ISTANETIZEN.COM, MAKASSAR –
Kita sering mengukur pemimpin dari keberanian, ketegasan, dan kemampuan berpidato. Padahal ada satu kualitas yang sering luput: kecerdasan emosional.

Pertanyaan mendasarnya sederhana: mampukah seorang pemimpin mengendalikan emosinya saat menghadapi kritik?
Sebab memimpin negara bukan hanya soal mengendalikan keadaan. Ini juga soal mengendalikan diri sendiri.
Ketika Marah Presiden Didengar Jutaan Orang
Seorang pemimpin tetap manusia. Ia bisa marah, kecewa, tersinggung. Itu manusiawi.
Tapi ketika seseorang sudah menjadi presiden, emosi pribadi bukan lagi urusan pribadi.
“Ketika warga biasa marah, mungkin hanya sedikit yang mendengar. Ketika presiden marah di ruang publik, jutaan orang mendengar. Bahkan dunia ikut menilai,” tulis Rudi Sinaba dalam opininya.
Di era media sosial, masalahnya makin pelik. Pemimpin bicara 5 detik. Besok potongannya jadi meme. Lusa dibedah jutaan orang. Pemimpin mungkin sudah lupa. Internet tidak.
Karena itu, dalam komunikasi publik, niat tidak selalu sama dengan dampak. Maksudnya tegas, bisa ditangkap sebagai marah. Maksudnya membela, bisa ditangkap sebagai menolak kritik.
Dari “Siapa yang Menyerang Saya” ke “Apa yang Mereka Katakan”
Rudi mengingatkan, pemimpin yang matang memahami bahwa rakyat tidak hanya mendengar apa yang dikatakan, tapi juga bagaimana sesuatu dikatakan.
Di sinilah letak ujian. Bukan saat semua orang bertepuk tangan. Tapi saat ada yang berani berkata: “Pak, itu keliru.”
Masalahnya, kekuasaan sering menciptakan echo chamber. Di dalam ruangan penuh pujian. Di luar ruangan, rakyat punya penilaian berbeda.
Pemimpin yang cerdas secara emosional tidak hanya bertanya: “Siapa yang menyerang saya?”
Ia juga bertanya: “Apa yang sedang mereka katakan kepada saya?”
Yang pertama lahir dari sikap defensif. Yang kedua lahir dari kedewasaan.
Tegas Boleh, Marah Tidak Wajib
Rudi menegaskan, seorang presiden boleh tegas. Boleh keras dalam prinsip. Boleh mempertahankan kebijakan.

“Tetapi ketegasan tidak harus disertai kemarahan. Keberanian tidak harus disertai penghinaan. Kewibawaan tidak membutuhkan suara yang tinggi,” ujarnya.
Kadang jawaban paling kuat justru paling sederhana: “Saya mendengar kritik Anda.”
Itu bukan tanda menyerah. Itu tanda seorang pemimpin cukup kuat untuk mendengar.
Sebab presiden tidak hanya memimpin orang yang memujinya. Ia juga memimpin mereka yang tidak setuju dengannya. Itulah demokrasi.
Cermin dari Rakyat
Ketika seorang presiden berbicara tenang, dunia melihat kematangan. Ketika menjawab kritik secara rasional, dunia melihat kedewasaan. Tapi ketika komunikasi terlihat emosional dan reaktif, citra negara ikut terbawa.
“Kecerdasan emosional seorang pemimpin bukan diukur dari seberapa keras ia berbicara ketika mendapat tepuk tangan. Ia diukur dari seberapa tenang ia ketika mendengar kritik,” tulis Rudi.
Bukan dari seberapa cepat ia membalas, tapi dari seberapa dalam ia memahami.
Kekuasaan bisa mengumpulkan loyalitas dan tepuk tangan. Tapi kekuasaan tidak bisa membeli satu hal: kemampuan melihat diri sendiri secara jujur.
“Seorang pemimpin mungkin tidak kehilangan kewibawaannya karena terlalu banyak dikritik. Ia justru bisa kehilangan kewibawaannya ketika terlalu lama percaya bahwa dirinya tidak perlu dikritik,” pungkasnya.
Sebab rakyat tidak butuh pemimpin yang selalu menang debat. Rakyat butuh pemimpin yang mampu mendengar. Dan negara butuh pemimpin yang cukup dewasa untuk memperbaiki diri ketika rakyat menunjukkan cermin.***
Reporter : AJ
Editor : Tim Redaksi Istana Netizen











