LABUAN BAJO, ISTANA NETIZEN —
Usai fokus pada penanganan dampak Gempa Flores beberapa waktu terakhir, Panitia Khusus Tata Kelola Kepariwisataan DPRD Manggarai Barat kini resmi tancap gas.

Dengan dukungan anggaran yang sudah tersedia, Pansus mulai mengirim surat dan instrumen pendalaman ke seluruh pemangku kepentingan pariwisata di Mabar.
Kerja Berdasarkan Data, Bukan Asumsi
Ketua Pansus menegaskan, pendalaman ini bukan formalitas. Pansus ingin bekerja pakai data, fakta, dokumen, regulasi, dan keterangan resmi dari perangkat daerah, instansi vertikal, pelaku usaha, asosiasi, hingga kelompok masyarakat.
“Jawaban tertulis akan kami analisis dan bandingkan. Baru kemudian jadi bahan rapat kerja untuk konfirmasi lebih dalam,” ujarnya.
Pansus juga menegaskan tidak dibentuk untuk mencari siapa yang salah. Fokusnya adalah membongkar persoalan tata kelola secara menyeluruh.
7 Isu Besar yang Dibedah Pansus
Ada beberapa titik krusial yang jadi sorotan Pansus dalam kerja-kerja ke depan:
1. PAD & Pemerataan Manfaat Ekonomi – Seberapa besar pariwisata dirasakan warga lokal?
2. Destinasi & Kapal Wisata – Penataan dan perizinan
3. Harmonisasi Regulasi & Kewenangan – Pusat, Daerah, Desa
4. Lingkungan & Konservasi – Menjaga alam Komodo
5. Pengawasan – Di darat maupun di laut
6. Tenaga Kerja Lokal – Berapa persen yang terserap?
7. Data & Model Tata Kelola – Menuju sistem yang terintegrasi
Target Akhir: Blueprint Tata Kelola Pariwisata Mabar
Pansus tidak mau kerja ini berhenti di rekomendasi administratif. Target utamanya adalah meletakkan fondasi `Blueprint Tata Kelola Kepariwisataan Manggarai Barat`.
Blueprint ini diharapkan mengintegrasikan konservasi, pariwisata, investasi, pemerintah pusat-daerah, desa, pelaku usaha, dan masyarakat dalam satu arah pembangunan.
“Kita mulai dengan mendengar, membaca data, dan menguji fakta. Baru merumuskan rekomendasi berdasarkan hukum dan kepentingan masyarakat,” tegasnya.
“Pariwisata yang tumbuh harus mampu menjaga alam sekaligus menghadirkan kesejahteraan yang semakin nyata bagi masyarakat Manggarai Barat.”
—
Catatan Redaksi:
Di tengah pemulihan pasca gempa, pembenahan tata kelola pariwisata jadi pekerjaan rumah besar. Jika blueprint ini jadi, Mabar diharapkan punya arah pariwisata yang lebih adil, berkelanjutan, dan tidak hanya dinikmati segelintir pihak.***
Penulis: Tim Redaksi Istana Netizen Com
Editor: AJ










