Jakarta, Istana Netizen Com – Opini, Rabu 22 Juli 2026.
𝗠𝗲𝗻𝗴𝘂𝗷𝗶 𝗥𝗲𝗹𝗲𝘃𝗮𝗻𝘀𝗶 𝗣𝗠𝗞𝗥𝗜 𝗱𝗶 𝗧𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗞𝗿𝗶𝘀𝗶𝘀 𝗔𝗿𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗡𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹
Oleh: Plasidus Asis Deornay
Mahasiswa Pasca Sarjana
Magister Hukum UNAS Jakarta
Ada masa ketika sebuah pertemuan hanya dikenang sebagai deretan foto, tepuk tangan, dan pergantian nama dalam daftar kepemimpinan. Namun, ada pula pertemuan yang menjelma menjadi penanda zaman tempat gagasan dilahirkan, keberanian diuji, dan masa depan dipertaruhkan. Kongres XXXIV dan MPA XXXIII PMKRI yang berlangsung di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada 19–25 Juli 2026 ini, semestinya memilih jalan yang kedua.
Mengusung tema “Mempertegas Arah Pembangunan Nasional Menuju Indonesia Berdaulat dan Berkeadilan”, kongres ini sesungguhnya sedang memikul amanat yang jauh lebih besar daripada memilih seorang ketua umum. Ia sedang diminta menjawab pertanyaan yang terus bergema di ruang publik: ke mana arah pembangunan Indonesia akan dibawa? dan siapa yang akan memastikan bahwa pembangunan tidak kehilangan manusianya?
Pembangunan tidak cukup diukur oleh panjangnya jalan yang dibangun atau tingginya gedung yang menjulang. Kemajuan sejati lahir ketika setiap warga merasakan keadilan yang sama, ketika desa tidak merasa ditinggalkan oleh kota, ketika wilayah timur berdiri sejajar dengan wilayah barat, dan ketika anak-anak bangsa memiliki kesempatan yang setara untuk tumbuh dan bermimpi.
Di titik inilah organisasi kemahasiswaan menemukan makna historisnya. Mahasiswa bukan sekadar penonton yang duduk di tribun sejarah, melainkan pelaku yang ikut menulis babak-babak penting perjalanan bangsa. PMKRI, dengan jejak panjang pengabdian intelektualnya, memiliki modal moral untuk menghadirkan kritik yang jernih sekaligus menawarkan jalan keluar yang realistis. Kritik yang hanya berhenti pada kecaman akan mudah dilupakan. Sebaliknya, kritik yang disertai gagasan akan selalu menemukan ruang dalam perjalanan demokrasi.
Publik tentu menaruh harapan agar kongres ini melahirkan lebih dari sekadar keputusan organisasi. Masyarakat menunggu rumusan pemikiran yang mampu menjawab berbagai persoalan kebangsaan: kesenjangan ekonomi, kualitas pendidikan, akses kesehatan, krisis lingkungan, tata kelola pemerintahan, hingga tantangan transformasi digital yang semakin cepat mengubah wajah kehidupan.
Di tengah derasnya arus pragmatisme politik, PMKRI memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa idealisme belum kehilangan rumahnya. Bahwa organisasi mahasiswa masih mampu menjadi laboratorium kepemimpinan yang melahirkan pemikir, negarawan, dan penggerak perubahan sosial.
Ruteng hari ini bukan sekadar titik geografis di Flores. Ia dapat menjadi titik tolak lahirnya komitmen baru tentang pembangunan yang berpusat pada martabat manusia. Dari kota kecil itu, semestinya bergema pesan bahwa Indonesia tidak hanya membutuhkan pembangunan yang cepat, tetapi juga pembangunan yang adil; tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial; tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun karakter, integritas, dan kemanusiaan.
Pada akhirnya, kongres akan usai. Spanduk akan diturunkan, panggung akan dibongkar, dan para peserta akan kembali ke daerah masing-masing. Namun, yang akan dikenang bukanlah megahnya acara, melainkan kuat atau tidaknya gagasan yang ditinggalkan.***














