• TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
ISTANANETIZEN.COM
  • HOME
  • OPINI
  • BERITA
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • HUKUM DAN KRIMINAL
No Result
View All Result
  • HOME
  • OPINI
  • BERITA
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • HUKUM DAN KRIMINAL
No Result
View All Result
ISTANANETIZEN.COM
No Result
View All Result
  • HOME
  • OPINI
  • BERITA
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • HUKUM DAN KRIMINAL

Beranda » Hari Lahir Pancasila 2026: Yudi Latif Sebut “Pancasila Terluka oleh yang Mengaku Paling Mencintainya”, Netizen: “Nampol !”

Hari Lahir Pancasila 2026: Yudi Latif Sebut “Pancasila Terluka oleh yang Mengaku Paling Mencintainya”, Netizen: “Nampol !”

Istana Netizen by Istana Netizen
Juni 1, 2026
in LAINNYA
0
Hari Lahir Pancasila 2026: Yudi Latif Sebut “Pancasila Terluka oleh yang Mengaku Paling Mencintainya”, Netizen: “Nampol !”
0
SHARES
35
VIEWS

ISTANA NETIZEN.com – Budayawan Yudi Latif melontarkan kritik tajam kepada elite negeri dalam momentum Hari Lahir Pancasila, Senin 1 Juni 2026. Lewat opini bertajuk _“Lima Sila, Lima Luka”_, Yudi menilai Pancasila kini lebih banyak jadi hiasan ketimbang dijalankan.“Saudaraku, Pancasila tidak terancam oleh mereka yang membencinya. Ia lebih terluka oleh mereka yang mengaku paling mencintainya,” tulis Yudi dalam naskahnya, Senin pagi (1/6/2026).

Menurut Yudi, setiap 1 Juni bangsa Indonesia rutin mengenang kelahiran Pancasila, namun jarang mengevaluasi nasibnya. Ia menyoroti kontras antara simbol dan praktik. “Pancasila terpajang di dinding; korupsi berakar dalam sistem. Pancasila dibacakan dalam upacara; keadilan mengantre di pintu kuasa. Pancasila menjadi slogan pidato; rakyat kerap hanya pelengkap penderita,” tegasnya.

BACAJUGA

” BNPB GANDENG OMBUDSMAN RI KAWAL BANTUAN UNTUK KORBAN GEMPA FLORES: “PASTIKAN TIDAK ADA YANG TERTINGGAL”

Gempa Guncang Manggarai: 53 Warga Meninggal, 22 Ribu Lebih Mengungsi

Atap Terpal Jadi Kelas: Guru PPPK di Manggarai Tetap Mengajar 19 Murid di Tengah Puing Gempa Flores 

Yudi juga menyindir inkonsistensi para pemangku kebijakan. “Di atas mimbar, persatuan dielukan. Di lapangan, perpecahan dipanen sebagai modal politik. Di sekolah, anak-anak diajari bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Dalam praktik, rakyat sering dicari hanya ketika suaranya dibutuhkan,” tulisnya.

Bagi mantan Kepala BPIP itu, persoalan utama bukan pada rakyat. “Kita tidak kekurangan orang yang berbicara Pancasila. Yang langka adalah mereka yang rela kehilangan privilese demi menjalankannya. Sebab cinta kepada Pancasila tidak diukur dari kerasnya suara, melainkan dari keberanian menghidupkannya,” ujar Yudi.

Karena itu, ia mengajukan pertanyaan reflektif di Hari Lahir Pancasila. “Maka pada Hari Lahir Pancasila, pertanyaan pentingnya bukan: ‘Apakah rakyat masih percaya kepada Pancasila?’ Melainkan: ‘Apakah para pemegang kuasa masih takut mengkhianatinya?’”

Yudi menyebut krisis terbesar bangsa terjadi saat elite kehilangan rasa malu. Ia memaparkan cirinya: “ketika jabatan dianggap warisan, hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, kritik diperlakukan sebagai ancaman, dan kekuasaan lebih sibuk menjaga diri daripada melayani negeri. Saat itulah Pancasila berubah dari kompas menjadi dekorasi.”

Solusi yang ditawarkan Yudi bukan seremoni. “Yang dibutuhkan bukan lebih banyak seremoni, baliho, atau pidato, melainkan keteladanan: hukum yang tak memilih nama, jabatan yang tak melayani keluarga, kekuasaan yang mau dikoreksi, dan pemimpin yang lebih suka mendengar daripada haus pujian,” tulisnya.

