• TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
ISTANANETIZEN.COM
  • HOME
  • OPINI
  • BERITA
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • HUKUM DAN KRIMINAL
No Result
View All Result
  • HOME
  • OPINI
  • BERITA
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • HUKUM DAN KRIMINAL
No Result
View All Result
ISTANANETIZEN.COM
No Result
View All Result
  • HOME
  • OPINI
  • BERITA
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • HUKUM DAN KRIMINAL

Beranda » Rudi Sinaba Sorot Bahaya Kronigarki: Meritokrasi Kalah oleh Relasi dan Modal

Rudi Sinaba Sorot Bahaya Kronigarki: Meritokrasi Kalah oleh Relasi dan Modal

Istana Netizen by Istana Netizen
Juni 8, 2026
in LAINNYA
0
Rudi Sinaba Sorot Bahaya Kronigarki: Meritokrasi Kalah oleh Relasi dan Modal
0
SHARES
14
VIEWS

Jakarta, Istana Netizen, Com, Senin 8 Juni 2026 – Pengamat Rudi Sinaba mengingatkan bahaya “kronigarki” yang menggerus meritokrasi di tubuh negara. Lewat tulisannya yang diunggah Minggu 7 Juni 2026, Rudi membedah bagaimana relasi dan modal kini lebih menentukan jabatan strategis ketimbang kompetensi.

BACAJUGA

” BNPB GANDENG OMBUDSMAN RI KAWAL BANTUAN UNTUK KORBAN GEMPA FLORES: “PASTIKAN TIDAK ADA YANG TERTINGGAL”

Gempa Guncang Manggarai: 53 Warga Meninggal, 22 Ribu Lebih Mengungsi

Atap Terpal Jadi Kelas: Guru PPPK di Manggarai Tetap Mengajar 19 Murid di Tengah Puing Gempa Flores 

Idealnya Jabatan Publik Berbasis Meritokrasi

Rudi membuka analisisnya dengan menyebut standar negara modern.

“Salah satu indikator penting kualitas sebuah negara modern adalah bagaimana negara tersebut memilih dan menempatkan orang-orang dalam jabatan strategis. Dalam teori administrasi publik, jabatan publik idealnya diberikan berdasarkan meritokrasi, yaitu kompetensi, integritas, pengalaman, dan kapasitas profesional,” tulisnya.

Kronisme Berkembang Jadi Kronigarki

Namun, realitas politik jauh berbeda.

“Di banyak negara berkembang, termasuk yang sedang mengalami konsolidasi demokrasi, muncul gejala yang oleh para ilmuwan politik disebut sebagai kronisme, yaitu kecenderungan memberikan akses terhadap jabatan, proyek, dan sumber daya negara kepada orang-orang yang memiliki kedekatan dengan pusat kekuasaan,” jelas Rudi. “Ketika kronisme berkembang secara sistemik dan berkelindan dengan konsentrasi kekuasaan ekonomi maupun politik, lahirlah suatu fenomena yang secara satir dapat disebut sebagai kronigarki: perpaduan antara kroni dan oligarki.”

Legitimasi Pengangkatan Bergeser ke Loyalitas

Bagi Rudi, inti masalah kronigarki bukan sekadar siapa dapat jabatan.

“Kronigarki bukan sekadar persoalan siapa memperoleh jabatan. Masalah utamanya terletak pada bergesernya dasar legitimasi pengangkatan pejabat. Kompetensi perlahan kehilangan posisi sentralnya, sementara loyalitas politik dan kedekatan personal memperoleh nilai yang semakin dominan,” tegasnya.

Kronigarki Bekerja Lewat Jaringan Kedekatan

Ia mendefinisikan kronigarki lebih rinci.

“Istilah kronigarki dalam tulisan ini digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan ketika oligarki tidak lagi bekerja semata-mata melalui konsentrasi modal dan kekuasaan ekonomi, tetapi juga melalui jaringan kedekatan personal, loyalitas politik, hubungan keluarga, relasi bisnis, serta ikatan patronase yang mengelilingi pusat kekuasaan,” tulis Rudi. “Dalam kronigarki, akses terhadap jabatan dan sumber daya publik tidak selalu ditentukan oleh kapasitas terbaik yang tersedia, melainkan oleh posisi seseorang dalam lingkaran kedekatan tersebut.”

