ISTAMA NETIZEN.COM, FLORES — Sudah 23 hari sejak Gempa Flores M7,7 mengguncang pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Gempa itu merobohkan tembok dan meretakkan fasilitas publik, termasuk gedung sekolah dari TK hingga perguruan tinggi` di 7 dari 8 kabupaten: Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, dan minus Flores Timur.

Di tengah reruntuhan, 3 potret muncul: desakan dari ruang sidang, ketegaran di tenda pengungsian, dan semangat gotong royong membangun masa depan anak-anak.
1. SUARA DARI SIDANG: “UTAMAKAN WARGA DI TENDA”
Senin 7 September 2026, usai Sidang Paripurna DPRD Provinsi NTT, Yunus Takandewa dikerumuni wartawan.
Yunus adalah Anggota Fraksi DPRD Provinsi NTT sekaligus Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi NTT. Ia baru saja turun ke lokasi bencana.
Lewat akun Facebooknya, ia menuliskan desakan yang sama dengan keluhan warga:
_”Banyak masukan agar penanganan pasca bencana mengutamakan kebutuhan warga yang kini masih berada di tenda pengungsian.”_ #lekaspulihflores
Hingga hari ke-23, ribuan KK masih bertahan di tenda darurat. Kebutuhan air bersih, MCK, dan hunian layak jadi prioritas.
2. POTRET DI LAPANGAN: “SEKOLAH BOLEH RUSAK, BELAJAR HARUS JALAN”
Di Desa Waka, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, ceritanya berbeda tapi semangatnya sama.
Hendy Harum, Guru SDK Puing Desa Waka, membagikan foto anak-anaknya belajar di tenda darurat pada 7 September 2026:
_”Gempa mungkin merusak bangunan, tetapi jangan sampai meruntuhkan semangat belajar. Hari ini mereka belajar di tenda darurat, karena pendidikan dan masa depan harus tetap berjalan.”_
Dua hari sebelumnya, Sabtu 5 September 2026, para wali murid tidak tinggal diam. Mereka gotong royong mendirikan 3 Ruang Kelas Darurat (RKD) dari bambu, kayu, dan terpal di halaman sekolah.
_”Ini bentuk cinta kami ke anak-anak. Sekolah boleh rusak, tapi belajar harus jalan terus,”_ ujar salah satu orang tua.
3. UPDATE BANTUAN: 2.136 TON TELAH TIBA DI NTT
Di tengah keterbatasan, dukungan nasional terus mengalir.
Berdasarkan data BNPB per Kamis, 4 September 2026, sebanyak 193 donatur bersama Dana Siap Pakai (DSP) BNPB telah bergotong royong.
Rinciannya:
– Total Bantuan: 2.136 ton telah diterima
– Terdistribusi: 99,74% sudah diberangkatkan
– Jalur: 114 sortie pesawat, 3 trip kapal laut, 16 truk darat
– Posko Logistik: Labuan Bajo dan Maumere untuk menjangkau 7 kabupaten terdampak
BNPB melalui kolaborasi lintas sektor terus memastikan pemerataan hingga ke setiap kecamatan dan desa. Koordinasi dilakukan dengan posko-posko kecamatan agar bantuan sesuai kebutuhan di lapangan.
BNPB juga menyampaikan terima kasih kepada donatur, kementerian/lembaga, TNI, pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat Indonesia.
_”Setiap dukungan menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, mempercepat pemulihan, dan menguatkan langkah NTT untuk bangkit kembali.”_ #GempaNTT #BNPBIndonesia
BENANG MERAH: KETANGGUHAN FLORES DI HARI KE-23
Tiga cerita ini adalah satu tarikan napas.
Yunus Takandewa menyuarakan dari ruang sidang. Wali murid SDK Puing membuktikan di lapangan. BNPB dan 193 donatur menopang dari udara, laut, dan darat.
Sama-sama mengatakan: Kami tidak menyerah.
Gempa boleh meretakkan gedung TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Tapi gempa gagal meretakkan semangat Flores untuk bangkit.
Catatan Redaksi http://IstanaNetizen.com
23 hari pasca bencana adalah fase kritis. Transisi dari tanggap darurat ke pemulihan.
Pemerintah, donatur, dan seluruh anak bangsa ditunggu aksinya. Agar tenda pengungsian segera diganti rumah, dan kelas bambu segera diganti gedung sekolah yang layak.
Karena yang kita selamatkan bukan hanya tembok. Tapi masa depan anak-anak NTT.***
Penulis / Reporter: Tim Redaksi http://IstanaNetizen.com
Editor: AJ










