ISTANA NETIZEN.com, RUTENG – Orang Manggarai tidak menyebutnya gempa. Mereka menyebutnya _“hembusan napas Ibu Bumi”_
Ibu Bumi sedang lelah.
12 Desember 1992, Ibu menghela napas panjang di Maumere dengan kekuatan _7.8 SR_. Air matanya tumpah menjadi tsunami 26 meter dan membawa pulang 2.500 anaknya.
34 tahun kemudian, 15 Agustus 2026, Ibu menghela lagi di Nagekeo. Kali ini _7.7 SR_. Napasnya mengguncang ribuan rumah, mengingatkan bahwa luka lama belum sembuh.

MAKNA DARI HEMBUSAN NAFAS IBU BUMI
1. Ini Bukan Murka, Ini Lelah
Gempa bukan hukuman. Itu desahan Ibu yang terlalu lama memikul. Hutan gundul, laut kotor, sumpah adat dilanggar. Napasnya jadi berat.
2. 34 Tahun = Satu Kali Bernapas
Dari Maumere ke Nagekeo jaraknya satu generasi. Yang dulu bayi selamat 1992, kini sudah punya anak dan merasakan hembusan yang sama. Siklusnya mengingatkan.
3. Setelah Menghela, Ibu Butuh Dipeluk
Karena itu usai guncangan, warga menggelar _Penti dan Wagal_. Bukan ritual takut. Tapi seperti anak yang membalurkan minyak dan membisik: _“Maafkan kami Bu… kami akan jaga Ibu.”_
4. Jangan Terus “Mencubit” Perut Ibu
Tetua adat mengingatkan. Saat ini perut Ibu Bumi terus dikeruk.
Proyek Geotermal di Manggarai, Ngada, Ende. Mengebor ke dalam rahim Ibu, mengambil panasnya.
_“Kalau perut Ibu dicubit terus, wajar kalau dia menghela lebih keras,”_ kata seorang tokoh adat.
Bukan menolak pembangunan. Tapi minta seimbang. Minta izin. Minta ritual.
NAFAS IBU DI SELURUH DUNIA
Bulan ini Ibu Pertiwi di belahan lain juga menghela.
_Kolombia 10 Agustus: 7.4 SR_. _Meksiko 17 Juli: 7.4 SR_.
Tanda seluruh bumi sedang tidak baik-baik saja.
Kata Tetua Adat Manggarai:
_”Jangan takut saat tanah bergetar. Duduklah. Itu Ibu sedang bicara. Dengarkan. Lalu peluk dia dengan perbuatan baik.”_
Mari kita jaga Ibu Bumi.
Karena kita hanya numpang tidur di punggungnya.***
Reporter: Tim IstanaNetizen NTT
lEditor: AJ