Beroperasi di Balik Legalitas Formal

Menurut Rudi, kronigarki lebih sulit dikenali dibanding oligarki klasik.

“Berbeda dengan oligarki klasik yang bertumpu pada dominasi kelompok elite ekonomi, kronigarki memiliki karakter yang lebih lentur dan sulit dikenali. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk pelanggaran hukum yang kasat mata, melainkan bekerja melalui mekanisme yang secara formal tampak sah dan prosedural,” paparnya. “Pengangkatan pejabat tetap dilakukan melalui keputusan resmi, proses seleksi tetap berlangsung, dan institusi tetap berjalan. Namun pada saat yang sama, publik sering merasakan bahwa hasil akhirnya cenderung mengarah pada kelompok orang yang itu-itu juga.”

Publik Nilai Afiliasi, Bukan Kapasitas

Dampaknya, penilaian publik ikut bergeser.

“Dalam situasi demikian, masyarakat tidak lagi menilai seseorang berdasarkan kapasitasnya, melainkan berdasarkan afiliasinya,” ungkap Rudi.

“Pertanyaan publik pun berubah. Yang semula berbunyi: ‘Apakah orang ini mampu menjalankan tugasnya?’ bergeser menjadi: ‘Orang ini sebenarnya dekat dengan siapa?’”

Kedekatan Jadi Masalah Saat Kalahkan Kompetensi

Rudi tidak anti terhadap kedekatan politik.

“Secara teoritis, kedekatan politik bukanlah sesuatu yang otomatis salah. Dalam sistem demokrasi, setiap pemerintahan tentu membutuhkan orang-orang yang memiliki kesamaan visi dan komitmen terhadap program yang akan dijalankan,” tulisnya.

“Namun persoalan muncul ketika kedekatan berubah menjadi faktor dominan yang mengalahkan pertimbangan kompetensi dan integritas. Pada titik itu, jabatan publik tidak lagi dipersepsikan sebagai amanah negara, melainkan sebagai bentuk distribusi hadiah politik.”

Empat Konsekuensi Serius Kronigarki

Fenomena ini membawa risiko nyata.

“Pertama, kualitas tata kelola pemerintahan berpotensi menurun karena proses seleksi tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada kemampuan profesional,” kata Rudi.

“Kedua, pengawasan internal menjadi lemah karena hubungan personal sering kali menciptakan konflik kepentingan. Ketiga, budaya kritik berangsur-angsur tergantikan oleh budaya loyalitas. Dan keempat, peluang terjadinya korupsi meningkat karena jaringan kekuasaan cenderung saling melindungi.”

Skeptisisme Publik Lahir dari Pengalaman Kolektif

Akibatnya, publik jadi skeptis sejak awal.

“Tidak mengherankan jika dalam kondisi seperti itu masyarakat mulai memandang setiap pejabat baru dengan skeptisisme. Bahkan sebelum seseorang bekerja, publik telah lebih dahulu menelusuri hubungan politik, kedekatan personal, afiliasi bisnis, atau keterkaitannya dengan kelompok penguasa,” jelas Rudi.

“Fenomena ini sebenarnya bukan semata-mata bentuk sinisme publik. Dalam perspektif sosiologi politik, sikap tersebut sering lahir dari akumulasi pengalaman kolektif yang berulang.”

Menggerus Modal Sosial Kepercayaan

Pada tahap lanjut, kronigarki merusak kepercayaan. “Pada tahap tertentu, kronigarki menghasilkan dampak yang lebih berbahaya daripada sekadar inefisiensi birokrasi. Ia menggerus modal sosial berupa kepercayaan publik,” tulis Rudi. “Rakyat mulai kehilangan keyakinan bahwa kerja keras, prestasi, dan kapasitas merupakan jalan menuju posisi strategis. Sebaliknya, mereka melihat akses terhadap kekuasaan lebih ditentukan oleh jaringan, relasi, dan kedekatan.”

Generasi Muda Tak Lagi Incar Kompetensi Terbaik

Jika dibiarkan, dampaknya ke masa depan.

