MAKASSAR, ISTANETIZEN.COM –
Oleh: Rudi Sinaba
Prolog: Ramalan di Atas Podium
29 Juli 2026. Di acara pelantikan Pamong Praja Muda IPDN, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan optimisme besar.
Presiden menyebut semua pakar dunia meramalkan Indonesia akan menjadi ekonomi terbesar ke-4 dunia dalam 25 tahun ke depan. Posisi kita akan melampaui Jerman, Prancis, dan Inggris

Pernyataan itu langsung mengundang sorotan.
Bukan karena Indonesia tidak boleh bermimpi besar. Justru kita punya modalnya: penduduk 280 juta, SDA melimpah, posisi geografis strategis, pasar domestik luas, dan bonus demografi.
Persoalannya satu: Apakah masa depan sebesar itu cukup dibangun dengan sebuah ramalan?
Goldman Sachs Bilang “Bisa”, Tapi Ada Kata “JIKA”
Benar, Goldman Sachs memang pernah memproyeksikan Indonesia jadi ekonomi ke-4 dunia pada 2050. Tapi forecast itu bukan janji. Apalagi takdir.
Forecast adalah proyeksi di atas tumpukan asumsi.
Pertumbuhan harus panjang. Produktivitas naik. SDM berkualitas. Investasi deras. Industrialisasi jalan. Teknologi dikuasai. Institusi kuat. Hukum pasti. Dan negara punya kebijakan yang mengubah potensi jadi produktivitas.
Kata yang sering hilang saat forecast dibawa ke podium politik adalah: JIKA.
Jika pendidikan membaik.
Jika industri naik kelas.
Jika teknologi dikuasai.
Jika tata kelola bersih.
Jika setiap rupiah APBN jadi produktivitas.
Maka Indonesia bisa ke sana.
Jadi pertanyaan sebenarnya bukan “Bisakah Indonesia?” Jawabannya: bisa.
Pertanyaan yang lebih penting: “Apakah kebijakan hari ini sedang memenuhi prasyarat itu?”
Antara Ambisi Besar dan Mesin Tata Kelola
Sebuah negara tidak jadi besar karena ramalannya indah. Negara besar karena punya kapasitas mewujudkan masa depan itu.
Kapasitas itu dibangun dari sekolah bermutu, industri produktif, riset kuat, hukum pasti, birokrasi efisien, dan tata kelola bersih.
Lalu kita lihat prioritas kebijakan hari ini: Makan Bergizi Gratis (MBG) dan *lKoperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Tujuan sosialnya penting. MBG untuk gizi dan kualitas manusia. KDMP untuk menggerakkan ekonomi desa.
Tapi ketika skalanya nasional dan anggarannya besar, pertanyaan wajar muncul:
Apakah desain, skala, dan tata kelolanya sudah cukup kuat menjadi bagian dari strategi transformasi ekonomi jangka panjang?
Karena ambisi ekonomi ke-4 dunia butuh lebih dari program besar. Ia butuh governance yang besar pula.
Anggaran besar = pengawasan besar.
Program besar = akuntabilitas besar.
Semakin besar uang negara, semakin besar kebutuhan pada transparansi, efisiensi, dan evaluasi.
Inilah paradoksnya.
Kita bicara ambisi ekonomi raksasa dunia. Tapi di lapangan kita masih lihat persoalan tata kelola di program-program besar.
Analogi: Kendaraan Menuju Masa Depan
Pembangunan ekonomi itu seperti perjalanan panjang.

Forecast adalah tujuan.
Prasyarat adalah jalan.
Kebijakan adalah kendaraan.
Tata kelola* adalah mesinnya.
Kalau mesinnya bermasalah, kendaraan jalan lambat.
Kalau kemudi tidak terkendali, keluar jalur.
Kalau rem blong, bahayakan penumpang.
Kalau bahan bakarnya habis hanya untuk muter di tempat, perjalanannya makin mahal.
Kalau kendaraan menuju masa depan masih bermasalah, bagaimana yakin kita sampai tujuan?
Yang Dibutuhkan Bukan Ramalan, Tapi Roadmap
Saat pemerintah bicara ekonomi ke-4 dunia, publik tidak hanya butuh ramalan. Publik butuh roadmap.
Bagaimana pendidikan ditransformasi?
Bagaimana produktivitas tenaga kerja dilipatgandakan?
Bagaimana industri nasional naik kelas?
Bagaimana kita kuasai teknologi?
Bagaimana riset dan inovasi dibiayai?
Bagaimana korupsi dan kebocoran ditekan?
Bagaimana 1 rupiah APBN melahirkan produktivitas baru?
Itu pertanyaan yang lebih penting daripada mengulang posisi kita di proyeksi Goldman Sachs.
Sebab proyeksi bukan prestasi. Forecast bukan pencapaian. Ramalan bukan roadmap.
Goldman Sachs boleh meramal. Tapi Goldman Sachs tidak akan bangun sekolah kita. Tidak akan perbaiki birokrasi kita. Tidak akan kelola APBN kita. Tidak akan bangun industri kita.
Kitalah yang harus.
Epilog: Pertanyaan yang Belum Bisa Dijawab
Jika Indonesia diproyeksikan jadi ekonomi ke-4 dunia 2050, apa yang sedang kita bangun hari ini agar proyeksi itu benar terjadi?
Jika jawabannya MBG dan KDMP, maka pertanyaan berikutnya:
Apakah dua program itu benar dirancang sebagai strategi transformasi jangka panjang?
Atau kita sedang menjadikan program besar hari ini sebagai kendaraan menuju masa depan yang lebih banyak kita dengar dari ramalan, daripada kita lihat dari roadmap?
Karena _ambisi tanpa strategi adalah slogan.
Forecast tanpa prasyarat adalah ilusi.
Dan ramalan tanpa roadmap hanyalah mimpi yang memakai mikrofon._****
Reporter : AJ
Editor : Redaksi .













