Istananetizen.com, Bukittinggi, Sabtu 25 Juli 2026 — Universitas Republik Indonesia (URI) resmi hadir sebagai “benteng” pencetak pemimpin bangsa. URI disebut mengadopsi model L’École Nationale d’Administration (ENA) di Prancis yang kini sudah dilikuidasi Presiden Emmanuel Macron dan diganti menjadi Institut National du Service Public (INSP).
Pertanyaannya: apakah URI akan menjadi kawah candradimuka pemimpin tangguh, atau justru menjadi institusi eksklusif baru?
Dari Ladang Sawit ke Kampus Kepemimpinan
Keputusan besar itu diketok lewat Keppres Nomor 80/P Tahun 2026, 22 Juli 2026. Presiden Prabowo Subianto melantik Marsekal TNI Purn Donny Ermawan Taufanto sebagai Gubernur URI, didampingi Prof. Yos Sunitiyoso sebagai Wakil Gubernur.
Donny adalah mantan Wamenhan dan lulusan terbaik AAU 1988. Sementara Yos adalah Guru Besar SBM ITB, ahli pemodelan sistem.
Yang menarik: URI tidak bangun dari nol. Negara memanfaatkan aset tidur PT Perkebunan Nusantara di Cikasungka, Cigudeg, Bogor Utara. Pabrik sawit yang mati sejak 2013 dan sempat bermasalah limbah, kini disulap jadi kampus terpadu.

Sambil menunggu rampung, operasional rintisan URI jalan di 2 lantai gedung eks Kementerian BUMN, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta.
“Konversi aset ini efisien dan ramah lingkungan,” tulis Nora Margaret.
Payung Tunggal 3 Pilar Kediklatan
URI bukan kampus biasa. Mandatnya besar: menjadi payung tunggal untuk 3 lembaga negara:
1. Badan Pengelola Sekolah Unggulan → menjaring siswa terbaik lewat Sekolah Unggulan Garuda
2. Badan Pengelola Perguruan Tinggi → 10 kampus URI fokus STEM
3. Lembaga Administrasi Negara → diperkuat untuk mendidik calon eksekutif BUMN dan ASN
Tujuannya memotong birokrasi diklat yang selama ini tumpang tindih. Contoh nyata sudah jalan: Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan hasil kolaborasi dengan Kementerian BUMN dan Danantara. 399 pegawai pilihan ditempa 9 bulan di Hambalang secara fisik, mental, dan spiritual.
“Tidak ada lagi tempat bagi birokrat amatiran yang bermanja-manja dengan fasilitas negara!”
Mengadopsi Model Dunia, Belajar dari ENA-INSP
Menurut Nora, URI mengadopsi model sukses dunia seperti ENA Prancis. Lembaga elite itu terbukti melahirkan presiden, menteri, dan diplomat karena kurikulum kepemimpinannya yang disiplin.
Manfaat jangka pendek: standarisasi kompetensi seluruh pengambil kebijakan.
Manfaat jangka panjang: URI disebut sebagai “vaksin” untuk memberantas KKN melalui sistem meritokrasi sejak usia sekolah.
“Ketika tampuk kekuasaan dipegang orang berintegritas tinggi dengan kecakapan mumpuni, maka akselerasi menuju Indonesia Emas bukan lagi mimpi di atas kertas.”
Refleksi Kritis: Eksklusif atau Pemerataan?
Namun di akhir tulisannya, Bu Guru melempar pertanyaan penting.
“Secara profesional, saya memahami aspirasi di balik kebijakan ini. Namun, hal tersebut memicu refleksi krusial: daripada berinvestasi pada pembentukan institusi eksklusif baru, bukankah akan lebih efektif jika fokus dan sumber daya dialokasikan untuk optimalisasi serta pemerataan kualitas sekolah-sekolah yang sudah ada?”
Ia mengajak publik berdiskusi pro kontra secara elegan dan intelek.
“Sejarah mencatat bangsa besar tidak membiarkan roda kemudinya digerakkan oleh keberuntungan. Kita harus berani mendesain masa depan. Benteng kepemimpinan telah didirikan, kawah candradimuka telah membara. Semoga lahir generasi pemimpin yang tangguh, jujur, berkarakter baja, dan mencintai rakyat tanpa syarat.”
Catatan Redaksi Istana Netizen Com:
Tulisan ini adalah opini Nora Margaret dan tidak mencerminkan sikap redaksi.
Reporter : AJ
Editor : Tim Redaksi Istana Netizen Com












