ISTANA NETIZEN.com, RUTENG – Flores dikenal dunia karena Komodo dan lautnya yang biru. Tapi bagi warganya, Flores juga adalah “sekolah” paling keras. Sekolah tentang bertahan hidup.
Dari tsunami setinggi 26 meter tahun 1992 hingga gempa M7.7 Agustus 2026, pulau ini terus diuji. Dan dari setiap guncangan itu, lahir satu hal: Ketangguhan.
1992: Ketika Laut Naik Setinggi Rumah
Sabtu, 12 Desember 1992 pukul 13.29 WITA. Gempa M7.8 mengguncang lepas pantai utara Flores. 35 km dari Maumere.
Tak ada sirine. Tak ada HP. Yang ada hanya laut yang tiba-tiba surut. Beberapa menit kemudian, tsunami setinggi 26 meter datang.
Hasilnya pilu:
1. 2.500 orang meninggal atau hilang – 1.490 di Maumere, 700 di Pulau Babi
2. 500+ luka-luka
3. 90.000 orang kehilangan rumah
Maumere rata dengan tanah. Jalan putus. Komunikasi mati. Bantuan datang terlambat berhari-hari.
Tapi di tengah puing, masyarakat Flores tidak menunggu. Mereka gotong royong. Bangun rumah dari sisa kayu. Bagikan makanan seadanya.
Kearifan Lokal: Alarm Pertama Sebelum BMKG
Yang menyelamatkan sebagian warga 1992 bukan teknologi. Tapi cerita.
Cerita nenek moyang tentang “air laut surut mendadak = tsunami akan datang”. Dongeng itu diwariskan turun-temurun. Jadi “arsip lisan” yang jadi alarm dini.
Inilah modal sosial Flores. Pengetahuan lokal yang menjaga memori bencana tetap hidup lintas generasi.

2026: Ujian Datang Lagi, Cara Jawabnya Beda
33 tahun kemudian, 15 Agustus 2026. Gempa M7.7 kembali mengguncang Flores. Pusatnya di Nagekeo. Tsunami sempat terjadi, peringatan dicabut 3 jam kemudian.
Bedanya dengan 1992:
1. Ada RS Lapangan di Stadion Golo Dukal yang langsung operasi
2. 37 ton beras + 5.000 paket sembako sudah turun dalam seminggu
3. 2 Posko Utama di Ruteng dan Reo jadi pusat distribusi
4. Imbauan anti-hoaks langsung digaungkan Bupati Manggarai
Pemerintah kini punya data, logistik, dan teknologi. Tapi semangat gotong royong warga tetap sama seperti 1992.
Pelajaran: Luka Diwariskan, Kebijaksanaan Dilanjutkan
Gempa Flores 1992 dan 2026 mengajarkan 3 hal penting:
1. Ingat Bencana = Kuatkan Diri
Memori 1992 membuat warga 2026 lebih cepat tanggap. Mereka tahu harus lari ke mana saat gempa.
2. Tradisi + Teknologi = Tangguh
Cerita rakyat harus jalan bareng sirine BMKG dan edukasi di sekolah. Satu tanpa yang lain tidak cukup.
3. Ketangguhan Adalah Budaya
Seperti kata orang Flores: _“Luka boleh diwariskan, tapi kebijaksanaan harus dilanjutkan.”_ Dari luka 1992, lahir kesiapsiagaan 2026.
Flores terus diguncang. Tapi Flores juga terus bangkit.
Karena di sinilah kita belajar: hidup di tanah rawan bencana bukan soal takut. Tapi soal sadar, siaga, dan saling jaga.***
Reporter: Tim IstanaNetizen Sejarah
Editor: AJ










