ISTANANETIZEN.COM, MAKASSAR — Pengamat politik asal Makassar Rudi Sinaba menilai runtuhnya kepercayaan publik terhadap pemerintah menjadi faktor utama lahirnya revolusi di berbagai belahan dunia.

Dalam tulisannya, Rabu 5 Agustus 2026, Rudi menegaskan bahwa legitimasi sosial jauh lebih menentukan keberlangsungan kekuasaan dibanding kekuatan militer maupun kekayaan negara.
“Kepercayaan adalah modal politik yang lebih berharga daripada kekuatan militer maupun kekayaan negara. Pemerintah boleh memiliki aparat kuat dan anggaran besar, tetapi jika rakyat tidak lagi percaya, fondasi kekuasaan akan retak,” ujarnya.
Legitimasi Sosial vs Legitimasi Hukum
Menurut Rudi, legitimasi sosial berbeda dengan legitimasi hukum. Jika legitimasi hukum bersumber dari konstitusi dan UU, maka legitimasi sosial lahir dari penerimaan masyarakat.
“Legitimasi sosial tidak selalu tertulis, tetapi hidup dalam kesadaran publik,” kata Rudi.
Ia menyebut legitimasi sosial terbentuk dari akumulasi persoalan yang dibiarkan terlalu lama: ketimpangan ekonomi, penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, diskriminasi, hingga tertutupnya ruang dialog.

“Ketika akumulasi itu mencapai titik jenuh, masyarakat mulai kehilangan kepercayaan kepada pemerintah. Pada saat itulah legitimasi sosial berpindah dari penguasa kepada gerakan perubahan,” jelasnya.
Revolusi Lahir dari Kesenjangan Harapan
Mengutip pemikiran Alexis de Tocqueville, Rudi menyebut revolusi sering terjadi bukan saat rakyat paling miskin, melainkan saat harapan meningkat tetapi kenyataan tidak berubah.
“Revolusi tidak selalu lahir dari kemiskinan, melainkan dari kesadaran bahwa keadaan seharusnya bisa lebih baik,” katanya.
Pelajaran dari 4 Revolusi Besar Dunia
Rudi merinci 4 contoh sejarah untuk menggambarkan dinamika legitimasi sosial:
1. Revolusi Amerika: Keyakinan rakyat berhak menentukan nasib politiknya sendiri
2. Revolusi Prancis: Dipicu ketimpangan sosial, melahirkan gagasan kebebasan, persamaan, persaudaraan
3. Revolusi Rusia: Menggulingkan rezim tapi berujung sentralisasi. “Menggulingkan pemerintah belum tentu membangun masyarakat yang lebih adil”
4. Revolusi Iran: Dig erakkan gabungan faktor politik, ekonomi, budaya, dan agama
Peringatan: Revolusi Bukan Tujuan Akhir
“Kekuasaan lahir dari persetujuan masyarakat untuk dipimpin. Kekerasan muncul ketika legitimasi melemah,” ujar Rudi mengutip Hannah Arendt.
Ia juga memperingatkan:
“Jika setelah perubahan tidak lahir institusi yang adil, pemerintahan akuntabel, dan supremasi hukum, maka revolusi hanya mengganti nama penguasa tanpa mengubah nasib rakyat.”
Solusi: Dialog dan Keadilan
“Dialog, transparansi, penegakan hukum yang adil, dan penghormatan terhadap hak warga adalah cara terbaik menjaga legitimasi sosial tetap hidup,” kata Rudi.
“Legitimasi sosial adalah cermin hubungan antara pemerintah dan rakyat. Ia tidak bisa dibeli dengan propaganda, dipaksakan dengan kekuatan, atau dipertahankan hanya dengan hukum.”
Reporter: Tim http://IstanaNetizen.com
Editor : AJ










