, maka semua wartawan pejuang kemerdekaan 1945 juga punya hasrat menjadi tokoh utama karena memberitakan proklamasi.
P4KF hanyalah SEKBER – Sekretariat Bersama. Isinya adalah tokoh masyarakat, akademisi, mantan birokrat dari 9 kabupaten itu sendiri. P4KF tidak merebut panggung, P4KF membuat panggungnya agar 9 kabupaten itu bisa naik bersama.
Poin Sanggahan 2: Ketika Penulis Berita Berada Di Pusaran Perjuangan, Itu Namanya JURNALISME ADVOKASI, Bukan Pelanggaran Etik
Opini menyoroti: wartawan idealnya mencari fakta, bukan validasi diri, dan mempertanyakan transparansi posisi penulis yang juga pengurus P4KF.
Kami jawab: Justru karena kami di dalam pusaran, kami tahu fakta aslinya.
Media arus utama di Labuan Bajo dan Kupang sering tidak punya waktu, biaya, dan minat meliput bolak-balik Ruteng-Kupang-Jakarta hanya untuk urusan surat tanda terima. Jika bukan kami yang menulis, apakah http://Okebajo.com akan menuliskan detail Nomor Surat 167/SEKBERP4KF/RTG/MGR/V/2022 yang diterima SETWAN 25 Mei 2022?
Jurnalisme advokasi untuk kepentingan publik – seperti perjuangan pemekaran Papua, Kepulauan Nias, Pulau Sumbawa – adalah sah. Yang tidak sah adalah jika kami memalsukan tanda tangan Ketua DPRD NTT Mama Emi Nomleni pada 17 Oktober 2022 yang menyatakan dukung PKF. Itu fakta, bukan promosi.
Poin Sanggahan 3: Setiap Langkah Harus Menjadi Berita, Karena Setiap Langkah Dibayar Dengan Uang Pribadi Dan Jalan Kaki
Opini menyindir: pertemuan diberitakan, audiensi diberitakan, rencana diberitakan.
Tahukah penulis opini, untuk satu tanda terima surat dari PSI saja, Tim Korwil Kupang harus 3 kali bolak-balik kantor DPW, menunggu ketua yang sedang reses, dengan biaya bensin dan fotokopi dari kantong pribadi? Tidak ada APBD, tidak ada sponsor.
Jika setiap langkah itu tidak diberitakan dan diarsipkan dengan tanggal, nomor surat, nama penerima dan stempel, maka besok negara akan bilang: “Mana buktinya kalian pernah berjuang?”
Publik Flores butuh tahu: Perjuangan PKF itu bukan tiba-tiba ada. Ia dicicil surat demi surat. Tanpa pemberitaan, masyarakat di Lembata tidak akan tahu bahwa Bupati Manggarai sudah tanda tangan, masyarakat di Manggarai Barat tidak akan tahu bahwa Ketua DPRD NTT sudah teruskan ke Komisi 1.
Penutup: Biarkan Sejarah Mencatat, Tapi Sejarah Butuh Catatan
Opini ditutup dengan kalimat indah: “Biarkan masyarakat yang menilai, biarkan sejarah yang menentukan.”
Kami sangat setuju.
Tapi sejarah tidak mencatat dari angin. Sejarah mencatat dari berita, arsip, bukti tanda terima, dan Berita Acara 3 Oktober 2022 di Fatululi Kupang yang kami publikasikan itu.
Jika hari ini P4KF terlihat paling gencar memberitakan, itu bukan karena hasrat menjadi tokoh utama. Tapi karena jika kami berhenti memberitakan sehari saja, isu PKF akan tenggelam oleh isu bonus Kades Rp12 juta, sidak lapas, dan bola Malaysia vs Indonesia di GBK yang juga ada di homepage http://Okebajo.com hari ini.
Kami tidak berebut gelar pejuang. Kami hanya memastikan, ketika Provinsi Kepulauan Flores itu mekar nanti, anak cucu kami di 9 kabupaten tahu: Provinsi ini lahir bukan dari hadiah Jakarta, tapi dari 70 tahun keringat kolektif yang pernah dicatat, diberitakan, dan diperjuangkan bersama.***
Manggarai, 28 September 2026
Redaksi Media Istana Netizen Com







