ISTANA NETIZEN.com, MANGGARAI – Gempa 7,7 SR merobohkan rumah dan sekolah. Tapi semangat belajar anak-anak Flores tidak ikut runtuh.
Di Dusun Nano, Desa Lenda, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, Flores – NTT, seorang guru PPPK paruh waktu bernama Robertus Dono, 39 tahun, tetap mengajar 19 muridnya di tenda pengungsian darurat. Beralaskan tikar, beratapkan terpal, tanpa meja dan kursi.
Mengajar Satu-Satu di Tengah Keterbatasan
Video Berita Satu yang beredar Selasa 25 Agustus 2026 memperlihatkan Robertus duduk lesehan bersama murid-murid SDN Madona. Ia dengan sabar memeriksa tulisan anak-anak satu per satu.

“Tak ada papan tulis, tak ada bangku. Tapi anak-anak tetap semangat. Kami belajar di bawah tenda ini,” kata Robertus.
Kegiatan belajar mengajar ini menjadi pelarian bagi anak-anak korban gempa agar tidak larut dalam trauma.
Rumah Baru Setahun, Kini Rata dengan Tanah
Duka Robertus berlipat. Saat gempa terjadi Sabtu (15/8) dini hari, ia bersama istri dan 3 anaknya berhasil menyelamatkan diri.
Namun rumah yang baru setahun ia bangun dari hasil menabung sebagai guru honorer kini nyaris rata dengan tanah.
“Rumah itu kami bangun dengan proses panjang. Menabung sedikit-sedikit. Sekarang sudah dirusak gempa,” ucapnya dengan mata berkaca.
Tidak hanya rumah Robertus. Di Dusun Nano, 16 rumah rusak parah. 20 warga kini terpaksa tinggal di tenda darurat yang sama. Setiap malam mereka harus bertahan dengan udara dingin.
Harapan: Bantuan dan Sekolah Kembali Berdiri
Saat ini Robertus dan warga lain berharap bantuan segera tiba. Kebutuhan mendesak: makanan, kebutuhan dasar, dan tenda yang lebih layak.
Harapan terbesarnya: rumah kembali dibangun dan sekolah bisa berdiri kokoh agar anak-anak bisa belajar seperti sedia kala.
Kisah Robertus menjadi bukti. Di tengah keterbatasan, pendidikan tetap jalan. Karena guru dan murid di Flores memilih untuk tidak menyerah.***
Reporter: Tim Redaksi . Editor: AJ















