Beranda » Tragedi Cunca Wulang: Jembatan Ambruk Bukan Musibah, Tapi Alarm Kegagalan Tata Kelola Wisata Mabar !
ISTANA NETIZEN.COM – Catatan Redaksi Oleh: Adrianus Jehamat
_Dari Puing Desa Waka, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, Flores – NTT,Pemimpin Redaksi Istana Netizen Com_
Tewasnya Jurgen dan Astrid, dua turis asal Austria karena jembatan ambruk di Cunca Wulang, Kabupaten Manggarai Barat, Minggu siang, 24 Mei 2026, itu bukan “musibah alam”. Itu kegagalan sistem. Kalau tidak dibenahi sekarang, Labuan Bajo tinggal tunggu korban berikutnya.
Tim Redaksi Istana Netizen Com dengan itikad baik menawarkan 6 pelajaran paling mendesak bagi Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat/ Dinas Pariwisata dan DPRD Kabupaten Manggarai Barat :
1. Infrastruktur Wisata Taruhannya Nyawa
Pelajarannya: Papan kayu lapuk bisa bunuh orang. Standar konstruksi, uji beban, dan perawatan rutin di destinasi ekstrem tidak boleh kompromi.
Tindakan:
– Audit total semua jembatan, jalur tebing, dek, dan pegangan di 30 hari ke depan. Libatkan PUPR.
– Bongkar total yang tidak layak. Tutup destinasi bila belum aman.
– Pasang batas beban dan tanggal inspeksi terakhir di tiap fasilitas. Transparan ke publik.
2. Wisata Alam Bukan Pembenaran untuk Fasilitas Bobrok
Pelajarannya: Turis internasional bayar mahal dengan ekspektasi _safety_ kelas dunia. Alasan “namanya juga alam” tidak laku di pengadilan dan media asing.
Tindakan: Wajibkan semua destinasi berisiko tinggi lulus sertifikasi CHSE Kemenparekraf + standar keselamatan internasional. Tanpa sertifikat = tidak boleh buka.
Apa Itu CHSE?
CHSE = _Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability_. Itu standar protokol yang dibuat Kemenparekraf/Baparekraf sejak era Covid-19 buat semua pelaku usaha dan destinasi wisata di Indonesia.
Bedah Isi CHSE
1. C = Cleanliness / Kebersihan
Destinasi, toilet, tempat makan, alat wisata harus bersih. Ada SOP bersih-bersih, tempat cuci tangan, disinfektan rutin. Bukan cuma “kelihatan bersih”.
2. H = Health / Kesehatan
Ada P3K, petugas yang paham pertolongan pertama, cek suhu, data kesehatan tamu, kerja sama dengan faskes terdekat. Di era Covid dulu: masker, jaga jarak, tes antigen.
3. S = Safety / Keamanan & Keselamatan
Ini yang paling relevan dengan kasus Cunca Wulang. Isinya:
– Infrastruktur dicek kelayakannya: jembatan, tangga, pegangan, jalur.
– Ada rambu bahaya, batas beban, jalur evakuasi.
– Pemandu bersertifikat, tim _rescue_ standby.
– Asuransi untuk wisatawan.
– SOP penanganan kecelakaan.
4. E = Environment Sustainability / Kelestarian Lingkungan
Wisata tidak boleh merusak alam. Kelola sampah, hemat air/listrik, jaga ekosistem, libatkan masyarakat lokal.
Pentingnya CHSE untuk Manggarai Barat
1. Sertifikat CHSE = Syarat “Buka”
Dulu pas pandemi, destinasi wajib lulus audit CHSE baru boleh terima tamu. Sekarang sudah jadi standar nasional. Banyak agen travel dan OTA luar negeri nanya: “sudah CHSE belum?”
2. Tanggung Jawab Hukum
Kalau destinasi sudah sertifikat CHSE tapi lalai rawat jembatan, berarti ada pelanggaran SOP. Bisa jadi bukti kelalaian di pengadilan.
