ISTANA NETIZEN.COM, PACAR, MANGGARAI BARAT — Gempa Flores 15 Agustus 2026 dengan magnitudo 7,7 tidak hanya merobohkan tembok. Gempa itu juga meretakkan banyak fasilitas publik, termasuk gedung sekolah mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi di 8 kabupaten di Pulau Flores.

Delapan kabupaten itu adalah: Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, dan Flores Timur.
Tapi di tengah kerusakan itu, ada kisah yang menguatkan. Tepatnya di Desa Waka, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat.
Dari Tenda Darurat ke Kelas Bambu Swadaya
Bukti nyata ketangguhan itu dibagikan Hendy Harum, Guru SDK Puing Desa Waka, melalui akun Facebooknya, Senin 7 September 2026.
_”Gempa mungkin merusak bangunan, tetapi jangan sampai meruntuhkan semangat belajar. Hari ini mereka belajar di tenda darurat, karena pendidikan dan masa depan harus tetap berjalan.”_
Foto yang diunggah Hendy memperlihatkan puluhan siswa SDK Puing berseragam putih-merah. Mereka duduk rapi di meja kayu, belajar di bawah tenda darurat dan bangunan semi permanen. Wajah-wajah cerah itu menjadi bukti: keterbatasan tidak memadamkan cita-cita.
Orang Tua Turun Tangan: Dirikan “Ruang Kelas Darurat”
Semangat itu ternyata bukan hanya dari guru dan murid. Sabtu, 5 September 2026, para wali murid SDK Puing kompak turun ke halaman sekolah.
Tujuannya satu: membangun Ruang Kelas Darurat secara swadaya.
Tidak ada semen. Tidak ada tukang profesional. Yang ada hanya bambu, kayu lokal, dan terpal seadanya. Tiang dan dinding diikat gotong royong. Atapnya ditutup terpal.
_”Ini bentuk cinta kami ke anak-anak. Sekolah boleh rusak, tapi belajar harus jalan terus,”_ ujar salah satu orang tua yang ikut membangun.
Alasannya sederhana: pasca Gempa M7,7, banyak gedung sekolah retak dan membahayakan. Orang tua takut. Solusinya, keluar kelas. Bikin kelas baru di halaman yang aman, terbuka, dan bisa diawasi bersama.
“Yang Penting Ilmunya, Bukan Temboknya”
RKD ini memang sederhana. Lantainya masih tanah. Kursinya bangku kayu bekas.
Tapi di dalamnya ada doa, ada keringat, dan ada harapan besar: agar anak-anak Flores tidak tertinggal pelajaran.
Kisah SDK Puing Desa Waka ini menjadi potret re-thinking about value yang diajarkan alam. Bahwa pendidikan tidak butuh gedung mewah dulu untuk dimulai. Yang dibutuhkan adalah niat.
Unggahan Hendy Harum langsung mengundang simpati netizen. Banjir doa dan dukungan mengalir, dengan harapan pemerintah dan para donatur segera hadir membangun kembali gedung sekolah yang layak di 8 kabupaten terdampak.
Catatan Redaksi
Hingga awal September 2026, proses belajar mengajar di banyak sekolah di 8 kabupaten terdampak gempa Flores masih dilakukan di tenda darurat dan ruang darurat. Hak pendidikan anak harus tetap dijamin dan menjadi prioritas pemulihan.
Terima kasih untuk wali murid SDK Puing Desa Waka. Di saat susah, kalian justru paling kompak. Kalian sedang menulis sejarah.***
Penulis / Reporter: Tim Redaksi IstanaNetizen.com
Editor: AJ











