Istana Netizen.com, Mbay – Gempa M7,7 Nagekeo, 15 Agustus 2026, bukan peristiwa tunggal. Para ahli geologi dunia sudah lama mencatat Pulau Flores sebagai salah satu titik paling “berisik” di Cincin Api Pasifik.
Lalu apa kata sains tentang penyebabnya?
1. Zona Subduksi Sunda-Banda: “Mesin Gempa” Terbesar di Asia Tenggara
Menurut USGS – Survei Geologi Amerika Serikat dan Ahli Tektonik dari ETH Zurich selatan Flores adalah zona subduksi aktif.
Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia sepanjang Palung Jawa hingga ke Laut Banda. Di segmen Flores, sudut penunjaman lebih landai dan penuh segmen patahan.

Prof. Kerry Sieh, ahli tektonik dari California Institute of Technology, menyebut wilayah ini _“tempat energi tektonik menumpuk paling cepat di luar Jepang dan Chili”_. Ketika lempeng terkunci lalu slip, energinya dilepas sebagai gempa besar seperti M7,7 kemarin.
2. Sesar Flores: Sesar Geser Aktif Terpanjang di Indonesia Timur
Laporan BMKG yang merujuk jurnal _Tectonophysics_ dan penelitian Prof. Irsyam dari ITB bersama USGS menyebutkan adanya Flores Back Arc Thrust.
Ini bukan sekadar sesar biasa. Ini adalah sistem patahan naik sepanjang 500 km dari Lombok sampai Alor. Fungsinya: menahan dorongan dari subduksi di selatan.
Dr. Phil Cummins dari Australian National University menyebut Sesar Flores sebagai _”the most dangerous fault in eastern Indonesia“_. Gempa Nagekeo diduga kuat dipicu oleh segmen sesar ini yang bergeser 2-3 meter dalam beberapa detik.
3. Tekanan Busur Belakang dan Magma
Menurut Prof. Stephen Hall dari Royal Holloway University London, Flores juga tertekan dari utara oleh pergerakan mikro-lempeng Laut Sulawesi. Ditambah lagi, ada aktivitas magma dari 14 gunung api aktif di Flores.
Kombinasi tekanan dari selatan, utara, dan dorongan magma dari bawah membuat kerak bumi di Flores seperti “ditekan dari 3 arah”. Hasilnya: rapuh dan mudah retak.
4. Tanah Muda dan Topografi Terjal Memperparah Dampak
Ahli Geoteknik dari Kyoto University dalam riset pascagempa Lombok 2018 mencatat: pulau-pulau di Nusa Tenggara memiliki lapisan tanah vulkanik yang masih muda dan tidak padat.
Saat diguncang, tanah ini mudah amplifikasi. Artinya guncangan M6 bisa terasa seperti M7 di permukaan. Ditambah tebing dan lembah, maka longsor seperti di Desa Waka jadi tidak terhindarkan.
Kesimpulan Para Ahli:
Flores tidak bisa “disembuhkan” dari gempa. Karena gempa adalah cara bumi melepaskan energi.
Yang bisa kita lakukan, kata Dr. Lucy Jones – ahli seismologi USGS, adalah: _“Build with the earthquake in mind, not against it.”_
Artinya: bangun rumah tahan gempa, tata ruang berbasis mitigasi, dan edukasi warga.
Gempa M7,7 Nagekeo adalah pengingat dari bumi. Bahwa kita tinggal di atas laboratorium geologi terbesar di dunia.
Bumi bergerak. Manusia harus beradaptasi dengan ilmu dan rendah hati.
Reporter : YT
Editor : AJ














