ISTANA NETIZEN.com, FLORES NTT – Gempa datang tanpa permisi. Dalam hitungan detik, kampung Dampek di Flores, NTT luluh lantah. Rumah, sekolah, tempat ibadah, dan infrastruktur yang dibangun puluhan tahun rata dengan tanah.
“Yang runtuh bukan sekadar bangunan dan harta benda. Tapi juga rasa aman dan sebagian harapan kami,” tulis Plasidus Asis Deornay, putra asli Dampek dan mahasiswa Pascasarjana Magister Hukum UNAS Jakarta dalam curahan hatinya.
Trauma Mendalam, Anak-Anak Takut Suara Keras
Video dan foto dari Dampek memperlihatkan pemandangan memilukan. Rumah retak, roboh, puing berserakan. Kantor desa rusak. Jalanan dipenuhi truk bantuan.
Duka semakin dalam karena ada korban jiwa, patah tulang, dan luka. Tapi luka yang paling berat, kata Plasidus, adalah trauma.

“Anak-anak takut mendengar suara keras. Orang tua cemas untuk kembali tidur di rumah. Banyak keluarga kehilangan tempat untuk pulang dan harus belajar menjalani hari di tengah puing-puing,” lanjutnya.
Dari Puing, Tumbuh Harapan Baru
Di tengah keterpurukan, warga Dampek memilih bangkit. Mereka memasak di dapur umum, membangun tenda pengungsian, saling menguatkan, dan berdoa bersama.
“Kami memang harus memulai dari nol. Namun kami tidak memulai tanpa apa-apa. Kami masih memiliki keluarga, persaudaraan, gotong royong, doa, dan tangan-tangan yang bersedia saling menguatkan,” tegas Plasidus.
Ia berpesan: “Ketika rumah-rumah telah roboh, jangan biarkan kepedulian ikut roboh. Ketika tempat ibadah hancur, jangan biarkan iman ikut terkubur.”
Pesan Penulis: Jangan Kenang Kami Sebagai Korban
Plasidus menutup tulisannya dengan keyakinan. Kampung Dampek yang hari ini luluh lantah, akan bangkit lagi.
“Kami tidak ingin selamanya dikenang sebagai korban bencana. Kami ingin dikenang sebagai manusia yang pernah jatuh, pernah kehilangan hampir segalanya, tetapi memilih untuk bangkit.”
“Gempa boleh meruntuhkan rumah kami, tetapi jangan sampai ia meruntuhkan kemanusiaan dan harapan kami.”
Penulis: Plasidus Asis Deornay – Putra Asal Dampek, Mahasiswa Magister Hukum UNAS Jakarta
Editor: Tim Redaksi Istana Nrtizen










