Beranda » Gagasan “Mata Uang Nusantara” dari Diaspora Nagekeo Picu Diskusi Kedaulatan Moneter Nasional
Istana Netizen – Minggu, 14 Juni 2026
Sebuah gagasan berani dari diaspora Kepulauan Flores mengemuka di ruang publik.
Frans Mado, warga asal Kabupaten Nagekeo yang kini berdomisili di Perth, Australia, kepada Istana Netizen melalui sambungan telepon selulernya pada Minggu pagi (14/6/2026) mengusulkan perubahan mata uang Rupiah menjadi “Nusantara” sebagai solusi atas tekanan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS.

Sebelumnya, berselang sejam, usulan tersebut disampaikan Frans Mado melalui tulisan opini pada Minggu 14 Juni 2026. Tulisan itu menyoroti keterpurukan Rupiah sejak era kolonial hingga 2026 dan menawarkan konsep mata uang baru berbasis emas sebagai jalan keluar.
Inti Gagasan: Rupiah ke “Nusantara” Berbasis Emas
Dalam opininya, Frans Mado menilai Rupiah belum mampu bangkit menjadi mata uang kuat di level global. Nilai tukar Rupiah tahun 2026 disebut terus tertekan dinamika ekonomi dunia.
Untuk mengatasinya, ia mengusulkan 3 poin utama:
1. Ganti Nama & Sistem: Rupiah diganti menjadi “Nusantara” melalui UU Moneter Baru 2026. Pembahasan disebut perlu dilakukan Bank Indonesia, DPR RI, Pemerintah Pusat, dan Kementerian Keuangan.
2. Basis Emas 24 Karat: Mata uang Nusantara dicetak dalam bentuk koin emas 24 karat dengan berat standar minimal 3 gram emas murni per keping.
3. Nilai Tetap: 1 Nusantara diusulkan setara $300 USD agar memiliki wibawa dan daya saing di pasar global, termasuk melawan dominasi Dollar dan Euro.
Frans Mado juga menekankan aspek kedaulatan sumber daya. Ia mengusulkan agar emas dari Papua Barat dan wilayah NKRI lainnya tidak lagi diekspor mentah, melainkan dicetak langsung menjadi kepingan mata uang Nusantara.

“Emas kita, untuk kedaulatan ekonomi kita sendiri,” tulisnya.
Picu Wacana Publik tentang Dedolarisasi
Gagasan diaspora asal Nagekeo ini memicu diskusi tentang pentingnya reformasi moneter nasional. Isu utama yang diangkat: bagaimana menaikkan posisi tawar Indonesia di bidang ekonomi dan moneter global di tengah dominasi Dollar AS dan Euro selama 4 abad sejak era VOC 1602.
Tim Redaksi _Istana Netizen_ mencatat, usulan ini menyentuh 3 aspek penting: stabilitas nilai tukar, kedaulatan sumber daya emas nasional, dan kebangkitan psikologi ekonomi bangsa melalui identitas “Nusantara”.
Catatan Redaksi
_Istana Netizen_ menegaskan opini Frans Mado merupakan pandangan pribadi penulis sebagai bagian dari wacana publik. Gagasan tersebut membuka ruang diskusi sehat terkait masa depan sistem moneter Indonesia.
Bagaimana menurut pembaca _Istana Netizen_: apakah sudah waktunya Indonesia berani membahas mata uang “Nusantara” berbasis emas?
Hingga berita ini diterbitkan, Tim Redaksi belum berhasil mendapatkan tanggapan resmi dari Pemerintah Indonesia di Jakarta melalui Menteri Keuangan Yudi Purbaya Sadewa terhadap opini Frans Mado ***
Penulis/Editor: Tim Redaksi Istana Netizen
Copyright © 2025 ISTANANETIZEN.COM. All Rights Reserved - Created by Rumah Media Cyber.