ISTANA NETIZEN.com – Jakarta ,Sabtu, 30 Mei 2026
Orang Indonesia Lembut di Lingkup Pribadi, Keras di Ruang Publik
“Orang Indonesia tumbuh dengan ajaran lembut: menghormati yang tua, ringan tangan pada tetangga, ramah pada tamu asing. Kita pandai tersenyum, menjaga perasaan, dan menolong sesama,” tulis Yudi Latif dalam opininya berjudul “Dua Wajah Indonesia” , Rabu, 27 Mei 2026.
“Tetapi ada yang ganjil. Kelembutan itu sering berhenti di pagar rumah dan lingkar kelompok sendiri. Begitu memasuki ruang publik, wajah kita berubah.”
Yudi menyebut di jalan orang saling serobot, dalam politik saling jegal, hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. “Hak publik dirampas, identitas dapat berubah jadi korek api. Kita hangat dalam hubungan personal, tetapi dingin terhadap kepentingan bersama.”
Residu Kolonial: Loyal pada Kelompok, Abai pada Ruang Publik
Wajah mendua ini, menurut Yudi, mungkin sebagian merupakan residu kolonialisme. “Ruang publik dahulu berada di bawah otoritas asing, sementara rakyat pribumi bertahan dalam orbit komunitasnya sendiri, yang kerap berseberangan dengan negara. Akibatnya, loyalitas kepada kelompok terasa lebih nyata daripada tanggung jawab terhadap ruang publik bersama.”
Karena itu, kata dia, kita lebih banyak dididik menjadi “orang baik” dalam komunitas, bukan menjadi warga negara dewasa. “Kesopanan kita komunal, belum sepenuhnya sipil. Kita tahu menjaga perasaan orang yang dikenal, tetapi belum terbiasa menghormati hak orang secara impersonal.”
Santun ke Tamu, Kejam ke Sarana Publik
“Lahirlah watak sosial yang aneh: santun kepada tamu, tetapi kejam merusak sarana publik; fasih bicara moral, tapi permisif pada rasuah; tekankan kepentingan umum, tapi jabatan menjadi warisan keluarga; ramah dalam percakapan, tetapi ugal-ugalan di jalanan,” tegas Yudi.
“Kebaikan masih dipahami sebagai urusan hati, bukan tanggung jawab bersama.”
Peradaban Dibangun Disiplin, Bukan Keramahan Semata
Yudi menegaskan, peradaban dibangun bukan oleh keramahan semata. “Melainkan oleh disiplin terhadap hukum, aturan, integritas, rasa bersalah dan malu ketika merugikan publik. Bangsa besar tidak diukur dari kesantunan saat berbicara, melainkan dari ketertiban saat tidak diawasi.”
“Indonesia tidak kekurangan orang baik. Yang masih kurang adalah warga negara yang sadar bahwa kebaikan pribadi belum tentu melahirkan keadaban publik.”
Butuh Didikan Beradab di Ruang Publik
“Kita perlu mendidik manusia Indonesia bukan hanya agar sopan, tetapi juga agar beradab dalam ruang publik. Tanpa keadaban publik, keramahan hanya akan menjadi topeng indah di wajah masyarakat yang diam-diam saling melukai,” pungkas Yudi.

Penulis /Editor : Tim Redaksi Istananetizen. com













