ISTANA NETIZEN.com, Labuan Bajo — Di tengah riuh euforia festival, _Florianus Surion Adu alias Fery Adu_, aktifis Pro Lingkungan Hidup sekaligus salah satu Tokoh Pejuang Pemekaran Kabupaten Manggarai Barat 2002, mengajak warga Labuan Bajo untuk bercermin.
Pernyataan ini disampaikan Flory kepada Redaksi _IstanaNetizen.com_, Rabu malam, 12 Agustus 2026. Sebelumnya, pesan serupa juga ia unggah di _WhatsApp Grup Kawal Pembangunan Manggarai Barat (WAG-KPM)_.
ANTARA PROPAGANDA DAN KENYATAAN
Flory mempertanyakan kejujuran kita dalam menjaga lingkungan.

`”Masihkah kita membohongi diri sendiri dengan berkata bahwa aktivitas kita selama ini tidak berkontribusi pada ruang kumuh dan tumpukan sampah di alam yang kerap kita sebut ekologis?”` tulis Flory.
Menurutnya, ada jurang besar antara narasi dan tindakan. Di satu sisi kita gencar berkampanye kebersihan dan ekowisata di tengah keramaian festival. Di sisi lain, praktik di lapangan justru mengotori alam.
SINDIR PRAKTIK DOKING KAPAL DI SEMPADAN PANTAI
Sorotan tajam Flory tertuju pada praktik pendokkan kapal di sepanjang _sempadan pantai_ yang menimbulkan kekumuhan.
`”Saat kita mendoking kapal di sepanjang sempadan pantai yang menimbulkan kekumuhan, apakah kita tidak merasa berdosa terhadap alam? Lalu di ruang lain kita propaganda tentang kebersihan dan ekologis di tengah keramaian festival?”` tegasnya.
Pertanyaan ini menjadi tamparan bagi pemerintah, pelaku wisata, maupun masyarakat.
JURUS “JUJUR PADA ALAM” VERSI FLORY
Fery mengingatkan bahwa salah satu cita-cita terbentuknya Kabupaten Manggarai Barat adalah pendekatan pelayanan publik dan pelayanan terhadap ekologis, baik di daratan maupun di lautan.
Karena itu, menurutnya kita perlu jujur terhadap alam yang telah menyediakan beragam potensi, baik yang “belum digerakkan maupun yang masih tertidur”.
Jujur yang bagaimana?
1. Konsisten Sikap dan Perbuatan
`”Kalau kita keras mengatakan gerakan ekologis, maka seluruh sikap dan perbuatan kita pun harus sejalan. Jangan kemarin bilang berwawasan lingkungan, justru kita bagian dari aktor yang membiarkan/membuang bangkai dan rongsokan kapal, lalu menjadi bagian dari mereka yang melakukan doking kapal di sembarangan tempat dengan meninggalkan sampah dan wajah kekumuhan.“`
2. Jaga Ruang Publik Sempadan Pantai
`”Jika kita bagian dari aktor yang berteriak bahwa garis sempadan pantai adalah ruang publik yang membuka akses bagi publik, maka jangan ada kebijakan menutup akses bagi publik oleh kepentingan investor apapun.”`
DAHAPALOPOH” : AJAKAN SALING MENGINGATKAN
Di akhir pernyataannya, Flory menutup dengan bahasa Bajo sebagai panggilan hati.
Bahasa bajo yg artinya : jangan menipu sesama saudara warga labuan bajo.
“Dahapalopoh sesama kita e danakang”` yamg artinya : jangan menipu sesama saudara warga Labuan Bajo.
Pesan ini menegaskan agar warga Labuan Bajo tidak hanya berkoar soal ekowisata dan keindahan alam Komodo, tetapi juga konsisten menjaga rumah sendiri.***
`Suara Rakyat, Cermin Istana.`
_- http://IstanaNetizen.com -_
Reporter : Tim Redaksi Istana Netizen
Editor : AJ










