ISTANA NETIZEN.COM, Jakarta – Di tengah riuh bursa taruhan menjelang Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina, sebuah kisah reflektif karya Edi Danggur yang diadaptasi dari buku _Burung Berkicau_ karya Anthony de Mello menjadi bahan perenungan yang relevan.
Kisah tersebut mengangkat cerita Yesus Kristus yang untuk pertama kalinya menyaksikan pertandingan sepak bola, tepatnya laga semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina.
Dua Sikap dalam Berdoa
Dalam kisah itu, terdapat dua tokoh dengan sikap yang berbeda. Ezron, pendukung Inggris, berdoa secara spesifik sebelum berangkat ke stadion. Ia memohon agar Anthony Gordon mencetak gol dan agar kiper Argentina tidak mampu menahan setiap tendangan pemain Inggris.
Sementara itu, Dixon, pendukung Argentina, memilih berdoa dalam diam di kamarnya. Doanya sederhana: memohon agar pertandingan berjalan lancar dan dapat menyenangkan seluruh penonton. Ia tidak meminta kemenangan untuk tim yang didukungnya.
Yesus Menikmati Pertandingan, Bukan Memihak
Pada babak kedua, Inggris unggul 1-0 melalui gol Anthony Gordon pada menit ke-55. Yesus bersorak gembira dan berkata,

“Inggris hebat!”
Ezron pun semakin yakin bahwa Yesus sepaham dengannya.
Namun, pada menit ke-85, Argentina menyamakan kedudukan melalui gol Fernandez. Yesus kembali bersorak,

“Argentina hebat!”
Ezron mulai bingung.
Ketika Lautaro Martinez memastikan kemenangan Argentina 2-1 pada menit ke-90+2, Yesus kembali merayakan dengan gembira,
“Argentina menang dan masuk final melawan Spanyol.”
Ezron akhirnya bertanya,
“Engkau bersorak untuk pihak yang mana? Inggris atau Argentina?”
Yesus menjawab,
“Aku tidak bersorak bagi salah satu klub. Aku hanya senang menikmati pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 ini.”
Refleksi: Tuhan Tidak Berada di Salah Satu Kubu
Dalam perjalanan pulang, Dixon menyampaikan gagasannya,
“Yesus, orang-orang yang mengaku beragama sering kali mengira bahwa Tuhan berada di pihak mereka dan melawan pihak lain.”
Yesus menanggapi,
“Itulah sebabnya Aku tidak mendukung agama. Aku mendukung orang-orangnya. Manusia lebih penting daripada agama.”
Ezron yang merasa kecewa mengingatkan,
“Tuhan, berhati-hatilah dengan perkataan-Mu. Engkau pernah disalibkan karena pernyataan serupa.”
Yesus menjawab sambil tersenyum,
“Benar, Ezron. Dan justru Aku disalibkan oleh orang-orang yang mengaku beragama.”
Catatan Redaksi ISTANA NETIZEN
Bursa taruhan boleh mengunggulkan Argentina dengan peluang 41 persen berbanding 27 persen untuk Spanyol atau sebaliknya. Analisis statistik boleh membahas fenomena _winner’s slump_ pada juara bertahan.
Namun, kisah ini mengingatkan satu hal mendasar: Tuhan tidak dapat ditarik ke dalam rivalitas klub sepak bola. Doa yang dewasa bukan meminta kemenangan untuk tim tertentu, melainkan memohon kelancaran, keindahan permainan, dan keselamatan bagi semua pihak.
Yesus dalam kisah tersebut tidak memegang Spanyol dan tidak memegang Argentina. Ia menghargai keindahan permainan. Ia bersorak ketika Inggris mencetak gol dan ia bersorak pula ketika Argentina membalikkan keadaan.
Dengan demikian, pada Final Piala Dunia 20 Juli 2026 mendatang, siapa pun yang menjadi juara, semangat yang patut dijaga adalah apresiasi terhadap sportivitas dan keindahan sepak bola itu sendiri.
Redaksi ISTANA NETIZEN
_Menganalisis dengan akal sehat, menikmati dengan hati lapang._ Cerita diadaptasi dari buku “Burung Berkicau” karya Anthony de Mello. Penyesuaian dilakukan oleh Edi Danggur agar lebih kontekstual dengan Piala Dunia 2026._
Penulis Opini : Edi Danggur
Reporter : AJ
Editor : Redaksi Istana Netizen.














