WAKA-PACAR, ISTANA NETIZEN.COM — Gempa boleh merobohkan tembok. Tapi tidak bisa merobohkan semangat orang tua di Desa Waka, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, Flores – Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sabtu, 5 September 2026, para wali murid SDK Puing kompak turun ke halaman sekolah. Bukan untuk protes. Tapi untuk membangun.

Dengan bahan seadanya, mereka mendirikan Ruang Kelas Darurat (RKD).
Bambu, Kayu, dan Terpal Jadi Kelas
Tidak ada semen. Tidak ada tukang profesional.
Yang ada hanya gotong royong. Tiang dan dinding dibuat dari bambu dan kayu lokal. Atapnya ditutup terpal seadanya.

Semua dikerjakan secara mandiri dan swadaya oleh orang tua siswa SDK Puing dari Puing sendiri.
“Ini bentuk cinta kami ke anak-anak. Sekolah boleh rusak, tapi belajar harus jalan terus,” ujar salah satu orang tua yang ikut membangun.
Alasan di Balik RKD: Takut, Tapi Tetap Mau Sekolah
Sejak Gempa Flores M7,7, banyak gedung sekolah retak. Orang tua takut anaknya belajar di dalam ruangan.
Solusinya: keluar kelas. Bikin kelas baru di halaman. Aman, terbuka, dan bisa diawasi bersama.
Inilah bentuk re-thinking about value yang diajarkan alam. Bahwa yang penting bukan bangunannya, tapi ilmunya tetap sampai.
Harapan: Sementara, Tapi Penuh Makna
RKD ini sederhana. Lantainya tanah. Kursinya dari bangku kayu bekas.
Tapi di dalamnya ada doa, keringat, dan harapan orang tua agar anak-anak NTT tidak tertinggal pelajaran.
Terima kasih untuk wali murid SDK Puing. Kalian sedang menulis sejarah: Bahwa di saat susah, kita justru paling kompak.
Semoga bantuan pemerintah dan donatur segera datang. Agar tenda bambu ini bisa diganti gedung yang lebih layak.***
Penulis:Tim Redaksi Media Istana Netizen Com
Editor : AJ










