Istananetizen.Com, Jakarta, Sabtu 25 Juli 2026 – Opini
𝗞𝗘𝗧𝗜𝗞𝗔 𝗢𝗥𝗚𝗔𝗡𝗜𝗦𝗔𝗦𝗜 𝗞𝗘𝗛𝗜𝗟𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗖𝗘𝗥𝗠𝗜𝗡.
(𝑆𝑒𝑏𝑢𝑎ℎ 𝑅𝑒𝑛𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐴𝑙𝑢𝑚𝑛𝑖 𝑃𝑀𝐾𝑅𝐼 𝑡𝑒𝑛𝑡𝑎𝑛𝑔 𝐸𝑡𝑖𝑘𝑎, 𝐾𝑒𝑘𝑢𝑎𝑠𝑎𝑎𝑛, 𝑑𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑠𝑒𝑡𝑖𝑎𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖)
Oleh: Plasidus Asis Deornay
Mahasiswa Pasca Sarjana
Magister Hukum UNAS Jakarta.
“Sebab sebuah organisasi tidak runtuh ketika kalah dalam kontestasi. Ia mulai runtuh ketika kehilangan rasa malu.”
“Pohon besar tidak tumbang karena angin pertama. Ia roboh ketika akar yang selama ini diam-diam menyangganya mulai lapuk dari dalam.”
Begitu pula organisasi.
Yang meruntuhkan organisasi bukan pertama-tama kritik dari luar, bukan pula lawan-lawan politiknya. Organisasi justru paling sering melemah karena perlahan kehilangan keberanian untuk bercermin. Ia sibuk mempertahankan nama baik, tetapi lupa memelihara karakter yang membuat nama itu dihormati.
Sebagai alumni PMKRI, saya memandang organisasi ini bukan sekadar wadah berhimpun. PMKRI adalah sekolah kehidupan. Di sanalah kami belajar bahwa intelektualitas harus berjalan bersama kerendahan hati; bahwa keberanian harus selalu dikendalikan oleh kebijaksanaan; bahwa kepemimpinan bukan tentang menjadi yang paling kuat, melainkan menjadi yang paling mampu menjaga martabat sesama.
Karena itu, ketika ruang-ruang kongres diwarnai oleh kabar mengenai dugaan kekerasan dan perselisihan yang berujung pada proses hukum, hati siapa pun yang pernah dibesarkan oleh PMKRI tentu tidak mungkin baik-baik saja. Proses hukum harus dihormati dan asas praduga tak bersalah wajib dijunjung. Kebenaran faktual harus ditemukan melalui mekanisme yang sah. Namun ada sesuatu yang lebih dalam daripada proses hukum.
𝗔𝗱𝗮 𝗹𝘂𝗸𝗮 𝗺𝗼𝗿𝗮𝗹.
Luka itu tidak selalu tampak dalam berita. Ia hidup dalam keheningan para kader yang mulai bertanya: “Apakah organisasi ini masih menghidupi nilai yang selama ini diajarkannya?” Pertanyaan itu jauh lebih berbahaya daripada kritik dari media. Sebab sebuah organisasi tidak mati ketika dicaci publik. Ia mati ketika anggotanya sendiri berhenti percaya kepada nilai yang selama ini mereka perjuangkan.
Filsuf Prancis 𝗣𝗮𝘂𝗹 𝗥𝗶𝗰œ𝘂𝗿 mengingatkan bahwa institusi hanya memiliki legitimasi sejauh ia menjaga kepercayaan. Ketika kepercayaan hilang, aturan tinggal menjadi teks, jabatan tinggal menjadi simbol, dan kemenangan tinggal menjadi angka. Barangkali inilah godaan terbesar setiap organisasi kader.
Pada awalnya, organisasi dibangun oleh cita-cita. Lalu cita-cita melahirkan gerakan. Gerakan melahirkan struktur. Struktur melahirkan kekuasaan. Dan sering kali, tanpa disadari, kekuasaan mulai merasa lebih penting daripada cita-cita yang melahirkannya.
Di titik itulah organisasi mulai kehilangan arah. Yang diperebutkan bukan lagi pengabdian, melainkan posisi. Yang dipertahankan bukan lagi nilai, melainkan kelompok. Yang dirawat bukan lagi persaudaraan, melainkan kemenangan. Padahal kemenangan politik hanyalah peristiwa.Integritas adalah warisan.
PMKRI sejak kelahirannya tidak pernah dimaksudkan menjadi pabrik elite. Ia adalah ruang pembentukan manusia. Manusia yang mampu berdialog sebelum memutuskan. Mendengar sebelum menghakimi.Merangkul sebelum menyingkirkan. Dan mengalahkan ego sebelum mengalahkan lawan.
Kalau semua itu mulai memudar, sesungguhnya yang sedang mengalami krisis bukan mekanisme kongres. Yang sedang mengalami krisis adalah kebudayaan organisasi. Dan krisis kebudayaan tidak pernah selesai hanya dengan memilih ketua baru.
Sebagai alumni, saya justru merasa inilah saat yang tepat untuk melakukan pertobatan organisasi. Ya, pertobatan. Sebab organisasi, sebagaimana manusia, juga bisa jatuh ke dalam kesombongan. Merasa selalu benar. Merasa kritik adalah ancaman. Padahal dalam tradisi intelektual yang sehat, kritik adalah bentuk kasih yang paling dewasa.
Saya membayangkan para pendiri PMKRI seandainya duduk diam mengamati setiap dinamika kongres hari ini. Barangkali mereka tidak akan pertama-tama bertanya siapa yang terpilih. Mereka mungkin hanya akan mengajukan satu pertanyaan sederhana. “Apakah kalian masih saling memanggil sebagai saudara? Apakah kita masih layak menyebut diri sebagai organisasi kader, jika kader yang kita bentuk tidak lagi menjadikan etika sebagai wajah pertamanya?”
Saya percaya PMKRI masih memiliki kesempatan untuk memulihkan dirinya. Tetapi pemulihan itu tidak dimulai dari konferensi pers. Tidak pula dari saling menyalahkan. Pemulihan dimulai dari keberanian mengatakan: “Jika ada yang keliru, kita akan memperbaikinya.”
Kita berharap dan masih percaya bahwa Kongres XXXIV PMKRI yang telah berlangsung di Ruteng , Kabupaten Manggarai, Flores – NTT sejak 19-25 Juli 2026 menghasilkan sejumlah catatan penting untuk diperjuangkan lebih lanjut sebagai bagian kontribusi positif bagi kebaikan hidup bersama dalam wadah NKRI.***