Yudi menutup opininya dengan menegaskan bahwa Pancasila tidak menuntut kesempurnaan. “Pancasila tidak meminta Indonesia menjadi sempurna. Ia hanya meminta bangsa ini terus mendekati cita-citanya: ketuhanan yang melampaui simbol, kemanusiaan yang melampaui belas kasihan, persatuan tanpa pembungkaman, demokrasi yang lebih dari prosedur, dan keadilan yang bukan hak istimewa.”

“Bangsa jarang runtuh karena kekurangan semboyan. Ia retak ketika nilai dipuja dalam pidato, diabaikan dalam praktek. Dan Pancasila, barangkali, tidak sedang meminta diperingati. Ia sedang menunggu dijalankan,” pungkasnya.

Reaksi Warganet dan Pejabat

Opini Yudi langsung ramai di media sosial sesaat setelah dirilis pagi ini. Tagar #LimaSilaLimaLuka dan #PancasilaDijalankan# jadi trending di X.

Banyak warganet mengamini kritik Yudi. Akun @rakyat_biasa menulis, _“Nampol banget. Merinding bacanya. Ini baru refleksi 1 Juni”_. Sementara @mahasiswa_hukum berkomentar, _“Hukum tajam ke bawah tumpul ke atas. Relate.”_

Di sisi lain, sejumlah pejabat menanggapi normatif. Pejabat di lingkungan  Istana yang dihubungi https://istananetizen.com dan meminta namanya tidak dimediakan menyatakan pemerintah sejalan dengan semangat Yudi. “Presiden selalu menekankan bahwa Pancasila harus hadir dalam kerja nyata, bukan hanya upacara. Kritik Pak Yudi jadi pengingat untuk kita semua,” ujarnya.

Anggota DPR dari Komisi II juga meminta namanya dirahasiakan menyebut opini itu sebagai _“autokritik bersama”_. “Tidak ada yang anti-kritik. Justru momentum 1 Juni harus dipakai evaluasi total,” katanya tanpa merinci langkah konkret.

Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan langsung dari Ketua BPIP atau Menko Polhukam terkait substansi _“elite kehilangan rasa malu”_ yang disebut Yudi.

Opini _“Lima Sila, Lima Luka”_ ditulis Yudi Latif khusus untuk peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026. Naskah aslinya beredar di kalangan akademisi dan aktivis sebelum dipublikasikan media.

Penulis/ Editor: Istana Netizen Com

Previous Post

DPRD Mabar Pertanyakan Rantai Pasok Pariwisata: Petani Belum Nikmati Cuan dari Piring Wisatawan Labuan Bajo

Next Post

Yudi Latif Usulkan Demokrasi Fungsional: Parlemen Diisi Wakil Petani, Buruh, Guru, Bukan Lagi Dominasi Partai.

Istana Netizen

Istana Netizen

POSTERKAIT

” BNPB GANDENG OMBUDSMAN RI KAWAL BANTUAN UNTUK KORBAN GEMPA FLORES: “PASTIKAN TIDAK ADA YANG TERTINGGAL”

” BNPB GANDENG OMBUDSMAN RI KAWAL BANTUAN UNTUK KORBAN GEMPA FLORES: “PASTIKAN TIDAK ADA YANG TERTINGGAL”

September 6, 2026
Gempa Guncang Manggarai: 53 Warga Meninggal, 22 Ribu Lebih Mengungsi

Gempa Guncang Manggarai: 53 Warga Meninggal, 22 Ribu Lebih Mengungsi

September 3, 2026
Atap Terpal Jadi Kelas: Guru PPPK di Manggarai Tetap Mengajar 19 Murid di Tengah Puing Gempa Flores 

Atap Terpal Jadi Kelas: Guru PPPK di Manggarai Tetap Mengajar 19 Murid di Tengah Puing Gempa Flores 

Agustus 25, 2026
VIRAL: “NEGARA PALING RUWET DI DUNIA” – NETIZEN SOROT 7 LEMBAGA NEGARA KENA TUDUH KORUPSI`

VIRAL: “NEGARA PALING RUWET DI DUNIA” – NETIZEN SOROT 7 LEMBAGA NEGARA KENA TUDUH KORUPSI`

Agustus 12, 2026
Kesaksian Megawati 1996: “Yang Pertahankan Rumah Malah Jadi Terdakwa, Penyerang Tak Disentuh Hukum”

