ISTANA NETIZEN.com, LABUAN BAJO – Gempa 7,7 SR yang mengguncang wilayah selatan NTT, tepatnya di Pulau Flores sejak 15 Agustus 2026 meninggalkan dampak besar di Kabupaten Manggarai Barat. Hingga Minggu malam, tercatat 9.547 rumah warga terdampak.

Data tersebut disampaikan langsung Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi dalam Rapat Paripurna ke-15 DPRD Mabar, Senin (24/8/2026), dengan agenda nota pengantar Rancangan APBD Perubahan TA 2026.
Verifikasi Lapangan Turun Besok, Pakai Open Camera + Titik Koordinat
Bupati Edi menegaskan, aplikasi pendataan korban sudah ditutup. Tahap selanjutnya adalah verifikasi langsung ke lapangan.
Mulai Selasa, 25 Agustus 2026, tim gabungan Penyuluh Pertanian, Penyuluh KB, dan Dinas Cipta Karya akan turun ke desa-desa.
“Tugas mereka mengklasifikasi kerusakan. Sekaligus mengakomodir warga yang kena dampak tapi belum terdata kepala desa. Dan memastikan rumah yang aman tidak ikut didata,” tegas Bupati Edi.
Ia menekankan, proses verifikasi wajib pakai Open Camera dan titik koordinat.
“Tujuannya satu: tidak boleh ada yang terlewatkan. Di peristiwa ini tidak boleh ada yang ‘buntung’ dan tidak boleh ada yang diuntungkan,” ujarnya.
Tantangan Terberat: Lawan Hoaks Gempa Susulan
Di hadapan Ketua DPRD Benediktus Nurdin, Wakil Ketua I Rikardus Jani, dan Wakil Ketua II Sewargading S.J Putra, Bupati Edi menyebut tantangan terbesar saat ini adalah berita hoaks.
“Bagaimana meyakinkan masyarakat, karena mereka dapat info gempa di atas 7,7, tsunami jam sekian. Itu yang paling berat kita hadapi,” ungkapnya.
Ia mencontohkan warga di Pulau Mesa, Papagarang, Seraya Besar, Seraya Kecil, Rinca, Komodo, dan Kukusan yang memilih mengungsi ke bukit dan tidak melaut.
“Yang benar-benar terdampak itu di pesisir pulau. Sementara pulau-pulau besar itu relatif aman. Tapi karena hoaks, rasa takutnya berlebihan,” jelasnya.
126 Ton Bantuan Sudah Disalurkan
Bupati juga melaporkan, hingga pukul 17.00 WITA kemarin, bantuan pangan dari pemerintah sudah mencapai 126 ton. Distribusi dimulai 15 Agustus dan dimasifkan sejak 17 Agustus.
Ia mengakui ada bantuan yang menumpuk karena kurang koordinasi. Contohnya di *Desa Golokeli, Kec. Komodo, Kampung Hawir dan Ndari di Nggilat.
“Bantuannya sudah di-drop 17 Agustus. Sayangnya kepala desa belum distribusikan. Puji Tuhan, kemarin jam 6 sore Golokeli sudah selesai,” terangnya.
Bupati Edi juga menyoroti warga di luar Mabar yang memposting desanya belum dapat bantuan. Padahal menurut data, bantuan sudah masuk.
“Ini butuh kesabaran. Sudah dikasih, tapi dipikir untuk satu kampung semua. Padahal kita lihat mana yang terkena, mana yang tidak,” pungkasnya.
Rapat turut dihadiri Wakil Bupati dr. Yulianus Weng dan seluruh pimpinan OPD.***
Reporter : Tim Media Istana Netizen.
Editor : AJ