“Jika persepsi seperti ini terus berkembang, maka meritokrasi akan kehilangan daya tarik sosialnya. Generasi muda tidak lagi terdorong untuk menjadi yang terbaik, melainkan terdorong untuk menjadi yang terdekat,” tegasnya.

Ancaman: Negara Berbasis Jaringan, Bukan Institusi

Rudi menyebut ini ancaman terbesar.

“Di sinilah letak ancaman terbesar kronigarki. Ia tidak hanya merusak kualitas pemerintahan hari ini, tetapi juga merusak budaya politik masa depan. Sebab ketika kedekatan menjadi mata uang utama dalam distribusi kekuasaan, negara perlahan bergerak dari pemerintahan berbasis institusi menuju pemerintahan berbasis jaringan,” paparnya.

Negara Sehat Butuh Loyalitas pada Konstitusi

Ia membandingkan dua model negara

“Negara yang sehat membutuhkan loyalitas terhadap konstitusi, hukum, dan kepentingan publik,” tulis Rudi.

“Sebaliknya, negara kronigarki cenderung menempatkan loyalitas kepada kelompok sebagai syarat utama memperoleh akses kekuasaan.”

Pertanyaan Mendasar: Sistem Terbuka atau Lingkaran Tertutup

Karena itu, debat soal kronisme sangat fundamental.

“Karena itu, perdebatan mengenai kronisme sesungguhnya bukan sekadar perdebatan tentang siapa yang menduduki jabatan tertentu,” kata Rudi.

“Perdebatan tersebut menyangkut pertanyaan yang jauh lebih mendasar: Apakah negara ini sedang dikelola oleh sistem yang terbuka bagi talenta terbaik, atau oleh lingkaran kekuasaan yang hanya terbuka bagi mereka yang memiliki kedekatan?”

Keadilan dan Kesempatan Setara Tentukan Nasib Demokrasi

Rudi menutup dengan peringatan sejarah.

“Jawaban atas pertanyaan itulah yang pada akhirnya akan menentukan kualitas demokrasi, efektivitas pemerintahan, dan tingkat kepercayaan rakyat terhadap negara,” tulisnya.

“Sebab sejarah menunjukkan bahwa negara tidak runtuh hanya karena kekurangan sumber daya. Banyak negara justru melemah ketika rakyat kehilangan keyakinan bahwa institusi publik masih bekerja berdasarkan keadilan, kompetensi, dan kesempatan yang setara bagi semua warga negara.”

Penulis / Editor : Tim Redaksi Istana Netizen

Previous Post

Hukum dan Politik di Ruteng Memanas, Yance Janggat: Popularitas Hery Nabit Tak Tergoyahkan !

Next Post

Elias Dabur Geram: Kasus Edi-Hery Dibajak Ego Pengacara, Kebenaran Materiil Dikubur Olok-Olok

Istana Netizen

Istana Netizen

POSTERKAIT

” BNPB GANDENG OMBUDSMAN RI KAWAL BANTUAN UNTUK KORBAN GEMPA FLORES: “PASTIKAN TIDAK ADA YANG TERTINGGAL”

” BNPB GANDENG OMBUDSMAN RI KAWAL BANTUAN UNTUK KORBAN GEMPA FLORES: “PASTIKAN TIDAK ADA YANG TERTINGGAL”

September 6, 2026
Gempa Guncang Manggarai: 53 Warga Meninggal, 22 Ribu Lebih Mengungsi

Gempa Guncang Manggarai: 53 Warga Meninggal, 22 Ribu Lebih Mengungsi

September 3, 2026
Atap Terpal Jadi Kelas: Guru PPPK di Manggarai Tetap Mengajar 19 Murid di Tengah Puing Gempa Flores 

Atap Terpal Jadi Kelas: Guru PPPK di Manggarai Tetap Mengajar 19 Murid di Tengah Puing Gempa Flores 

Agustus 25, 2026
VIRAL: “NEGARA PALING RUWET DI DUNIA” – NETIZEN SOROT 7 LEMBAGA NEGARA KENA TUDUH KORUPSI`

VIRAL: “NEGARA PALING RUWET DI DUNIA” – NETIZEN SOROT 7 LEMBAGA NEGARA KENA TUDUH KORUPSI`

Agustus 12, 2026
Kesaksian Megawati 1996: “Yang Pertahankan Rumah Malah Jadi Terdakwa, Penyerang Tak Disentuh Hukum”