Kesaksian Megawati 1996: “Yang Pertahankan Rumah Malah Jadi Terdakwa, Penyerang Tak Disentuh Hukum”

Juli 23, 2026
Luruskan Sejarah BGN: Prabowo Tegaskan Badan Gizi Nasional Warisan Jokowi, Bukan Dibentuk di Era-nya

Luruskan Sejarah BGN: Prabowo Tegaskan Badan Gizi Nasional Warisan Jokowi, Bukan Dibentuk di Era-nya

Juli 23, 2026
Next Post
Yudi Latif Usulkan Demokrasi Fungsional: Parlemen Diisi Wakil Petani, Buruh, Guru, Bukan Lagi Dominasi Partai.

Yudi Latif Usulkan Demokrasi Fungsional: Parlemen Diisi Wakil Petani, Buruh, Guru, Bukan Lagi Dominasi Partai.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA TERKINI

EDITORIAL: TANGGAP DARURAT USAI, UJIAN SEBENARNYA BARU DIMULAI

EDITORIAL: TANGGAP DARURAT USAI, UJIAN SEBENARNYA BARU DIMULAI

September 12, 2026
GEMPA INI ALARM KERAS: GUBERNUR MELKI SURUH 7 KABUPATEN BANGUN FLORES YANG LEBIH TEGAR

GEMPA INI ALARM KERAS: GUBERNUR MELKI SURUH 7 KABUPATEN BANGUN FLORES YANG LEBIH TEGAR

September 12, 2026
TANGGAP DARURAT DITUTUP 11 SEPTEMBER, 13.296 RUMAH DI MABAR MASUK BABAK PEMULIHAN

TANGGAP DARURAT DITUTUP 11 SEPTEMBER, 13.296 RUMAH DI MABAR MASUK BABAK PEMULIHAN

September 11, 2026
RUSAK 19% TAK DAPAT BANTUAN? 169 DESA DI MABAR + 7 KABUPATEN DI FLORES KECEWA

RUSAK 19% TAK DAPAT BANTUAN? 169 DESA DI MABAR + 7 KABUPATEN DI FLORES KECEWA

September 11, 2026
“JANGAN MENYERAH!” DI TENGAH PUING: GUBERNUR MELKI SAPA SISWA BORONG KORBAN GEMPA

“JANGAN MENYERAH!” DI TENGAH PUING: GUBERNUR MELKI SAPA SISWA BORONG KORBAN GEMPA

September 10, 2026
DIKRITIK DI PARIPURNA: KETUA KOMISI IV DPRD NTT SOAL PENANGANAN BENCANA “HANYA JADI JEMBATAN”

DIKRITIK DI PARIPURNA: KETUA KOMISI IV DPRD NTT SOAL PENANGANAN BENCANA “HANYA JADI JEMBATAN”

September 10, 2026

BERITA TERPOPULER

  • KENAPA DOMINAN GEMPA ADA DI RUTENG – KUWUS ? INI 3 FAKTOR UTAMA BERDASARKAN DATA USGS

    KENAPA DOMINAN GEMPA ADA DI RUTENG – KUWUS ? INI 3 FAKTOR UTAMA BERDASARKAN DATA USGS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapan Gempa Flores Berakhir? BMKG Ungkap Perkiraan Waktu Gempa Susulan Berhenti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • JANGAN TUNGGU! MENDAGRI MINTA KADES SE-FLORES KEJAR DATA RUMAH RUSAK DEMI BANTUAN CAIR

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAMI JUGA KORBAN! Camat Lamba Leda Utara Bongkar Diskriminasi Bantuan Gempa Flores 7,7

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Baru Saja! Gempa 5.7 SR Guncang Laut Flores Dekat Labuhanbajo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

KATEGORI

  • BERITA
  • DAERAH
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • INTERNASIONAL
  • LAINNYA
  • NASIONAL
  • OPINI
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA SIBER

Copyright © 2026 ISTANANETIZEN.COM. All Rights Reserved - Created by Rumah Media Cyber.

No Result
View All Result
  • HOME
  • OPINI
  • BERITA
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • HUKUM DAN KRIMINAL

Copyright © 2026 ISTANANETIZEN.COM. All Rights Reserved - Created by Rumah Media Cyber.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In