Beranda » Jembatan Cunca Wulang Ambruk, 2 Turis Austria Tewas: Disparekrafbud Mabar Berduka, Edi Hardum Desak Gubernur dan Bupati Minta Maaf
ISTANA NETIZEN.COM – Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat menyatakan duka mendalam atas tewasnya dua wisatawan asal Austria akibat ambruknya Jembatan Cunca Wulang, Minggu, 24 Mei 2026.
Petrus Antonius Rasyid Kepala Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat.
Pengamat hukum Dr. Edi Hardum menyebut insiden ini sebagai kelalaian pemerintah dan mendesak Gubernur NTT serta Bupati Manggarai Barat meminta maaf secara terbuka.

Pernyataan Resmi Disparekrafbud Mabar
“Segenap keluarga besar Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat menyampaikan turut berduka cita yang mendalam atas meninggalnya wisatawan di destinasi wisata Cunca Wulang,” demikian pernyataan resmi Petrus Antonius Rasyid Kepala Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat yang dirilis Senin, 25 Mei 2026.
Disparekrafbud Mabar juga menyampaikan doa untuk korban dan keluarga. “Semoga para korban mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan penghiburan dalam menghadapi musibah ini,” tutup pernyataan itu.
Cunca Wulang Ditutup Sementara
Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Disparekrafbud resmi menutup sementara kawasan destinasi wisata Cunca Wulang sehari pasca tragedi.
Penutupan diumumkan lewat Surat Disparekrafbud Kabupaten Manggarai Barat Nomor 500.13/7/V/2026, tertanggal 24 Mei 2026 tentang Penutupan Sementara Kawasan Destinasi Wisata Cunca Wulang.

“Sehubungan dengan terjadinya insiden kecelakaan di Kawasan Destinasi Wisata Cunca Wulang pada hari Minggu, 24 Mei 2026 dan demi menjaga keselamatan serta keamanan seluruh pengunjung, maka dengan ini kami sampaikan bahwa mulai tanggal 25 Mei 2026 Kawasan Destinasi Wisata Cunca Wulang ditutup sementara sampai batas waktu yang akan ditentukan kemudian,” tulis Kepala Disparekrafbud Manggarai Barat Petrus Antonius Rasyid di Labuan Bajo, Minggu, 24 Mei 2026.
Edi Hardum: Ini Kelalaian, Gubernur dan Bupati Wajib Minta Maaf
Praktisi dan Pengamat Hukum serta Fasilitas Publik Dr. Edi Hardum, S.H., M.H. menilai ambruknya Jembatan Cunca Wulang bukan musibah, melainkan kelalaian.
“Gubernur NTT dan Bupati Manggarai Barat sebaiknya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada publik, terutama kepada pemerintah dan negara Austria yang merupakan negara asal dua korban yang meninggal dunia akibat kejadian itu,” kata Edi di Jakarta, Minggu, 24 Mei 2026.
Ia menegaskan pemerintah seharusnya tahu masa pakai infrastruktur. “Gubernur dan Bupati harus jujur mengakui kejadian merupakan sebuah kelalaian pemerintah setempat. Kenapa disebut gagal? Karena pemerintah seharusnya tahu kapan sebuah jembatan atau gedung expired atau tidak digunakan lagi,” ujarnya.
“Sebuah gedung dan jembatan itu selalu dicatat masa waktu kekuatan atau kemampuannya untuk bisa digunakan. Yang mencatat itu semua tentu dinas terkait seperti Dinas Pariwisata yang bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum atau dinas yang mengerjakan jembatan itu dulu,” tambah Edi.
Desak Evaluasi Total Properti Wisata di NTT
Edi meminta Gubernur dan Bupati berjanji melakukan audit menyeluruh.
“Selanjutnya Gubernur dan Bupati berjanji bahwa dengan kejadian tersebut semua jembatan atau bangunan terkait kepentingan publik atau objek wisata di NTT dan Manggarai Barat khususnya harus dicek kekuatannya. Kalau sudah daluwarsa, segera stop digunakan demi keselamatan,” tegasnya.
“Kejadian Jembatan Cunca Wulang harus menjadi kesempatan evaluasi menyeluruh soal properti wisata di Manggarai Barat dan daerah-daerah lain di NTT,” kata Edi.
Polres Diminta Usut Tuntas, Cek Masa Perawatan Kontraktor
Terkait tanggung jawab hukum, Edi menyebut polisi harus profesional.
“Saya pikir polisi tahu urutan pihak yang bertanggung jawab atas ambruknya jembatan itu. Kalau jembatan itu baru berumur dua tahun tentu masih dalam masa perawatan kontraktor dan jelas kontraktor yang bertanggung jawab. Namun kalau sudah lebih dua tahun, yang pasti dinas terkait,” jelasnya.
“Saya minta Polres Manggarai Barat agar profesional dalam memproses pidana kasus ini,” imbuhnya.
Pemerintah Dinilai Reaktif, Tidak Antisipatif
Edi menyamakan kasus Cunca Wulang dengan kecelakaan kereta di Bekasi beberapa bulan lalu.
“Ambruknya Jembatan Cunca Wulang sebenarnya hampir sama dengan kejadian di tempat lain di Indonesia, seperti kasus tabrakan kereta api di Bekasi karena keberadaan perlintasan sebidang. Setelah kejadian itu, baru Presiden Prabowo memerintahkan bangun underpass. Jadi sifatnya reaktif, tidak antisipatif,” ujarnya.
Ia meminta pemerintah pusat hingga daerah mengubah pola kerja. “Saya meminta pemerintah mulai dari pusat sampai daerah agar dalam merawat atau membangun fasilitas publik harus bersifat antisipatif bukan reaktif. Jangan tunggu ada korban jiwa baru bekerja atau melakukan perawatan,” tegas Edi.
Coreng Nama Bangsa di Mata Dunia
Menurut Edi, insiden ini menambah daftar korban wisatawan akibat minimnya sikap antisipatif.
“Kejadian ambruknya Jembatan Cunca Wulang menambah panjang daftar korban wisatawan asing dan lokal di Manggarai Barat karena minimnya sikap antisipatif. Kita sebagai bangsa Indonesia malu dengan kejadian ini,” pungkasnya.***
Penulis / Editor: Tim Redaksi Istana Netizen Com
Copyright © 2025 ISTANANETIZEN.COM. All Rights Reserved - Created by PT Rumah Media Cyber.