3. Kepercayaan Turis Asing
Turis Eropa/Austria sensitif soal _safety_. Label CHSE + bukti audit rutin = bikin mereka tenang bayar mahal ke Labuan Bajo.
Dugaan Pelanggaran CHSE di Kasus Cunca Wulang
– Poin S: Jembatan ambruk = gagal uji kelayakan berkala.
– Poin S: Tidak ada batas beban maksimal tertulis.
– Poin S: Tidak ada jalur evakuasi cepat atau petugas _rescue_ di lokasi.
Kesimpulan: CHSE itu “SIM-nya destinasi wisata”. Punya sertifikat tapi tidak dijalankan = sama aja punya SIM tapi menyetir ugal-ugalan. Di kasus Jurgen dan Astrid, CHSE jelas bolong di huruf “S”.
3. Tim Tanggap Darurat Harus di Lokasi, Bukan di Kantor
Pelajarannya: Medan Cunca Wulang sulit. Kalau nunggu tim dari Labuan Bajo, korban keburu meninggal.
Tindakan:
– Tempatkan _first responder_ bersertifikat + kotak P3K lengkap + tandu + radio HT di setiap destinasi ekstrem.
– Latihan evakuasi tiap 3 bulan libatkan warga, pemandu, SAR.
– Buat jalur evakuasi darurat yang jelas. Bukan cuma jalur trekking turis.
4. Beri Pemandu Lokal Wewenang untuk Menolak Risiko
Pelajarannya: Pemandu tahu jembatan rapuh tapi takut kehilangan tip kalau larang tamu lewat.
Tindakan:
– Sertifikasi wajib + pelatihan _risk assessment_ untuk semua pemandu.
– Aturan tegas: pemandu berhak dan wajib menutup jalur jika tidak aman. Pemda lindungi pemandu dari tuntutan wisatawan.
– Asuransi wisatawan dan pemandu jadi syarat masuk destinasi ekstrem.
5. Anggaran Keselamatan Dulu, Promosi Kemudian
Pelajarannya: Percuma promosi besar-besaran kalau ujungnya turis mati karena fasilitas. Satu berita negatif di media Austria bisa hapus miliaran rupiah anggaran promosi.
Tindakan:
– Wajib alokasikan 30% dari retribusi tiket masuk untuk _maintenance_ dan _safety_. Audit dananya terbuka.
– Perjelas siapa pemilik aset, pengelola, dan penanggung jawab. Jangan lempar tanggung jawab antara desa, dinas, dan Pokdarwis saat ada korban.
6. Gagal Komunikasi Krisis Berarti Gagal Jaga Reputasi
Pelajarannya: Kasus turis asing langsung jadi berita internasional. Lambat dan tidak transparan = Labuan Bajo dicap destinasi berbahaya.
Tindakan:
– Punya SOP krisis: 1×24 jam wajib rilis kronologi, langkah penanganan, dan kontak resmi.
– Tunjuk 1 jubir tunggal. Stop pernyataan pejabat yang saling bertabrakan.
– Proaktif koordinasi dengan Kemenlu dan KBRI untuk keluarga korban. Jangan defensif.
Catatan Penutup
Reputasi Labuan Bajo sebagai _super premium destination_ dibangun puluhan tahun, bisa hancur dalam 5 detik karena jembatan ambruk !
“Evaluasi” tanpa _deadline_ dan anggaran jelas = basa-basi. Yang ditunggu publik dan dunia internasional adalah: audit terbuka, pembongkaran fasilitas berbahaya, dan pejabat yang berani tanggung jawab.
Turis datang untuk pulang bawa foto, bukan pulang jadi jenazah.***
Penulis/Editor: Tim Redaksi Istana Netizen Com
Copyright © 2025 ISTANANETIZEN.COM. All Rights Reserved - Created by PT Rumah Media Cyber.