Kesaksian Megawati 1996: “Yang Pertahankan Rumah Malah Jadi Terdakwa, Penyerang Tak Disentuh Hukum”

Juli 23, 2026
Luruskan Sejarah BGN: Prabowo Tegaskan Badan Gizi Nasional Warisan Jokowi, Bukan Dibentuk di Era-nya

Luruskan Sejarah BGN: Prabowo Tegaskan Badan Gizi Nasional Warisan Jokowi, Bukan Dibentuk di Era-nya

Juli 23, 2026
Next Post
Elias Dabur Geram: Kasus Edi-Hery Dibajak Ego Pengacara, Kebenaran Materiil Dikubur Olok-Olok

Elias Dabur Geram: Kasus Edi-Hery Dibajak Ego Pengacara, Kebenaran Materiil Dikubur Olok-Olok

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA TERKINI

EDITORIAL: TANGGAP DARURAT USAI, UJIAN SEBENARNYA BARU DIMULAI

EDITORIAL: TANGGAP DARURAT USAI, UJIAN SEBENARNYA BARU DIMULAI

September 12, 2026
GEMPA INI ALARM KERAS: GUBERNUR MELKI SURUH 7 KABUPATEN BANGUN FLORES YANG LEBIH TEGAR

GEMPA INI ALARM KERAS: GUBERNUR MELKI SURUH 7 KABUPATEN BANGUN FLORES YANG LEBIH TEGAR

September 12, 2026
TANGGAP DARURAT DITUTUP 11 SEPTEMBER, 13.296 RUMAH DI MABAR MASUK BABAK PEMULIHAN

TANGGAP DARURAT DITUTUP 11 SEPTEMBER, 13.296 RUMAH DI MABAR MASUK BABAK PEMULIHAN

September 11, 2026
RUSAK 19% TAK DAPAT BANTUAN? 169 DESA DI MABAR + 7 KABUPATEN DI FLORES KECEWA

RUSAK 19% TAK DAPAT BANTUAN? 169 DESA DI MABAR + 7 KABUPATEN DI FLORES KECEWA

September 11, 2026
“JANGAN MENYERAH!” DI TENGAH PUING: GUBERNUR MELKI SAPA SISWA BORONG KORBAN GEMPA

“JANGAN MENYERAH!” DI TENGAH PUING: GUBERNUR MELKI SAPA SISWA BORONG KORBAN GEMPA

September 10, 2026
DIKRITIK DI PARIPURNA: KETUA KOMISI IV DPRD NTT SOAL PENANGANAN BENCANA “HANYA JADI JEMBATAN”

DIKRITIK DI PARIPURNA: KETUA KOMISI IV DPRD NTT SOAL PENANGANAN BENCANA “HANYA JADI JEMBATAN”

September 10, 2026

BERITA TERPOPULER

  • KENAPA DOMINAN GEMPA ADA DI RUTENG – KUWUS ? INI 3 FAKTOR UTAMA BERDASARKAN DATA USGS

    KENAPA DOMINAN GEMPA ADA DI RUTENG – KUWUS ? INI 3 FAKTOR UTAMA BERDASARKAN DATA USGS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapan Gempa Flores Berakhir? BMKG Ungkap Perkiraan Waktu Gempa Susulan Berhenti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • JANGAN TUNGGU! MENDAGRI MINTA KADES SE-FLORES KEJAR DATA RUMAH RUSAK DEMI BANTUAN CAIR

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAMI JUGA KORBAN! Camat Lamba Leda Utara Bongkar Diskriminasi Bantuan Gempa Flores 7,7

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Baru Saja! Gempa 5.7 SR Guncang Laut Flores Dekat Labuhanbajo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

KATEGORI

  • BERITA
  • DAERAH
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • INTERNASIONAL
  • LAINNYA
  • NASIONAL
  • OPINI
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA SIBER

Copyright © 2026 ISTANANETIZEN.COM. All Rights Reserved - Created by Rumah Media Cyber.

No Result
View All Result
  • HOME
  • OPINI
  • BERITA
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • HUKUM DAN KRIMINAL

Copyright © 2026 ISTANANETIZEN.COM. All Rights Reserved - Created by Rumah Media Cyber.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In